RSS

Arsip Kategori: Esai

Harus Naik Kelas

Pada awalnya, rapat kenaikan kelas berlangsung biasa-biasa saja. Namun ketika harus memutuskan naik atau tidaknya seorang siswa (sebut saja namanya Doni), terjadilah perdebatan yang panjang. Beberapa guru dengan berbagai argumennya berusaha mempertahankan agar Doni tidak naik kelas. Di sisi lain, wali kelas dan beberapa guru lainnya mendukung agar sang anak yang sedang diperdebatkan itu naik.

Alasan dari guru-guru yang mempertahankan agar Doni tinggal kelas sangat jelas. Dalam kesehariannya, sang anak terkenal nakal, suka mengusili teman, dan beberapa kali bolos sekolah. Rata-rata nilai akhlak dan kepribadiannya pun tidak mencapai B sebagai salah satu persyaratan kenaikan.

Di sisi lain, dengan alasan wajib belajar 9 tahun, guru-guru yang merasa kasihan dengan nasib Doni berusaha semaksimal mungkin agar Doni tetap bisa naik. Di samping itu, diharapkan saat pengambilan rapor oleh orang tuanya, wali kelas bisa menyampaikan pesan-pesan agar Doni bisa lebih baik nantinya.

Bagian Kurikulum yang memimpin rapat kenaikan kelas itu pun tidak bisa memutuskan, karena dua kubu sama-sama kerasnya. Pada akhirnya, ia pun menyerahkan persoalan itu pada kebijakan Sang Kepala Sekolah.

Read the rest of this entry »

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2011 in Esai, Jurnalistik, Lain-lain, Pendidkan

 

Tag: ,

Pelajaran Bahasa Indonesia Dihapuskan?

Saya sungguh terkejut saat membaca tulisan di Media Online Nasional Suara Guru yang berjudul “Hapuskan Mata Ajar Bahasa Indonesia”. Tulisan yang kemudian setelah saya lacak bersumber dari Koran Tempo terbitan 18 April 2011. Sebuah telaah kritis sebenarnya, hanya kurang dilengkapi dengan data yang valid.

Saya memahami arah tulisan yang ditulis oleh Maryanto (Pemerhati Politik Bahasa) tersebut. Ada nada pesimisme sekaligus kegeraman melihat pertumbuhan bahasa Indonesia saat ini. Pesimisme itu muncul dari pernyataan bahwa dari siswa yang gagal ujian nasional tahun 2010 lalu, 73 persen disebabkan oleh bahasa Indonesia. Sebuah persentase mencengangkan tentunya. Ah, tapi apa benar angka itu? Data dari manakah?

Sementara itu, rasa pesimisme dari penulisnya muncul melihat perkembangan bahasa Indonesia terutama di sekolah berlabel SBI dan RSBI. Bahasa asing mendominasi dan mengakibatkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dipinggirkan. Sebuah ilustrasi perkembangan bahasa yang ironis karena terjadi di tanah tumpah darah sendiri.

Persoalan bahasa Indonesia memang dilematis. Di saat sebagian orang berusaha mati-matian mempertahankan keberadaannya, pada sisi lain politik kebahasaan justru menggiring bahasa Indonesia menjadi bahasa yang marjinal. Apa yang dicontohkan oleh Maryanto dengan kasus di SBI dan RSBI ada benarnya. Namun bukan berarti dengan keadaan seperti itu mata ajar ini dihapuskan.

Di beberapa negara, justru pertumbuhan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan yang mencengangkan. Seperti yang kita pahami, Australia misalnya, sangat serius dengan mata ajar ini. Di negara-negara Islam, ada usulan agar bahasa Indonesia dijadikan bahasa Internasional di samping bahasa Arab. Selain itu pembelajaran bahasa Indonesia di beberapa negara Timur Tengah seperti Syiria dan Mesir pun sudah dimulai.

Apa yang dicontohkan oleh Maryanto dalam tulisannya, justru keadaannya bertolak belakang dengan kenyataan. Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah justru tidak lagi mementingkan aspek pengetahuan kebahasaan. Pada saat ini pembelajaran bahasa Indonesia sudah mencakup ranah praktis. Siswa tidak lagi diajarkan untuk menyebut dan menghapalkan ada berapa jenis kata ulang. Di bidang tulis-menulis, anak didik lebih diarahkan untuk menghasilkan tulisan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Apabila didalamnya pelajaran menulis juga dibicarakan masalah ejaan misalnya, adalah hal yang wajar, mengingat perlunya pengetahuan itu dimiliki anak didik. Namun masalah ejaan bukanlah tujuan utama dalam materi pelajaran menulis.

Read the rest of this entry »

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2011 in Esai, Pendidkan

 

Tag: , ,

Peningkatan Kemampuan Menulis Guru Melalui PTK dan Web Blog

Menulis merupakan salah satu kemampuan yang tidak setiap orang mampu secara rutin melakukannya. Jangankan rutin, pada sebagian lainnya aktivitas menulis menjadi sesuatu yang amat sulit. Tidak terbiasanya dalam melakukan kegiatan ini menjadi faktor utama seseorang untuk mampu menganalisis sesuatu lewat tulisan yang dihasilkannya.

Tidak terlepas dalam hal ini guru. Para pendidik yang mestinya terbiasa bergulat di dunia penciptaan karya ini sering terkendala bila dihadapkan pada dunia tulis-menulis. Jangankan menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, menulis hal bersifat bebas dan kreatif pun guru kadang merasa kesulitan.

Tidak mengherankan, ketika guru berlabel PNS diminta harus menghasilkan tulisan ilmiah sebagai syarat untuk kenaikan pangkat ke Golongan IV-B, banyak dari mereka yang gagal. Sukartono (dalam http://sawali.info) mengatakan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah. Lebih lanjut Sukartono memperlihatkan angka-angka yang mengejutkan. Persentase guru PNS di Jawa Tengah yang berhasil naik pangkat ke golo-ngan IV-B misalnya, masih sangat rendah. Untuk kategori SD (0,20 persen), SMP (2,04 persen), SMA (1,65 persen) dan SMK (1,46 persen).

Kenyataan tersebut tentu saja memprihatinkan. Guru sebagai ujung tombak kemajuan bangsa sudah seharusnya dituntut untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik. Tidak hanya sekedar mampu mengajar anak didik, namun juga harus mampu menjadi pilar perubahan, utamanya di dunia kepenulisan. Tuntutan ini selaras dengan PP 74 Tahun 2008 tentang guru. Selain dituntut berbagai kemampuan, secara jelas pada pasal 48 ayat 2 guru haruslah melakukan berbagai kegiatan kepenulisan: melakukan publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif, melakukan presentasi pada forum ilmiah, publikasi buku teks pelajaran, publikasi buku pengayaan, dan sebagainya. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, berkaitan dengan kegiatan guru dan angka kreditnya pun secara jelas menegaskan bahwa guru dituntut harus menghasilkan karya tulis untuk kenaikan pangkatnya.

Program BERMUTU sebagai Ujung Tombak

Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) merupakan program yang dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Program yang pada awal-awal kegiatannya dipandang dengan pesimisme oleh sebagian kalangan, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi ujung tombak bagi guru dalam mengembangkan dirinya, termasuk dalam hal ini guru-guru di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Program BERMUTU di Kabupaten Pekalongan untuk tahun ini memasuki tahun kedua. Berbagai kegiatan dan tagihan tugas untuk tahun pertama dari segi kuantitas menunjukkan hasil yang menggembirakan. Case Study, Lesson Study, Learning Jurnal, hingga Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mampu menjadi inspirasi bagi guru dalam meningkatkan kemampuan mengajar di kelas. Khusus di tempat penulis menjadi guru pemandu (Pokja 5), untuk tahun pertama kegiatan BERMUTU mampu menghasilkan produk PTK sebanyak 13 buah dari 14 peserta yang ikut.

Sebagai ujung tombak dalam peningkatan kemampuan mengajar, program BERMUTU secara langsung juga mampu meningkatkan kemampuan meningkatkan kemampuan menulis guru. Khusus untuk Bahasa Indonesia tahun ke-2 di Kabupaten Pekalongan, selain PTK kemampuan menulis juga ditingkatkan melalui penulisan lewat web blog. Hingga tulisan ini diturunkan tidak kurang dari 8 web blog berhasil dibuat dan menjadi media penulisan bagi guru. Web blog itu bisa diakses antara lain dengan mengklik alamat http://jumadiana.wordpress.com, http://widisetyo.wordpress.com, http://mohammadmaliki.wordpress.com, http://kunaenah.wordpress.com, http://margiatisetiawan.blogspot.com, http://suprihatinharyanto.wordpress.com, http://endangfizon.wordpress.com, dan http://muspribadi.wordpress.com. Rencananya, dalam beberapa waktu dekat, akan ada beberapa tulisan dan blog baru guru-guru Bahasa Indonesia Kabupaten Pekalongan.

Memang dalam mengisi web blog secara kontinyu dibutuhkan komitmen dari diri sendiri. Kendala yang terjadi tetap saja ada. Namun untuk masa yang akan datang, penulis yakin hal itu bisa teratasi. Keberadaan forum sebagai wadah untuk menjembatani para penulis blog tentunya akan sangat membantu.

Terlepas dari semua itu, dalam waktu dekat rencananya akan dilakukan lagi pelatihan pembuatan blog melalui kegiatan BERMUTU. Diharapkan setidaknya 30-40% guru Bahasa Indonesia Kabupaten Pekalongan yang semula tidak memilki media sendiri untuk menulis, akan menerabas kebuntuan yang ada selama ini. Tentu saja harapan terhadap keberhasilan ini tidak datang sendiri. Bantuan dan perhatian pihak terkait seperti Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan dan LPMP Jawa Tengah yang secara total mendukung keberadaan Program BERMUTU ini ikut mencitrai peningkatan kemampuan guru dalam menulis.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2010 in Esai, Jurnalistik, Lain-lain

 

Tag:

Langkah Agupena Jateng Berikutnya: Lomba Blog untuk Guru

Sore 9 Juli 2009 saya tiba-tiba ditelepon oleh seseorang. Beliau mengaku Pak Nurkhadi, guru sebuah SD di Kabupaten Pekalongan. Pak Nurkhadi sangat antusias dengan keberadaan Agupena Jateng yang sukses menyelenggarakan seminar nasional dan lomba menulis artikel. “Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena ada keperluan lain yang mendesak. Padahal sebelumnya saya sudah merencanakan akan ikut,” jelas Pak Nurkhadi.

Selanjutnya Beliau menanyakan agenda Agupena Jateng berikutnya. Oleh karena saya tidak ingat secara persis, saya sebutkan saja secara global (untuk lebih jelas tentang program Agupena Jateng, saya pernah menulis di blog ini). Lebih jauh Pak Nurkhadi menanyakan tentang kegiatan di Kabupaten Pekalongan dan sayapun mencoba menjelaskannya. Terakhir, saya pesan agar menghubungi Pak Sardono Syarief yang menjadi Ketua Agupena Kabupaten Pekalongan.

Pembaca, berikut ini saya muat secara utuh tulisan Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, Pak Deni Kurniawan, yang dimuat di FB sebagai oleh-oleh dan rencana akan adanya lomba blog bagi guru yang direncanakan tahun 2009 ini. Lebih jauh berikut kopi pastenya:

MENGISI LIBURAN DENGAN AUDIENSI
Oleh Deni Kurniawan, S.Pd.

“ Pak, liburan kemana aja, “ tanya Ardi Rizki Yanto, salah seorang siswa saya lewat facebook. Saya menjawabnya dengan enteng, ” Wah, Ar, akhir tahun semester ini bapak ndak liburan ke mana-mana,” Persoalannya bukan tidak ingin liburan namun rupanya situasi belum mengijinkan.

Ada beberapa agenda yang ternyata harus saya lakukan di musim libur tahun ini. Selain ikut menjadi Panitia Penerimaan Peserta Didik (PPDB) di sekolah, Agupena, salah satu organisasi di mana saat ini saya mencurahkan segala pikiran dan energi memiliki gawe yang cukup penting untuk eksistensi organisasi kini dan yang akan datang. Audiensi dengan Dinas Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan dengan baik saat sebagian orang asyik menikmati liburan.

Dan, rencana mau liburan di akhir ternyata juga tidak terlaksana karena pada tanggal 24 Juni 2009 mendapat kiriman SMS (short message service) dari Ketua Umum Agupena Pusat untuk mengikuti Audiensi Agupena dengan Sesditjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependikan). Audiensi yang terkandung maksud melakukan silaturahmi itu sekaligus ingin menyampaikan informasi kegiatan Agupena selama ini kepada PMPTK. Seperti yang telah diketahui bahwa Agupena, muncul pertama kali digagas oleh orang nomor satu di PMPTK saat itu (baca: Dr. Fasli Jalal, Ph.D) tahun 2006. Sehingga ada semacam ikatan batin yang kuat antara Agupena dengan PMPTK.

Alhamdulillah, saya bersama Pak Sawali dapat memenuhi undangan Ketua Umum Agupena Pusat tersebut. Akhirnya, Kamis, 9 Juli 2009 pukul 07.45 saya telah berada di kantin Depdiknas menanti acara yang diagendakan pukul 10.00 itu. Sambil menunggu saya memesan teh hangat sambil membaca koran mencari berita siapa presiden terpilih. Sekira 20 menit kemudian datanglah Mr. Sawali menghampiri saya yang sebelumnya menanyakan via sms posisi saya di mana. Ngobrol ngaler-ngidul pun tak terhindarkan mulai membahas agenda audiensi, rencana program Lomba Blog Guru Nasional sampai sampai hiruk pikuk persoalan pendidikan di tanah air.

Setelah 30 menit berdiskusi itu, Pak Achjar (Ketua Umum Agupena) menyampaikan via ponsel bahwa rombongan dari Agupena Pusat telah berada di basement dan akan meluncur ke lantai 16 gedung D, di mana Sesditjen PMPTK berada. Akhirnya kami bertemu di ruang masuk lift dan bersama-sama naik lift sambil bercanda. Tiba di lantai 16 gedung D, ternyata rombongan dari Jatim telah menunggu dan jadilah pertemuan itu sebagai ajang silaturahmi. Selanjutnya kami dipersilakn masuk di ruang tunggu dan rupanya Ketua Agupena Jabar masih dalam perjalanan karena terjebak macet.

Setelah menunggu sekira 15 menit sambil mendengarkan arahan Ketua Umum Pusat, tepat pukul 09.00 s.d. 10.00 WIB kami bertemu dengan Sesditjen PMPTK, Bapak Ir. Giri Suryatmana, di ruang kerjanya. Oh, rupanya Pak Giri ini sosok yang ramah, tangkas dan kepenak untuk diskusi.
Ketua rombongan, Mr. Acjar Chalil menyampaikan bahwa Agupena sebagai organissai profesi dalam ikut memajukan pendidikan dan meningkatkan profesionalisme guru di bidang kepenulisan lebih banyak dengan aksi ketimbang sekedar orasi. Statement beliau ini ternyata mendapat tanggapan positip dari Sesditjen PMPTK tersebut.
“Kami dari PMPTK menyambut gembira keberadaan Agupena. Kami juga sudah memprogramkan berbagai pelatihan pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembelajaran kepada para guru di seluruh tanah air. Kaitannya dengan dunia kepenulisan, memang sudah saatnya para guru memanfaatkan internet sebagai media untuk berekspresi. Agupena provinsi hendaknya bisa bekerja sama dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang ada di daerah untuk melaksanakan program-programnya,” kata Pak beliau dengan lugas.

Merespon pernyataan Sesditjen, Ketua Umum Pusat mengemukakan bahwa Agupena jateng akan mengadakan program unggulan Tahun 2009 untuk mengenalkanguru pada dunia kepenulisan melalui blog/web. Selanjutnya, saya dan Pak Sawali diminta mempresentasikan rencana program itu. Berdasarkan proposal yang telah disusun, Lomba Blog Guru dan Temu Bloger Guru se-Indonesia Tahun 2009) diperuntukkan bagi seganap guru di seluruh tanah air untuk memacu kreatifitas dan unjuk kemampuan dalam pengelolaan blog selama ini yang notabene akan meningkatkan kemampuan menulis. Lomba ini dirangkai dengan Temu Bloger Guru Nasional dengan tujuan ikut memperingati Hari Guru Nasional 2009. Muaranya dapat meningkatkan profesionalisme guru akan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media dan sumber belajar yang menarik dan menyenangkan.

Rupanya presentasi saya dan Pak Sawali disambut antusias oleh Pak Sesditjen dengan menyatakan, “ Sungguh, ini program yang bagus dan PMPTK sangat mendukung. Karena ke depan, para guru harus mengakrabi internet dan blog sebagai media pembelajaran sehingga paradigma guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, bahkan tak jarang bersikap seperti diktator (jual diktat, beli motor),” ungkapnya. Beliau mengharapkan Agupena dapat ikut mengubah pola pikir yang selama ini menghinggapi para guru bahwa ketika belajar gurulah yang berkuasa dan penentu. Menurut beliau harus dicipatakan suasana pemebalajarn yang memberdayakan siswa dengan seluruh potensinya. Masih menurut beliau, setiap siswa itu unik sehingga perlu difasilitasi agar potensinya dapat berkembang secara maksimal.

Diskusi dan perbincangan rupanya harus segera diakhiri karena Pak Giri sudah ada agenda lain yang menantinya. Yang menarik sampai menjelang berakhirnya audiensi, Ketua Agupena Jabar masih belu m muncul dan baru kelihatan batang hidungnya ketika kami dan Pak Giri berphoto bersama.
Kejadian menarik berikutnya ketika selesau audiensi dan kami melanjutkan konsolidasi membahas organissai Agupena, tiba-tiba Bang Achjar berbicara, “Bolehkah Ketua Umum Agupena Pusat memberikan instruksi kepada Agupena Provinsi?” tanyanya. Kami menjawab serempat boleh-boleh saja, termasuk saya dengan enteng.
“Baik! Kami menginstruksikan, untuk pelaksanaan Rakernas 2009, Agupena Jawa Tengah yang menjadi panitia dan tuan rumah!” lanjut lelaki paruh baya itu sambil menyerahkan berbagai draf kepada saya. Sejenak saya tertegun, kok kenapa harus Jateng, tidak DKI, Jabar, Jatim, DIY atau yang lainnya. Namun, karena saya harus loyal kepada pimpinan organisasi maka saya katakan, “ Siap kerjakan, Lajutkan” dan hadirin pun tertawa dengan ciri khasnya masing-masning.
Rupanya acara belum berhenti dan dilanjutkan dengan omong-omong tentang organisasi selama ini dan prosfeknya di masa yang akan datang. Akhirnya kami berpindah tempat ke ruang rapat Dirjen karena kebetulan tiga orang pengurus pusat dari unsur pembina hadir yaitu Bapak Sholeh Dhimyati (Ketua Dewan Pembina), Ridwan Mias (Anggota Dewan Pembina) dan Ibu Iim Halimah (Bendahara Umum).

Tak dinyana Rakor itu membahas hal-hal yang sensitif di tubuh organisasi terutama kepemimpinan Pimpinan Pusat dibawah Bapak Achjar Chalil. Kami dari pengurus wilayah mengikuti secara cermat sekaligus mengetahui bahwa Agupena memang ingin menjadi organisasi yang profesional, egaliter, demokratis dan terus membangun semangat kebersamaan. Saya sempat mengusulkan agar the rule of game dari Agupena semakin disempurnakan agar menjadi pegangan yang kuat di tingkat pusat, wilayah maupun daerah. Usul saya direspon dan akan dibahas secara tuntas dalam Rakernas yang diagendakan bulan Desember di Semarang. Acara Rakor berlangsung dengan lancar, penuh canda tawa dan kadang saling memberikan masukan atau kritikan satu sama lain.

Akhirnya acara yang dinantikan tiba, makan siang bersama. Pak Achjar mengajak kami makan siang di kantin Depdiknas dan acara makan pun berjalan dengan penuh keakraban dan semakin memperat hubungan antarpengurus satu dengan yang lainnya. Kami bebas memilih menu apa saja, ada sop buntut, sop daging, bakso dan yang lainnya sesuai selera nusantara. Dalam batin saya, oh ini mungkin liburan saya tahun ini, makan bersama dengan pengurus Agupena yang latarbelakangnya berbeda-beda. Pak Achjar dari Aceh, Pak Ridwan Mias dari Bengkulu, Bu Chusnul dari Jatim dan yang lain dari Jawa. Liburan tidak harus dimaknai dengan pergi ke pantai, pegunungan atau tempat rekreasi ansich, tapi juga kegiatan yang dapat membuat kita bahagia, fresh dan segar. Makan bareng di kantin Depdiknas itu saya rasakan sebagai suasana yang menyenangkan.

Selepas makan siang dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Depdiknas dan rencana melanjutkan perjalanan ke kantor SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre) yang berada di Kompleks Universitas Terbuka dengan membutuhkan waktu untuk perjalanan selama 2 jam.

Tiba, di kantor SEAMOLEC itu kami disambut oleh Bapak Ith Vuthy, M.Sc., M.A. seorang direktur progaram yang berasal dari Vietnam dan menarinya beliau lancar banget menggunakan bahasa Indonesia. Setelah Pak Ith mengucapkan selamat datang dan memberikan sambutana, kami disuguhi informasi tentang seputar SEAMOLEC oleh Bapak Timbul Pardede. Menurutnya, di bawah kepemimpinan DR. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, SEAMOLEC yang dibentuk berdasarkan kerja sama 11 Menteri Pendidikan Asia Tenggara (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailan, Timor-Leste, dan Vietnam) ini berupaya untuk memajukan kerjasama di pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Masih menurut Pak Timbul yang berasal dari Batak, sudah banyak program yang dilakukan SEAMOLEC selama ini. Visi yang diemban yaitu menjadi pusat keahlian secara terbuka dan belajar jarak jauh yang mengemban misi untuk melayani satu juta orang klien menjelang 2010 dalam upaya membantu negara-negara anggota untuk mengidentifikasi masalah kependidikan dan menemukan alternatif pemecahannya. Salah satu di antaranya adalah mendekatkan guru di berbagai jenjang dan tingkat pendidikan terhadap multi-media pembelajaran berbasis ICT.
Saat tanya jawab, saya langsung menyampaikan rencana Lomba Blog Guru dan Temu Bloger se-Indonesia Tahun 2009 dan sekaligus memohon untuk kerja sama secara sinergis dengan SEAMOLEC dalam kegiatan itu, terutama berkaitan dengan pengadaan media ICT (laptop) sebagai hadiah lomba.
“Kemungkinan itu sangat terbuka,” jawab Pak Timbul Pardede. “Tapi, mengapa lomba blognya tidak diperluas dalam lingkup yang lebih luas hingga negara-negara anggota SEAMOLEC bisa mengikutinya?” lanjut Pak Pardede bertanya.
“Iya, ini tantangan bagi Agupena! Mengapa tidak?” sahut Pak Achjar Chalil.
Hmm … menarik juga tantangan ini. “Namun, karena lomba blog untuk guru tingkat nasional itu sudah diprogramkan, ada baiknya buat proposal baru untuk agenda berikutnya dengan event yang lebih luas,” sela Pak Vuthy. “Berikan saja proposalnya untuk kami tindaklanjuti,” lanjutnya. Sementara itu, Agupena Jawa Barat dan Jawa Timur berupaya menjalin kerja sama dengan SEAMOLEC di bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat) pemanfaatan media ICT untuk para guru di wilayahnya masing-masing.

Kesimpulan saya, akhir tahun ini nggak mengapa, saya tidak bisa menikmati liburan seperti tahun tahun sebelunya, namun banyak hikmah dan manfaat yang dapat dipetik untuk kelangsungan organissai Agupena di masa mendatang. Seperti pepatah bilang, “ Kepentingan umum harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi”. Saya yang ketiban sampur dan “dipaksa” menjadi Ketua Agupena Jateng memang harus siap dengan segala konsekuensi itu demi eksisnya organisasi ini.

Semoga harapan semua pihak bahwa Agupena Jateng dapat menjadi wadah yang bermakna dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan serta peningkatan profesionalisme guru dapat terwujud ketika motto membangun semangat berbagi telah mulai dirasakan. Dukungan dari berbagai pihak pun selama ini alhamdulillah terus mengalir.

Terima kasih Sesditjen PMPTK, Direktur Seamolec, LPMP Jateng, Dinas Pendikan Provinsi Jateng, Pimpinan Suara Merdeka, Penerbit Asta Aji Pustaka, para Kadinas Kabupaten/Kota dan seluruh pengurus Agupena baik pusat, wilayah maupun daerah atas jalinan kerjasama dan upaya membangun semangat berbaginya

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2009 in Esai, Lain-lain

 

MENGUBAH CITRA SEKOLAH

Memasuki tahun pelajaran 2009/2010 yang dimulai 13 Juli 2009 ini, berarti hampir 5 tahun sudah saya mencoba mengabdikan diri di SMP Negeri 2 Talun. Sebuah masa yang mungkin belum terlalu lama. Namun dengan jarak tempuh dari rumah yang hampir 80 km pulang pergi, masa 5 tahun cukup terasa. Apalagi 10 km dari perjalanan itu harus ditempuh dengan medan mendaki, jalanan penuh lobang, menyempit, dan lumayan licin saat hujan.

Akan tetapi semua hingga hari ini masih bisa saya atasi. Perjalanan pulang pergi biasanya saya nikmati dengan tanpa beban. Pikiran yang segar dan mencoba ‘cuek’ dengan perihal yang mungkin muncul sebagai bagian atau upaya merongrong diri.

Dalam masa hampir 5 tahun itu pula, banyak hal bisa saya catat sebagai sebuah perjalanan hidup. Masa yang cukup singkat bila dinikmati dengan gembira dan penuh keikhlasan.

Walau belum genap 5 tahun, yang pasti saya sudah menikmati 4 kali pergantian kepemimpinan sekolah (kepala sekolah). Empat kepala sekolah dengan berbagai tipe, kebijakan, model memimpin, dan sejenisnya.
DSC00193

Saya teringat masa-masa sebelumnya, saat saya masih bekerja di sekolah swasta. Jabatan terakhir saya sebelum diangkat menjadi PNS adalah kepala sekolah. Jadi seperti apa dunia kepala sekolah, saat berkumpul dalam wadah MKKS, saat berhadapan dengan atasan atau bawahan, sampai sejauh mana kepedulian terhadap sekolah, anak didik, dan rekan guru, rasanya bagi saya sesuatu yang tidak asing lagi. Teristimewa lagi saat menghadapi berbagai intrik, persoalan keuangan, suap, dan sebagainya. Dalam 2,5 tahun kepemimpinan saya sebagai kepala sekolah, saya sudah mempelajari semuanya. Beruntunglah, saya berada di sebuah sekolah swasta yang sangat ketat dalam pengawasan keuangan dan kebijakan. Alhasil, selama saya memimpin, persoalan keuangan bisa saya selaraskan dengan kebijakan yayasan.

Hingga saat ini, persoalan-persoalan di sekolah terkadang membuat saya tidak mengerti. Kadang persoalan itu membuat saya geleng-geleng kepala. Persoalan keuangan misalnya, adalah sesuatu yang sangat vital. Tugas guru memang mengajar, namun bukan berarti tidak menggiring keuangan sekolah (lebih khusus lagi dana BOS). Adalah sesuatu yang mencengangkan bila hingga kini misalnya, masih ada kepala sekolah dalam masalah keuangan masih sangat tertutup. Sebagai seorang guru, bagaimanapun memiliki hak untuk mengerti kemana keuangan sekolah dibelanjakan. Apabila ada kepala sekolah yang menutup-nutupi persoalan keuangan, lebih baik didemo saja, karena menunjukkan adanya iktikad tidak baik. Demikian pula, sebagai orang tua atau warga masyarakat, ada hak untuk mengetahui sampai sejauh mana dana-dana sekolah berjalan dengan jalur yang semestinya.

Memang persoalan yang ada di sekolah bukan hanya persoalan keuangan semata. Namun tidak dapat disangkal, keuangan merupakan masalah vital dan sangat sensitif. Menjadi kepala sekolah yang baik haruslah mampu menjadikan keuangan sekolah bisa dipergunakan sesuai dengan seharusnya. Menjauhkan diri dari predikat ‘kapal keruk’ bagi sekolah dan komponennya.

Mengubah citra sebuah sekolah memang bukan persoalan mudah. Bagi saya, yang paling penting, kepala sekolah mestilah menjadikan semua komponen yang ada di sebuah sekolah merasa nyaman. Siswa merasa nyaman saat menghadapi kegiatan pembelajaran, guru juga merasa nyaman saat menghadapi tugas-tugasnya, pegawai tata usaha juga demikian. Semua itu bisa tercipta bila sekolah memang mempunyai pemimpin (kepala sekolah) yang mampu mengayomi dan menciptakan suasana sekolah yang kondusif.

Bagi saya, suasana kondusif amat penting dalam membangun sebuah citra sekolah. Sekolah yang berhasil bagi saya bukanlah yang memiliki label tertentu semacam SSN, RSBI, SBI, dan sebagainya. Sebuah sekolah yang selalu meluluskan siswanya dan dianggap sebagai sekolah favorit bagi saya belum tentu sekolah itu berhasil dalam pembelajaran. Sekolah yang berhasil menurut saya adalah apabila komponen inputnya bisa dijadikan berkualitas sehingga outputnya bisa dilihat adanya peningkatan mutu. Seorang siswa yang dicap nakal, ditolak oleh sekolah berlabel ‘favorit’, namun saat lulus mampu menunjukkan jati diri dengan prestasi di sekolah yang biasa-biasa saja, bagi saya itulah citra dari sekolah yang berhasil.

Mengubah citra sekolah memang harus ada niat kesungguhan dan keikhlasan. Mengubah citra sekolah bukanlah dengan menjadikan komponen yang ada di sekolah menjadi ‘takut’, tapi mengubah citra sekolah adalah mewujudkan sebuah kebersamaan dengan membangun kekuatan motivasi dan keinginan untuk maju. Di dalamnya termuat adanya unsur keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, keikhlasan, dan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Bagaimana dengan sekolah yang ada di lingkungan pembaca?

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juli 2009 in Esai, Lain-lain

 

PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (2)

Karya sastra ‘melaporkan’ kehadiran sesuatu (peristiwa). Kehadirannya menyebabkan kita berpikir tentang sesuatu yang tak hadir. Pendapat Tzevetan Todorov yang dikembangkan Umar Junus (1984: 64) setidaknya dapat dipakai dalam kerangka penelitian kehadiran cerpen ‘Datangnya dan Perginya’ dalam Kemarau. Teori ini lazim disebut sebagai Presence-Absence. Drama-drama yang ditulis Wisran Hadi atau cerpen Seno Gumira Adjidarma adalah contoh karya yang tepat dibedah lewat teori ini. Ketika Wisran Hadi menulis naskah drama Malin Kundang atau Cindur Mato dengan versi berbeda misalnya, maka orang akan berpikir tentang cerita yang sudah ada sebelumnya.

Namun teori Presence-Absence tidak hanya membicarakan hal-hal sebatas itu. Proses dari sebuah kejadian yang berkaitan dengan ideologi (masyarakat) pun tak lepas dari kajian ini. Pada masa orde baru berkuasa misalnya, kita senantiasa mendengarkan hal-hal yang baik saja mengenai Timor Timur. Namun oleh Seno Gumira Adjidarma lewat cerpennya ‘Misteri Kota Ngingi’ kita diajak memasuki sebuah kota yang kian hari penduduknya kian habis. Bukan karena program keluarga berencana berhasil atau mewabahnya sejenis penyakit. Kian berkurangnya penduduk Kota Ngingi lantaran diculik, dihabisi, atau dihilangkan dari muka bumi.

***

Seandainya Navis tidak memberitahukan mengapa ia menulis novel Kemarau dengan memasukkan unsur cerpen ‘Datangnya dan Perginya’ (dalam Eneste, 1983: 51-73), barangkali misteri penciptaan dua karya itu masih misterius. Navis bisa saja berkilah tentang perubahan dari humanisme ke religiositas, namun bila merunut teori Presence-Absence ditambah pengakuan Navis tentang proses kelhiran novel Kemarau, maka hal itu bukan lagi persoalan baik-buruk, manusia atau Tuhan. Apalagi berdasarkan kolofon kelahiran dua karya itu, ‘Datangnya dan Perginya’ bersama sejumlah cerpen lainnya terbit 1956 dan Kemarau tahun 1957. Masa-masa perpolitikan tanah air tidak stabil. Perang ideologi begitu terasanya. Persaingan kelompok Lekra dan Manifesto. Di sini persoalan keberpihakan menjadi sesuatu yang amat penting, dan sikap Navis pun mendua. Junus menyebut masa-masa ini sebagai perang mempersoalkan ideologi (1984: 64).

Jadi sesuatu yang dapat dimaklumi, bila dengan ‘Datangnya dan Perginya’ Navis menjadi was-was, sehingga mengganti versinya seperti yang ditulisnya di novel Kemarau yang lebih religius.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2009 in Esai

 

PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (1)

Konflik rumah tangga Masri dan Arni sebagai pasangan suami istri yang incest dan berakhir dengan perceraian adalah sesuatu yang diberitahukan (dalam Kemarau, terbit 1957). Mereka berpisah atas kesadaran, bahwa perkawinan antarsaudara adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.

kemarau

Tetapi pada ‘Datangnya dan Perginya’ (dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami, terbit 1956) perkawinan sumbang antara Masri dan Arni tetap berketerusan. Dengan alasan ketidaktegaan memisahkan kebahagiaan rumah tangga, setidaknya A.A. Navis telah menunjukkan sisi ‘memanusiakan manusia’ yang humanis. Tapi apalah arti dari memanusiakan itu, bila pada akhirnya sikap itu sebagai sesuatu yang dikutuk. Umar Junus (Horison, Juni 1972: 164-5) tak pelak menyebut Navis dalam dua muka. Bahwa di satu sisi bagi Navis pertimbangan kemanusiaan (dengan risiko pelanggaran agama) lebih penting dari segalanya. Namun di sisi lain, pertimbangan keagamaan (menegakkan ajaran agama) justru bentuk yang lebih penting lagi. Navis berada di antara perbenturan humanisme yang mengesankan dan religiusitas mutlak.

robohnya-surau-kami

Navis pun kemudian berkilah, mengapa perjalanan kepengarangannya berubah secara total, terutama prinsip-prinsip kemanusiaannya. “Meskipun humanisme itu indah,” tutur Navis, “tetapi lebih berharga Islamisme. Logikanya sederhana saja: humanisme adalah ciptaan manusia, sedang Islam ciptaan Allah.” (dalam Eneste, 1983: 66).

Tetapi cukupkah alasan Navis itu dijadikan sebagai pegangan kuat? Tidakkah sejarah sastra bisa memainkan peranannya dalam membuka rahasia kemunculan cerpen dan novel yang sekilas sama tapi versinya berbeda? Atau tidakkah kehadiran cerpen ‘Datangnya dan Perginya” dalam novel Kemarau –meski dengan versi agak berbeda– sesuatu yang dipaksakan Navis?

Bersambung

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2009 in Esai

 
 
%d blogger menyukai ini: