RSS

Arsip Tag: Puisi

Sepanjang Sengare-Krompeng

Foto-0102 (Copy)sepanjang sengare dan krompeng
angin menderu dalam keriangan waktu
jejak membekas di daun-daun
nan gugur di ujung jumpa

dalam udara yang hingar
separuh jiwa pergi dalam ekstase pisah
awan menggumpalkan hujan
tuai dingin di siur angin

lambai tetangan terjadi jua
saat kumaknai salam perjumpaan
tak perlu ucap selamat jalan
karena spiritmu tetap jadi kenangan
di hela napas yang masih tersisa

sepanjang sengare krompeng
nyanyian bebukitan tetap menggamangkan langkah
dalam kerinduan anak-anak desa

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Februari 2014 in Puisi

 

Tag:

Di Ruang Sujud-Mu

sumber www.jurnalhajiumroh.comdi ruang sujud-Mu, debu-debu berkisar dalam seteru
pikiran menyatu dalam harap, titik noktah mengambang
dalam terawang
adakah titik cahaya bersanding
dengan rindu dan urai air mata?

kembali ke ruang sujud-Mu, suara-suara menghilang dan luruh
kesombongan telah menghancurkan segala harap nan pengap
kukembali dalam kesendirian dan ketersiaan
masihkah pintu-Mu membuka, saat kutergeragap dalam luka?

di ruang sujud-Mu, dingin subuh tak lagi mampu menyejukkan
bara api begitu berlumut di hati
tak ada yang salah, tak ada sesal diperhamba
kecuali diri yang rapuh dalam setiap langkah

ya Rabb-ku
pongah dan sembongku sudah menggerogoti diri
masihkah pintu tobat-Mu membuka
saat kurapuh dalam pinta nan renta?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Februari 2014 in Puisi

 

Tag: ,

Ketika Kata-kata Kehilangan Makna

masihkah kau dengar lirih nyanyian burung di pagi hari?
saat kita kehilangan makna dalam menangkap pesan
kicau yang kita dengar, suara-suara menggelepar dalam tarikan napas
tak jelas dan tanpa memiliki isyarat

masihkah kau resapi tetesan embun di pagi buta?
saat subuh membangunkan kantuk
cerita semalam, pidato-pidato melenakan
hilang tanpa roh dan kenyataan

ketika kata-kata kehilangan makna
alangkah ngerinya suasana yang tercipta
pada saat kampanye, pada saat pilkada
semua kata berbumbu bunga
namun kini, entah dimana aromanya berada

masihkah engkau akan setia membangunkanku di setiap subuh?
kita banting segala mimpi, kita hantam semua janji yang pernah kita dengar
lalu kita lafazkan ayat-ayat rahmah
kita alunkan kicau damai ke seluruh dunia
dan kita sujud dan zikir di keheningan semesta

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada 17 November 2011 in Puisi

 

Tag:

Di Ruang Sujud-Mu

di ruang sujud-Mu, debu-debu berkisar dalam seteru
pikiran menyatu dalam harap, titik noktah mengambang
dalam terawang
adakah titik cahaya bersanding
dengan rindu dan urai air mata?

kembali ke ruang sujud-Mu, suara-suara menghilang dan luruh
kesombongan telah menghancurkan segala harap nan pengap
kukembali dalam kesendirian dan ketersiaan
masihkah pintu-Mu membuka, saat kutergeragap dalam luka?

di ruang sujud-Mu, dingin subuh tak lagi mampu menyejukkan
bara api begitu berlumut di hati
tak ada yang salah, tak ada sesal diperhamba
kecuali diri yang rapuh dalam setiap langkah

ya Rabb-ku
pongah dan sembongku sudah menggerogoti diri
masihkah pintu tobat-Mu membuka
saat kurapuh dalam pinta nan renta?

 

 

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 13 September 2011 in Puisi

 

Tag: , ,

Dalam Kilau Cahaya Senja

dalam kilau cahaya senja
pandang mengabur seiring noktah
ada kepak elang di antara peluit kereta
mengabarkan geliat kota nan gelisah

dalam kilau cahaya senja
kabut turun melingkup dedaunan teh
langkah kecil tertatih mendaki
pulang merindu di antara letihnya kaki

dalam kilau cahaya senja
masih tersisa catatan duka
di antara mendung dan pijar memerah
menebarkan bau tanah dan pupur murah

dalam kilau cahaya senja
kupulang di hujan yang bersela

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Agustus 2011 in Puisi

 

Tag: ,

Sungei Wang

sudah kau hapalkan nama itu baik-baik?
juga jangan lupa: jalan-jalan, gedung-gedung, etalase
dengan aneka barang, restoran, dan bank-bank pasar sungei wang
jangan pernah lupa, karena kita pernah singgah di sana
berbelanja dan mabuk dalam pesona
yang tak pernah kita mengerti, apa maknanya

sebentar, tunggu dulu
kita belum selesai bicara
aku tahu, wajahmu telah beku
di atas taksi yang membelah kualalumpur, ada nyanyi minang
bukankah kau selalu memintaku lagukan itu?
tapi sayang, kau malah menangis

kita pulang setelah mengitari pasar sungei wang
tanpa bicara. mungkin kau benar-benar sedih
perpisahan mengambang di matamu
“jangan pernah lupa pasar sungei wang
dan kualalumpur,” bisikmu
sesaat sebelum lambai terakhir

di pasar sungei wang dengan beribu kenangan
dan kerlip lampu; aku tahu, sayang itu merangkak tumbuh
(seseorang yang selalu bercerita tentang sedih
dan air mata. seseorang yang berharap
dalam bibir basah)

:x, maafkan aku!

Foto-foto: dari berbagai sumber

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2011 in Puisi

 

Tag: ,

Jalan ke Rumah-Mu

jalan ke rumah-Mu ya Rabb
sungguh berliku dalam anyaman waktu
kerikil-kerikil dan bebatu cadas
mengintai dalam segala tipu

kuingin pulang dalam keriangan warna
dan dalam tobat ampunku di malam buta
empaskan beban dalam kelatnya napas
yang mencengkeram dalam nafsu yang sesat

:ya Rabb, adakah pintu-Mu membuka
saat kurindu akan warta makna?

 

bila suatu kali kuharus lalui
jalan terjal ke rumah-Mu abadi
permudahlah setiap ayun langkah
dalam kepenatan yang menyiksa

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Juni 2011 in Puisi

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: