RSS

Kajianku

Halaman ini berisi artikel saya yang berkaitan dengan Bahasa dan Sastra Indonesia. Beberapa di antaranya juga sudah dimuat di surat kabar Harian Singgalang Padang dan Suara Merdeka Semarang.

=========================

Pelajaran Bahasa Indonesia Dihapuskan?
Oleh: Zulmasri

Saya sungguh terkejut saat membaca tulisan di Media Online Nasional Suara Guru yang berjudul “Hapuskan Mata Ajar Bahasa Indonesia”. Tulisan yang kemudian setelah saya lacak bersumber dari Koran Tempo terbitan 18 April 2011. Sebuah telaah kritis sebenarnya, hanya kurang dilengkapi dengan data yang valid.

Saya memahami arah tulisan yang ditulis oleh Maryanto (Pemerhati Politik Bahasa) tersebut. Ada nada pesimisme sekaligus kegeraman melihat pertumbuhan bahasa Indonesia saat ini. Pesimisme itu muncul dari pernyataan bahwa dari siswa yang gagal ujian nasional tahun 2010 lalu, 73 persen disebabkan oleh bahasa Indonesia. Sebuah persentase mencengangkan tentunya. Ah, tapi apa benar angka itu? Data dari manakah?

Sementara itu, rasa pesimisme dari penulisnya muncul melihat perkembangan bahasa Indonesia terutama di sekolah berlabel SBI dan RSBI. Bahasa asing mendominasi dan mengakibatkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dipinggirkan. Sebuah ilustrasi perkembangan bahasa yang ironis karena terjadi di tanah tumpah darah sendiri.

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Peningkatan Kemampuan Menulis Guru Melalui Kegiatan PTK dan Web Blog
Oleh: Zulmasri

Menulis merupakan salah satu kemampuan yang tidak setiap orang mampu secara rutin melakukannya. Jangankan rutin, pada sebagian lainnya aktivitas menulis menjadi sesuatu yang amat sulit. Tidak terbiasanya dalam melakukan kegiatan ini menjadi faktor utama seseorang untuk mampu menganalisis sesuatu lewat tulisan yang dihasilkannya.

Tidak terlepas dalam hal ini guru. Para pendidik yang mestinya terbiasa bergulat di dunia penciptaan karya ini sering terkendala bila dihadapkan pada dunia tulis-menulis. Jangankan menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, menulis hal bersifat bebas dan kreatif pun guru kadang merasa kesulitan.

Tidak mengherankan, ketika guru berlabel PNS diminta harus menghasilkan tulisan ilmiah sebagai syarat untuk kenaikan pangkat ke Golongan IV-B, banyak dari mereka yang gagal. Sukartono (dalam http://sawali.info) mengatakan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah. Lebih lanjut Sukartono memperlihatkan angka-angka yang mengejutkan. Persentase guru PNS di Jawa Tengah yang berhasil naik pangkat ke golo-ngan IV-B misalnya, masih sangat rendah. Untuk kategori SD (0,20 persen), SMP (2,04 persen), SMA (1,65 persen) dan SMK (1,46 persen).

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Persoalan Kehadiran dalam Karya Sastra (1)
Oleh: Zulmasri

Konflik rumah tangga Masri dan Arni sebagai pasangan suami istri yang incest dan berakhir dengan perceraian adalah sesuatu yang diberitahukan (dalam Kemarau, terbit 1957). Mereka berpisah atas kesadaran, bahwa perkawinan antarsaudara adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.

Tetapi pada ‘Datangnya dan Perginya’ (dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami, terbit 1956) perkawinan sumbang antara Masri dan Arni tetap berketerusan. Dengan alasan ketidaktegaan memisahkan kebahagiaan rumah tangga, setidaknya A.A. Navis telah menunjukkan sisi ‘memanusiakan manusia’ yang humanis. Tapi apalah arti dari memanusiakan itu, bila pada akhirnya sikap itu sebagai sesuatu yang dikutuk. Umar Junus (Horison, Juni 1972: 164-5) tak pelak menyebut Navis dalam dua muka. Bahwa di satu sisi bagi Navis pertimbangan kemanusiaan (dengan risiko pelanggaran agama) lebih penting dari segalanya. Namun di sisi lain, pertimbangan keagamaan (menegakkan ajaran agama) justru bentuk yang lebih penting lagi. Navis berada di antara perbenturan humanisme yang mengesankan dan religiusitas mutlak.

Navis pun kemudian berkilah, mengapa perjalanan kepengarangannya berubah secara total, terutama prinsip-prinsip kemanusiaannya. “Meskipun humanisme itu indah,” tutur Navis, “tetapi lebih berharga Islamisme. Logikanya sederhana saja: humanisme adalah ciptaan manusia, sedang Islam ciptaan Allah.” (dalam Eneste, 1983: 66).

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Persoalan Kehadiran dalam Karya Sastra (2)
Oleh: Zulmasri

Karya sastra ‘melaporkan’ kehadiran sesuatu (peristiwa). Kehadirannya menyebabkan kita berpikir tentang sesuatu yang tak hadir. Pendapat Tzevetan Todorov yang dikembangkan Umar Junus (1984: 64) setidaknya dapat dipakai dalam kerangka penelitian kehadiran cerpen ‘Datangnya dan Perginya’ dalam Kemarau. Teori ini lazim disebut sebagai Presence-Absence. Drama-drama yang ditulis Wisran Hadi atau cerpen Seno Gumira Adjidarma adalah contoh karya yang tepat dibedah lewat teori ini. Ketika Wisran Hadi menulis naskah drama Malin Kundang atau Cindur Mato dengan versi berbeda misalnya, maka orang akan berpikir tentang cerita yang sudah ada sebelumnya.

Namun teori Presence-Absence tidak hanya membicarakan hal-hal sebatas itu. Proses dari sebuah kejadian yang berkaitan dengan ideologi (masyarakat) pun tak lepas dari kajian ini. Pada masa orde baru berkuasa misalnya, kita senantiasa mendengarkan hal-hal yang baik saja mengenai Timor Timur. Namun oleh Seno Gumira Adjidarma lewat cerpennya ‘Misteri Kota Ngingi’ kita diajak memasuki sebuah kota yang kian hari penduduknya kian habis. Bukan karena program keluarga berencana berhasil atau mewabahnya sejenis penyakit. Kian berkurangnya penduduk Kota Ngingi lantaran diculik, dihabisi, atau dihilangkan dari muka bumi.

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Migrasi Kultural dalam Karya Sastra
Oleh Zulmasri

hidup hanya sehimpun headline
ketika kita lewat terbaca
huru-hara yang habis di halaman lain
di sebuah dunia, kita tak tahu lagi di mana

(Goenawan Mohamad, “Bintang Kemukus”)

Pada akhirnya sastra memang sesuatu yang fiktif. Namun menjadi naïf mengatakan bahwa sastra hanyalah sesuatu yang imajinatif. Di beberapa tulisan disebutkan, sastra tidak berangkat dari kekosongan budaya. Riffatere (dalam Teeuw, 1983: 65) mengemukakan, suatu karya sastra merupakan respon terhadap karya sastra sebelumnya.

Tidak ada karya sastra yang menjadikan dirinya kokoh dan bertahan tanpa terjadi pembaharuan. Suatu konvensi dalam karya sastra bisa jadi ditiadakan pada karya berikutnya. Pemikiran-pemikiran baru senantiasa tumbuh, seiring dengan perguliran zaman yang menyebabkan sastrawan menghasilkan karya sastra ikut terlibat di dalamnya.

Memang, dalam penulisan karya sastra, para sastrawan tidak bisa melepaskan diri dari lingkungannya. Paling tidak, pikiran-pikiran yang melintas senantiasa member tanggapan pada lingkungannya. Tak jarang, para sastrawan tercerabut dari lingkungan yang membesarkannya dan kemudian melakukan migrasi kultural.

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 1)
Oleh: Zulmasri

Kepada puisi jangan coba untuk mengerti, karena dia ditulis untuk dapat dimaknai (Raudha Thaib/Upita Agustine: Prolog Poeitika, 1994: vii)

Kritik sastra senantiasa berada di persimpangan. Meski dinanti para sastrawan, tetap saja eksistensinya dipertanyakan. Sastra (modern) Indonesia sebagai warisan yang datang dari Barat dan kemudian melakukan pergumulan dengan persoalan keindonesiaan, menjadi dilema yang tak kunjung usai saat dihadapkan pada dunia kritik.

Berbagai pertanyaan berbuntut panjang pada sebagaian sastrawan untuk tidak mempercayai dunia tersebut. Beberapa analisis kritikus ditanggapi dengan keheranan, lantaran berbeda dari apa yang diinginkan sastrawan.

Pantaskah karya sastra dinilai?

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 2)
Oleh: Zulmasri

Goenawan mempersoalkan keterasingan diri Si Malin dari lingkungan. Lewat esainya, Goenawan mengungkapkan ketercerabutan Malin dari kultur yang sebelumnya diakrabi begitu ia melakukan migrasi kultural. Wawasan berpikir dan pendidikan adalah salah satu indikator, yang menyebabkan seseorang itu seakan durhaka dan menjadi Malin Kundang.

Di tangan Navis lain lagi. Secara ekstrem, Navis dalam cerpen “Malin Kundang Ibunya Durhaka” (bersinggungan dengan pernyataan Pak Imoe dan Uni Hemma ) seakan menggugat keberadaan seorang ibu. Dia mempertanyakan, apa benar sedemikian tega seorang ibu mengutuk anaknya sendiri. Navis malah menyalahkan sang ibu dan lebih pantas ibu itu yang dicap durhaka.

Demikian pula Wisran Hadi, yang secara menggelitik tidak setuju dengan sebutan durhaka terhadap Malin Kundang. Dalam naskah dramanya Wisran malah membela Malin Kundang dan menganggap wajar bila ia memarahi sang ibu. Persoalannya, si ibu telah kawin lagi dengan lelaki lain dan menggerogoti kekayaan Malin Kundang.

Lanjut…. (Klik di sini)

=========================

Kebimbangan Pengarang dan Pendekatan Ekspresif
Oleh Zulmasri

ADA penafsiran, bahwa Marah Rusli menulis Sitti Nurbaya (terbit 1912) pada mulanya bukanlah dengan ambisinya yang ingin menjadi novelis. Ia hanya tidak dapat menemukan jalan lain untuk memprotes tradisionalisme “yang tidak sehat” pada zamannya. Tapi kemudian dalam Salah Asuhan, Abdul Muis mengingatkan bahwa protes terhadap tradisionalisme “yang tidak sehat” itu tidak akan membawa apa-apa, kecuali malapetaka. Penolakan adat-istiadat dan model pendidikan tradisional telah membawa tokoh Hanafi pada posisi dilematis yang tidak berujung, kecuali dengan perpisahan yang mengenaskan. Paraahli sastra pun dengan jitu dapat melihat sisi menarik dari dua konsep yang ditonjolkan, dimana Abdul Muis sebenarnya telah membuka sebuah perdebatan yang amat penting sehubungan dengan konsep dan keinginan kita, walaupun lewat karya sastra. Tidak mengherankan bila kemudian Goenawan Mohamad (1988: 56-57) menyatakan sebagai arah berpikir yang penuh kebimbangan. Artinya, secara tidak langsung pertumbuhan kesusastraan Indonesiasebenarnya dipenuhi oleh kebimbangan-kebimbangan.

Kenyataan ini lebih dipertegas lagi dengan polemik kebudayaan oleh kelompok Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane. Polemik kebudayaan yang membicarakan tentang arah kebudayaan Indonesia itu meliputi kurun waktu 1935-1936, yang selain dua tokoh di atas juga melibatkan Dr. Poerbatjaraka, Dr. Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Dr. M. Amir, dan Ki Hadjar Dewantara (Achdiat Karta Mihardja, 1977). Anehnya, permasalahan ini kembali menghangat tahun 1986, dengan menampilkan tokoh yang jauh lebih muda dibanding dengan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai pencetusnya. Mereka itu di antaranya Umar Kayam, Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, Soebagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, Taufik Abdullah, Andre Hardjana, Sapardi Djoko Damono, Arief Budiman, Asrul Sani, Daoed Joesoef, dan Sutardji Calzoum Bachri (lihat Horison, Juli 1986). Kenyataan ini menunjukkan, bahwa bagaimanapun arah kebudayaan yang tercetus tahun 1935 itu tetap hangat sebagai sebuah pembicaraan yang tidak akan usang-usangnya. Hal ini terbukti di awal tahun 2000-an pembicaraan ini kembali menghangat.

Lanjut…. (Klik di sini)

 

2 responses to “Kajianku

  1. Daniel Nino

    14 Mei 2012 at 20:05

    artikel mantap,sebagai refleksi dalam menggunakan bahasa indonesia yang benar…

     
  2. Mami Vie

    8 November 2012 at 19:38

    Memang saya harus bilang WOW….Pak Zul! Salut……

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: