RSS

Arsip Tag: Sastra

MENGENANG LANGKAH

MENGENANG LANGKAH

 

mengenang langkah
berbilang angka
tahun-tahun berguguran

menatap harap
dalam selimut malam
dedaun berguguran

mengenang langkah
di antara gagap
semoga ada harap mengendap

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Februari 2020 inci Lain-lain, Puisi

 

Tag: , ,

Membuka Jendela Langit

Membuka Jendela Langit

 

membuka jendela hati yang paling dalam
kusingkap setiap rasa yang mengendap
rasa yang entah apa, bebutir ingin dan angan
mengintai dalam setiap harap dan dekap

jendela itu tetap membuka, meski dingin sangat menusuk
kita telah ditakdirkan bersama, mengurai setiap makna
menguap di setiap renjana masa berpadu dalam hangat rasa
hanya padamu kusandarkan sisa usia
hanya padamu kugapai harap tersisa
menuju-Nya, dalam kembara jauh leburan dosa

di jendela yang masih membuka
tamparan angin-Nya pudarkan jentera warna yang mendera

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Februari 2020 inci Lain-lain, Puisi

 

Tag: , ,

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 2)

Goenawan mempersoalkan keterasingan diri Si Malin dari lingkungan. Lewat esainya, Goenawan mengungkapkan ketercerabutan Malin dari kultur yang sebelumnya diakrabi begitu ia melakukan migrasi kultural. Wawasan berpikir dan pendidikan adalah salah satu indikator, yang menyebabkan seseorang itu seakan durhaka dan menjadi Malin Kundang.

Di tangan Navis lain lagi. Secara ekstrem, Navis dalam cerpen “Malin Kundang Ibunya Durhaka” (bersinggungan dengan pernyataan Pak Imoe dan Uni Hemma ) seakan menggugat keberadaan seorang ibu. Dia mempertanyakan, apa benar sedemikian tega seorang ibu mengutuk anaknya sendiri. Navis malah menyalahkan sang ibu dan lebih pantas ibu itu yang dicap durhaka.

Demikian pula Wisran Hadi, yang secara menggelitik tidak setuju dengan sebutan durhaka terhadap Malin Kundang. Dalam naskah dramanya Wisran malah membela Malin Kundang dan menganggap wajar bila ia memarahi sang ibu. Persoalannya, si ibu telah kawin lagi dengan lelaki lain dan menggerogoti kekayaan Malin Kundang.

Bagi kritikus sastra Umar Junus, persoalan Malin Kundang lain lagi. Lewat telaahnya (1988: 58-9), dia memandang Malin Kundang dari dua sisi. Pertama, cerita Malin Kundang mengisyaratkan ketidakkenalan sang anak pada orang tuanya lantaran lama merantau. Karena itu, secara moral, seseorang tidak boleh terlalu lama merantau. Ia harus sering pulang , agar tidak lupa orang tua. Kelamaan merantaulah yang menyebabkan Malin Kundang tidak ingat pada ibunya dan dianggap durhaka, padahal ia tidak bermaksud demikian.

Kedua, cerita Malin Kundang berkaitan erat dengan pembuktian diri dari keserakahan memperebutkan harta. Malin Kundang yang lama merantau dan pulang dengan kekayaan melimpah, menarik perhatian semua ibu, yang secara kebetulan punya anak merantau sebagaimana Malin Kundang.

Mereka mengaku sebagai sang ibu.Karena itu, setiap ibu harus bias menunjukkan bukti bahwa ia benar-benar ibu Malin Kundang. Ketika tiba giliran ibu sebenarnya, ibu Malin Kundang menyatakan, Malin Kundang benar-benar anaknya dan ia beserta seluruh kekayaannya harus menjadi batu. Pembuktian diri itu memang fatal. Malin Kundang membatu dan sang ibu hanya bisa membanggakan diri, tanpa bisa mengecap kekayaan anaknya.
****

Ada beberapa karya sastra yang sangat serius dan dipenuhi beragam tanda. Mengungkapkan kembali lewat bedah kritik dibutuhkan keseriusan dalam menangkap makna yang muncul. Apresiasi bukan hanya dihalalkan, melainkan sesuatu yang dibutuhkan. Hasil apresiasi kemudian diuji, dipilah, dan kembali diuji untuk kemudian dapat ditangkap maknanya. Ketidakmengertian terhadap karya yang penuh tanda adalah sesuatu yang wajar. Namun seperti yang diungkapkan Raudha Thaib (Upita Agustine) di atas, bahwa puisi bukan untuk dimengerti melainkan dimaknai, dapat kita jadikan sandaran. Sudah tentu dalam memaknai ini tidak hanya sekadar mengungkap secara dangkal, melainkan perlu pengujian dan penerapan yang intens.

Bisa saja penelitian terhadap karya yang sama pada waktu berbeda menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula. Bisa juga suatu penilaian akan berbeda hasilnya bila dilakukan dengan penelitian, walau dilakukan terhadap karya yang sama. Dengan penelitian berarti kerja yang yang dilakukan bukan lagi mencari kelemahan, melainkan kekuatannya.

Bagaimana pun, penelitian tidak luput dari kelemahan. Terlalu sibuk mencari kekuatan karya sastra bisa menjadikan karya itu sebagai ‘dewa’. Oleh karenanya penelitian pun mesti ditempuh secara wajar dan apa adanya.

Di sisi lain, penelitian juga lebih menguntungkan. Menurut Umar Junus (1989:229), penilaian bisa menghasilkan sesuatu yang negatif, sedangkan penelitian justru lebih positif.

Dengan penelitian, secara tidak langsung sebenarnya sudah termaktub penilaian, walau mungkin tidak dinyatakan.

Di samping itu, peneilaian membutuhkan pembanding. Ketidaksetujuan para sastrawan terhadap kritik yang menilai adalah lantaran tiada pembanding. Karya sastra hanya diaduk-aduk dan tanpa kriteria pembanding yang jelas, lantas dihakimi.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Oktober 2008 inci Esai

 

Tag: ,

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 1)

Kepada puisi jangan coba untuk mengerti, karena dia ditulis untuk dapat dimaknai (Raudha Thaib/Upita Agustine: Prolog Poeitika, 1994: vii)

Kritik sastra senantiasa berada di persimpangan. Meski dinanti para sastrawan, tetap saja eksistensinya dipertanyakan. Sastra (modern) Indonesia sebagai warisan yang datang dari Barat dan kemudian melakukan pergumulan dengan persoalan keindonesiaan, menjadi dilema yang tak kunjung usai saat dihadapkan pada dunia kritik.

Berbagai pertanyaan berbuntut panjang pada sebagaian sastrawan untuk tidak mempercayai dunia tersebut. Beberapa analisis kritikus ditanggapi dengan keheranan, lantaran berbeda dari apa yang diinginkan sastrawan.

Pantaskah karya sastra dinilai?

Dunia kritik sastra, terutama akademis, memang ketat dengan berbagai pendekatan dalam membedah karya sastra: struktural, semiotik, sosiologi sastra, intertekstual, resepsi sastra, dan sebagainya. Segala upaya itu tak pernah menghasilkan sesuatu yang memuaskan.

Penilaian terhadap karya sastra memang bukan sesuatu yang haram. Objektivitas penilaian tidak hanya didapat dari kesan sepintas, tetapi dengan pergumulan panjang, menangkap makna tersembunyi. Pada akhirnya dapat diketahui, apakah karya itu bagus, biasa-biasa saja, kurang bagus, atau malah jelek.

Namun tidak selamanya karya sastra mesti dinilai. Penilaian objektif kadang tidak selamanya dapat dipertanggungjawabkan. Subjektivitas senantiasa menggoda. Jalan pintas terbaik adalah penelitian.

Barangkali hasil penelitian pun tidak berbeda jauh dari penilaian. Namun ada perbedaan pada keduanya. Penelitian tidak selamanya berakhir dengan penilaian. Penelitian bersifat mengungkapkan kembali karya sastra yang dikaji. Dalam pengungkapan itu, selain berpengetahuan luas, peneliti haruslah memiliki banyak pengalaman, agar kajiannya mendalam.

Penelitian juga akan memperkaya pengalaman batin dan memungkinkan kemunculan nuansa baru. Contoh menarik adalah kasus Malin Kundang yang memunculkan penafsiran-penafsiran baru. Penafsiran itu bisa saja muncul dari kritikus sastra atau sastrawan lain. Malin Kundang yang selama ini dianggap sebagai anak durhaka, justru menjadi lain di tangan Goenawan Mohamad, AA Navis, Wisran Hadi, dan Oemar Junus.

Penafsiran terhadap Malin Kundang? Seperti apakah? Tunggu lanjutannya pada bagian ke-2

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Oktober 2008 inci Esai

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: