RSS

Arsip Kategori: Cerpen

Reuni (2)

Bagi yang belum membaca bagian awal cerita
Silakan disimak cerpen berjudul Reuni (Bagian 1)

Perkenalan itu tak pernah kusangka akan menjadikan kami akrab untuk masa-masa selanjutnya. Aku merasa jatuh cinta padanya, dan itu sudah tentu melanggar konsepsi yang sama kami sepakati.

“Aku mau mau menjadi saudaramu saja,” kataku di awal perkenalan. “Persaudaraan yang hanya ada rasa sayang, bukan cinta.”

“Menjadi saudaraku?” ia balik bertanya.

“Kau keberatan?”

Karin menggeleng. “Aku mendukung pendapatmu, kalau itu sungguh-sungguh,” ujarnya.

Dan kemudian, Karin bercerita masa-masa perkuliahannya. Masa-masa ia juga punya teman lelaki dan menganggapnya sebagai saudara.

“Kami saling menyayangi, berbagi suka dan duka. Pergi ke toko buku bersama, kemping, dan tak terkecuali nonton film barengan. Tapi sayang, pada akhirnya ia jatuh cinta padaku. Dan itu aku takutkan, kalau kau juga jatuh cinta pula padaku nantinya. Atau sebaliknya,” ujarnya.

“Semoga tidak,” kataku diplomatis. “Tapi kalau itu memang sudah takdir, kita mau bilang apa?”

Karin tak menjawab. Hanya angkat bahu.

Dan bila kemudian aku mencintainya, aku tak tahu, apakah itu takdir atau bukan. Yang jelas, aku menjadi pembaca setia berita-berita yang ditulisnya di surat kabar tempat ia bekerja. Selain itu suaranya di radio selalu saja bergaung di lubuk hatiku. Salahkah bila kemudian aku jatuh cinta, dan bukan hanya merasa jatuh cinta?
81
Aku tak mampu menjawabnya. Tak juga cerita pendek yang kutulis, atau puisi-puisi yang isi dan temanya penuh gejolak persimpangan jiwa.

Tetapi apakah Karin tahu kalau aku mencintainya? Dan yang tak mustahil dari persaudaraan kami yang begitu rapat, tidakkah di hati Karin terbersit rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum sempat kujawab, ketika kutahu Karin pindah ke daerah lain tanpa sempat pamit padaku, saudaranya.

***

Kafe masih saja lengang. Kontras sekali dengan jalan raya yang pada siang itu begitu ramainya. Karin meneguk jeruk dinginnya perlahan.

“Kau melamun?” usiknya.

Aku tergagap.

Di trotoar para pelajar saling berteriak kecil. Begitu ceria dunia mereka. Sementara suara kendaraan dan teriakan kondektur bus kota tak kalah bergalaunya.

“Kau masih saja melamun,” kembali Karin mengusik.

“Ah, Kamu!” kusentuh kakinya di bawah meja.

Ia mendelik. Dan mata itu, ya Tuhan! Jangan biarkan aku membimbangkan hatinya untuk bercerai dengan suaminya. Jangan biarkan aku menjadi pemisah kebahagiaan mereka….
putrirafli
“Besok aku akan kembali,” ujarnya.

“Ya,” jawabku perlahan. “Artinya kita kembali berpisah.”

“Kau menyesal?”

Aku menggeleng.

“Tapi bagaimana pun, aku tetap bersalah. Pergi tanpa sempat pamit padamu dulu. Aku minta kau mau memaafkanku.”

“Haruskah itu kau permasalahkan terus?”

“Entahlah.” Karin terdiam sejenak. “Tapi kau belum menceritakan anak istrimu….”

Aku terdiam. Siang yang panas dan angin kecil melintas. Aku tahu, Karin menatapku, mungkin tanpa kedip.

“Aku belum punya anak dan istri,” ujarku.

“Apa?” suaranya suara keheranan. Aku sudah menduga. “Kau belum beristri?”

Aku mengangguk.

“Mengapa?”

“Tidak kenapa-kenapa,” jawabku. “Dan kau, sudah berapa anakmu?”

Karin terdiam dan menunduk. Perlahan, ia menggelengkan kepala. Sekarang aku yang tercengang.

”Itulah yang kurusuhkan,” ujarnya. “Rutinitas kerja sebagai pengajar di universitas dan konsultan pada beberapa bank seakan menjebakku. Begitu pula rumah tanggaku yang monoton. Aku dan suamiku sering bertengkar, sehingga rumah tangga kami seakan sebuah neraka saja. Meski kami pasangan suami istri, aku lebih sering jalan sendiri. Begitu pula suamiku. Dan ketiadaan anak semakin memperlebar jurang antara kami.”

“Kau tak berusaha memperbaikinya?” tanyaku.

Sudah,” jawabnya. “Tapi tak pernah bisa.”

Aku diam. Karin juga diam. Kurasakan suasana lengang mencekik diriku, tanpa aku berdaya menghindarinya.

“Mungkin aku akan bercerai….”

“Apa?” kagetku. Aku benar-benar kaget mendengar kata-katanya yang terakhir. “Kau sedang bercanda kan?”

Karin menggeleng. “Aku serius!”

“Tapi, bagaimana ini bisa terjadi?” aku seakan linglung.

Karin tersenyum sekilas. “Aku sendiri tak tahu,” ujarnya. “Hanya saja aku mengerti. Kepergianku dulu, yang kusangka bisa melupakanmu dengan cara tanpa pamit, ternyata telah menyiksaku. Apa yang kuangankan, bahwa dengan pekerjaanku yang baru sebagai pengajar di universitas dan konsultan bank bisa melupakan bayanganmu dan sukses dalam karier, ternyata sebuah kesalahan besar. Boleh jadi aku berhasil membangun karierku dan tak lagi jadi penyiar serta wartawati, tapi melupakanmu aku tak pernah mampu. Karena bagaimana pun aku akui, persaudaraan kita dulu telah menjadikanku, mencintaimu….”

Aku terperangah. Benar-benar tak menyangka.Ya, Tuhan! Akankah semuanya dalam jebakan tak menentu? Mungkinkah Karin akan menjadi milikku? Ah, tidak! Sekali lagi tidak, meski sampai saat ini pun aku masih tetap mencintainya.

“Dan jangan pernah kau membohongi dirimu, bahwa secara diam-diam kau juga mencintaiku,” ucap Karin menantang bola mataku. “Esok aku akan berangkat mengurus perceraian itu, berhenti sebagai konsultan bank, dan mengurus kepindahan tugas mengajarku ke kota ini.”
love
Aku benar-benar tak mampu harus berbuat apa. Bahkan mulutku pun enggan membuka. Benar-benar keputusan Karin yang sebelumnya tidak pernah aku duga.

Mungkinkah aku akan bersamanya? Tegakah aku sebagai pemutus hubungan antara ia dan suaminya? Tapi pertengkaran itu. Juga rutinitas yang membuatnya asing. Dan teristimewa, cintanya. Ya, Tuhan!

(hadiah untuk mas daniel mahendra).

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2008 in Cerpen

 

Tag:

REUNI (Bagian I)

“Kau tahu,” katanya, “aku paling tidak suka pada rutinitas. Karena ia telah menjadikan diriku asing.”

“Tapi biasanya Kau mampu mengatasinya dengan caramu sendiri,” bantahku. “Rutinitas kadang memang menjadikan kita merasa asing dan tak mengenali diri sendiri. Tapi apakah itu cukup sebagai alasan?”

“Entahlah,” jawabnya. Ada keraguan bermain di matanya. Sejenak aku menikmati kerjap matanya yang mempesona.

“Barangkali Kau tak sungguh-sungguh,” tudingku. “Kau hanya berusaha menjadikan rutinitas sebagai alasan keberhentianmu sebagai konsultan. Pikirlah dulu masak-masak, agar kau tak menyesal nanti.”

Ia tak menjawab.

Sesaat ada angin kecil melintas. Dedaunan kelapa bergoyang dan mengeluarkan bebunyian yang pada siang itu terasa sangat asing. Seakan bunyi-bunyi dari jauh, di kafe yang sepi itu.

“Apakah keputusanmu itu sudah mantap?” usikku.

“Mungkin,” jawabnya pendek.

“Mungkin? Hanya mungkin?” tanyaku parau.

“Ya,” jawabnya. “Tapi Kau jangan mendesakku seperti itu. Aku tak suka, dan bukankah Kau sudah tahu itu?”

Ia menatapku tajam. Walau begitu, pijar matanya tetap mempesona. Mata yang sering membuat emosiku tak stabil, dulu. Mata yang senantiasa menjanjikan kelembutan dan membuat fantasiku melambung jauh. Tapi, ah, tidak! Karin bukan lagi orang yang seharusnya aku impikan.

“Ternyata Kau tak pernah berubah,” sindirku. “Masih saja keras kepala dan….”

“Teruskan,” ujarnya ketika kalimatku kugantung.

“Ah, tak usah,” kataku. “Kau tentu tahu apa yang aku maksudkan.”

Ia tersenyum dan mengirimkan cubitan kecil ke pinggangku. Karin tahu apa lanjutan kalimatku. Kalimat itu sering kuucapkan dulu. Kalimat yang memuji dan menyanjung dirinya yang manis dan amat paradoks dengan sikap serta pendiriannya yang keras. Dan setiap kali aku sindir begitu, dulu, selalu saja aku menerima cubitannya. Cubitan yang setidaknya mampu membuatku meringis.

Dan sekarang pun aku meringis.

Karin tertawa kecil melihatku. “Rasain!” ujarnya.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Tak mampu berbuat apa-apa.

***

Elvie Karina Dithia. Kukenal ia dalam sebuah seminar pada bulan bahasa. Ia gadis enerjik yang pernah kukenal. Di kampus ia seorang dosen muda berbakat. Di radio ia penyiar cemerlang. Dan di percetakan surat kabar, ia seorang wartawati handal. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia membagi waktu sedemikian rupa, dalam kegiatan-kegiatannya yang padat.

“Ah, yang penting kita bisa merasa suka dengan apa yang kita lakukan,” jawabnya ketika kukemukakan keherananku. “Dengan begitu, segalanya tak jadi masalah.”

“Dan kau tidak merasa capek?”

Ia tersenyum. Tak akan pernah kupungkiri, bahwa senyumnya begitu manis. Dan matanya, begitu indah dan mempesona.

“Kau sendiri bagaimana?” tanyanya.

“A… aku?”
berdua2
Karin tersenyum. Lagi-lagi aku tersihir pesonanya.

“Aku hanya seorang penulis,” jawabku. “Juga mahasiswa yang entah kapan wisudanya.”

“Hebat juga kalau begitu,” komentarnya.

“Jangan menyindir,” balasku. “Aku tahu kalau diriku tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Walau begitu, aku tak akan mengubah sapaanku yang cukup berkamu padamu.”

“Tak apa,” jawabnya. “Toh aku hanya lebih tua satu tahun, dan aku juga tidak mau dipanggil ibu atau uni. Tapi sungguh, aku tak menyindirmu. Jadi penulis tak mudah. Aku sendiri bukanlah penulis, hanya seorang wartawati. Penulis berita, bukan penganalisis fakta atau menjadikan fakta ke dalam karya yang enak dibaca. Tapi kalau boleh kutahu, kau penulis apa?”

“Macam-macam,” jawabku jujur. “Pokoknya menulis apa saja yang menyentuh diriku, kecuali berita lempang.” Aku tersenyum.

Cerita yang belum selesai alias bersambung.
Enaknya kelanjutan ceritanya bagaimana ya…

berdua

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2008 in Cerpen

 

Tag:

Tempat yang Sejuk dan Tenang

TEMPAT YANG SEJUK DAN TENANG

Cerita Pendek: Zulmasri

____________________________________________________________________

LAKI-LAKI itu pulang dalam keadaan mabuk. Ia sempoyongan berjalan. Dari mulutnya terdengar nyanyian kacau. Bau minuman keras menyengat di sepanjang jalan yang ia lalui.

Hari telah larut malam. Tidak banyak yang lalu lalang di jalanan. Yang melintasi jalanan itu pada umumnya membawa persoalan sendiri-sendiri, di samping tingkah laku yang tersendiri pula. Ada yang juga mabuk, seperti lelaki itu. Ada yang normal, berjalan pelan atau tergesa-gesa. Ada pula yang jalan tidak tentu tujuan, sekadar menghabiskan malam. Memang, kota itu tak pernah sepi, walau malam telah merambat jauh.

Laki-laki yang pulang dengan keaadaan mabuk itu akhirnya terkapar di pinggir parit, setelah terlebih dahulu terperosok jatuh. Tubuhnya menggelinding sebentar, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Tidak ada yang memperhatikannya. Mereka yang kebetulan lewat dan melihat pun berlagak acuh tak acuh.

Masih hidupkah ia ?

Tak ada yang mempersoalkannya. Namun ketika tubuhnya benar-benar kaku dan tidak bernyawa keesokan harinya, barulah seluruh penghuni kota itu gempar.

“Ada orang mati di selokan,” kata sebuah suara.

“Ya, ada orang mati. Kabarnya penduduk kota ini,” ujar suara yang lain.

“Ia laki-laki yang suka mabuk,” timpal yang lainnya.

“Tapi kabarnya ia seorang yang amat berjasa terhadap kota ini,” balas suara yang lainnya lagi.

Pagi itu seluruh kota memang gempar. Kesedihan terpancar dari setiap wajah. Warna kota yang biasanya cerah berubah muram. Angin bertiup lembut. Cahaya matahari memancar aneh dan redup. Awan hitam berarak bergumpal-gumpal di atas langit.

Di bar, tempat lelaki itu biasa minum, juga dipenuhi warga. Mereka ingin tahu bagaimana kisah laki-laki itu pada malam terakhir ia mabuk hingga meninggalnya. Pemilik bar – seorang laki-laki setengah tua – terlihat letih dan agak gusar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datangnya bertubi-tubi. Entah sudah berapa kali ia mengulang cerita yang sama kepada pengunjung yang datang silih berganti.

Selain letih dan gusar dengan pertanyaan-pertanyaan para pengunjung, pemilik bar itu juga teringat dengan hutang laki-laki pemabuk itu. Ia tahu persis, berapa jumlah hutangnya, lantaran lelaki pemilik bar itu sendirilah yang biasanya melayani laki-laki tersebut.

Akan tetapi, laki-laki pemabuk itu telah meninggal sekarang.

Dan sepertinya pula, lelaki pemilik bar itu merelakan hutang dari laki-laki pemabuk tersebut.

Walikota sendiri yang memimpin upacara kematian pada siang itu. Ia menyatakan bahwa hari itu adalah hari berkabung bagi seluruh kawasan kota yang ia pimpin. Kepada para penduduk diperintahkan untuk menaikkan bendera setengah tiang.

Jalan-jalan yang biasanya bising oleh arus kendaraan lalu lintas, pada hari itu tidak terlihat satu pun. Seluruh warga kota tumpah ruah menuju rumah almarhum. Karangan bunga dan ucapan belasungkawa berdatangan dari berbagai penjuru. Dengan kesedihan luar biasa, akhirnya almarhum dibawa ke rumah kediaman walikota, yang halamannya cukup luas dan bisa menampung banyak orang.

Warga kota yang tadinya tumpah ruah ke rumah almarhum, bergerak mengerumuni ruangan dan halaman kediaman walikota. Suara tahlilan terdengar di sana-sini. Suara bisik-bisik pun bercampur aduk dengan pembicaraan sekitar almarhum semasa dia hidup. Mereka kembali mengenang almarhum dengan segala sepak terjangnya terhadap kota. Mereka kembali membicarakan jasa-jasa almarhum terhadap kota yang sekarang berdiri megah.

Semua warga kota memang larut dengan kesedihan itu. Seorang hero telah berpulang. Seorang yang dengan gagah beraninya berhasil menghalau musuh dengan ketelatenannya memimpin pasukan. Seorang yang kemudian menjadi konsepsioner dalam menata dan membangun kota hingga semegah sekarang.

Hanya ada dua orang saja yang tak ikut larut dengan suasana duka itu. Seorang kakek dan seorang nenek yang rumahnya persis berada di samping rumah almarhum. Mereka hanya tinggal di rumah, tidak ikut-ikutan bergabung, sambil mengintip suasana yang sedang berlangsung.

“Akhirnya ia pergi juga,” kata si kakek.

“Ya,” ujar si nenek pula. “Akhirnya ia meninggalkan kita.”

“Itu sangat baik bagi ketentraman kita, karena mulai hari ini tak akan ada lagi suara gaduh antara kita dan dia.”

“Juga tak akan ada lagi suara-suara kacau yang keluar dari mulutnya.”

“Termasuk nyanyian-nyanyian yang tak teratur ketika ia mabuk.”

“Ya. Juga bantingan pintu di tengah malam buta.”

“Dan jangan lupa hutang-hutangnya pada kita.”

“Benar. Hutang-hutangnya sangat banyak pada kita.”

“Kita harus menuntutnya.”

“Ya. Kita harus menuntutnya.”

Sekelompok orang melintasi jalan di depan rumah kakek nenek itu sambil membawa keranda. Keduanya mengintip dari lubang angin. Pintu dan jendela rumah mereka memang tidak terbuka.

“Aku jadi iri,” kata si kakek.

“Mengapa iri ? Bukankah harus disyukuri, bahwa tak akan ada lagi yang mengganggu kita….”

“ Itu benar. Tapi melihat upacara kematiannya yang meriah….”

“Ah, ia memang pantas untuk itu.”

“Karena jasa-jasanya ?”

“Betul. Karena jasa-jasanya. Tidak tertutup kemungkinan, ia akan diangkat menjadi pahlawan.”

“Mungkin juga. Ia memang seorang yang gagah berani, komandan yang tak takut sedikit pun pada musuh yang ada di depannya, seorang konseptor dalam tata letak kota. Pokoknya, ia benar-benar seorang yang ahli. Arsitek.”

“Hanya sayang, ia seorang pemabuk.”

“Walau pemabuk, tak akan mampu menutupi dirinya menjadi seorang pahlawan.”

“Barangkali. Tapi aneh juga….”

“Aneh ? Apanya yang aneh ?”

“Ia itu. Laki-laki itu baru dihargai justru ketika ia telah meninggal. Padahal semasa hidup, ia tidak diacuhkan orang.”

“Ya. Mungkin itu sudah sifat kita, manusia.”

“Tapi menurutku, ia lebih baik daripada dirimu….”

Si kakek memandang ke arah si nenek yang kelepasan omongan. Tiba-tiba si nenek tersadar, tapi tak berusaha minta maaf.

“Kau masih ingin mengajakku bertengkar ?” ujar si kakek tajam.

“Aku hanya bicara kenyataan. Bayangkan saja, ia begitu jagonya di medan perang. Setelah negeri kita merdeka, dari kepalanya mengalir ide-ide cemerlang. Bukankah itu namanya hebat ? Jelas sekali berbeda jauh dengan dirimu bukan ?”

“Cukup ! Rupanya kau benar-benar mengajakku untuk bertengkar. Dasar perempuan sial !”

“Kau jangan mengejekku seperti itu ! Aku bicara kenyataan. Aku bicara sesuai dengan fakta. Lihat, ketika keluarganya dibantai habis, ia balik membantai. Bukankah itu jantan ? Bukankah berbeda denganmu yang justru lari terbirit-birit melihat musuh ?”

“Cukup !” teriak si kakek sambil menampar mulut si nenek. Emosinya benar-benar tak dapat tertahankan lagi. Keduanya bertengkar hebat. Bergumul habis-habisan. Hingga akhirnya si kakek berhasil mencekik si nenek hingga mati.

Si nenek benar-benar mati. Meninggal.

Sosok mayat yang mengenaskan. Penuh luka dan darah. Tubuh yang penuh bilur-bilur biru.

Sesaat kemudian, si kakek baru tersadar. Emosinya perlahan mereda. Si nenek, perempuan yang telah mendampinginya selama ini tak bernapas lagi. Si kakek pun menangis. Meratap secara tertahan.

Di rumah walikota, upacara terus berlangsung. Tak ada yang memperhatikan suara ratapan si kakek yang telah mencekik sendiri istrinya.

Hanya saja, seminggu kemudian orang-orang kembali gempar. Bau busuk yang teramat sangat menjadikan perhatian warga tertuju pada rumah tersebut. Beberapa warga kota menerobos masuk dengan menggunakan masker. Kota menjadi amat gempar dengan dua sosok mayat yang ditemukan dalam rumah.

Seorang perempuan tua terkapar di lantai dengan tubuh membusuk, dan seorang laki-laki tua tergantung pada seutas tali.

****

TIDAK lama kemudian, di sekitar rumah tempat tinggal pemabuk dan rumah kakek nenek yang cukup luas itu dibangun sebuah taman. Rumah yang ada dirobohkan, diganti berbagai tanaman dan bunga yang indah-indah. Ramai tempat itu pada sore hari-hari libur.

Dan memang demikian adanya. Karena tempat itu sejuk dan tenang.

Pekalongan, 2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Cerpen

 

Tag:

Pembunuhan di Pagi Buta

PEMBUNUHAN DI PAGI BUTA

Cerpen: Zulmasri

“AKU bunuh Kau!” teriaknya lantang. “Dengar! Sekali lagi dengar! Kau akan kubunuh!”

Suaranya bergema ke segenap arah di kamarku yang tak terlalu lebar. Ancamannya disertai pedang panjang yang mirip samurai, telah meluruhkan keinginanku untuk melabraknya dengan kata-kata. Bahkan sekarang justru sebaliknya yang terjadi. Nyaliku ciut dan ada rasa gentar yang muncul tiba-tiba.

Tetap saja aku berada di tempat tidur. Memandang tanpa kedip pada pedang dan dirinya yang tegak menantang dalam remang lampu lima watt. Masih terlalu pagi, karena kalau seperti hari biasanya, aku masih ngorok dan bercanda lewat mimpi-mimpi.

Tapi tendangannya tadi pada pintu benar-benar telah mencampakkan jauh-jauh rasa pulasku. Sebagai gantinya, mataku membelalak lebar dan mulutku menganga kaget bercampur heran dan takut. Apalagi mendengar kata-katanya yang benar-benar mengancam. Aku mengejat ketakutan. Keinginan untuk melabraknya – karena telah mengganggu tidur sekaligus hak asasiku – pupus seketika, karena justru ia-lah yang datang dengan berondongan labrakan sekaligus ancaman.

“Kau masih tetap berdiam di situ? Kau tak berusaha lari? Bagus! Bagus! Dengan begitu, aku lebih mudah membunuhmu! Membunuhmu!”

Suaranya kembali bergema. Apalagi setelah itu ia tertawa. Tawa yang tentu saja jelek bila situasinya normal. Tapi mana mungkin aku balik tertawa mendengar suaranya dalam keadaan tegang begini. Andai saja yang menginap di rumah ini ada orang lain selain aku, tentu akan lain suasananya. Andai saja ada rumah tetangga yang begitu rapat dengan tempat tinggalku, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Setidaknya aku aku tak perlu setakut ini, karena sebagaimana biasa aku selalu tenang dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan.

Tapi sekarang, mengapa aku begitu ketakutan? Apakah karena kilatan pedangnya yang datang dari pantulan cahaya lampu lima watt itu? Ataukah karena kesunyian yang amat mendera di sekelilingku? Tiba-tiba kusadari apa yang telah terjadi selama ini. Ketabahan dan ketenangan yang ada padaku dalam menghadapi setiap persoalan – dengan tanpa gentar sedikit pun – tak lain lantaran aku berada di antara orang banyak. Aku berani dan menggebu-gebu mempertaruhkan nyawa. Entah kenapa, sekali pun ada yang mengancamku dengan pisau terhunus di leher, aku tak pernah takut. Selalu kupatahkan keinginan hati orang yang mengancamku itu dengan kata-kata lembut namun menusuk. Dan biasanya, orang yang mengancamku itu selalu mundur dan mohon dimaafkan.

Tapi sekarang, sanggupkah aku mengatasinya dalam kesendirian begini? Dalam kesendirian dan sunyi yang sebentar-sebentar bergaung, mampukah aku seperti biasa menundukkannya?

Rasanya sulit. Menghentikan debaran gentar saja aku tak berani. Apalagi mesti membuka mulutku yang sepertinya terkunci dengan sangat rapat.Benar-benar aku dibuat kalut.

Ia melangkah kemudian ke arahku. Dua langkah saja. Tawanya yang jelek itu sudah lama berhenti. Sebagai gantinya, ia mempelototiku habis-habisan. Sorotan matanya yang merah terlihat samar. Kerut mukanya yang keras mengingatkanku pada seorang bintang film yang sering memerankan adegan-adegan sadis. Ditambah lagi dengan rambutnya yang awut-awutan dan pakaiannya yang dikenakan serampangan. Semua itu meninggalkan kesan padaku: angker!

Akankah aku dibunuhnya? Dari kata-katanya yang bernada ancaman, jelas itu bukan gombalan belaka. Dan bila itu benar-benar terjadi, apa yang mesti kuperbuat?

Dalam kalut dan sendiri begini, aku teringat segalanya. Keluarga, teman-teman, pacarku, pekerjaan, tingkah laku dan segala tindakan yang telah aku lakukan. Semua membayang dan membaur. Semuanya pun seakan ikut memojokkan. Dan itu kian menambah kekalutan yang ada di dada.

Sejenak kemudian, ruangan kamarku kembali bergalau oleh tawanya. Tawa yang jelek, tapi menakutkan. Dan tawanya itu kian meninggi dan meninggi. Sampai akhirnya ia diam kembali.

“Nikmatilah hidupmu yang hanya tinggal sesaat,” ujarnya pelan, namun tegas. “Karena sebentar lagi, pedang ini akan menghirup darah segarmu.”

Ia diam lagi. Namun hanya sesaat.

“Dan sebelum pedang ini menghirup darahmu, ada baiknya kujelaskan lebih dulu, kenapa pedang ini menginginkan dirimu.”

Ia berhenti lagi bicara. Kemudian melangkah satu langkah.

Pedangku ini menginginkan darahmu disebabkan tindakan yang telah kamu lakukan. Nah, sebelumnya Kau kuberi waktu untuk mengingat apa saja yang telah Kau perbuat, sehingga aku terpaksa membangunkanmu di pagi buta begini, hanya sekedar menjemput nyawamu….”

Ia kembali tertawa.

Dan aku sibuk mengingat apa yang telah aku perbuat, terutama tingkah laku dan tindakan yang telah aku lakukan. Rasanya wajar-wajar saja. Tak ada yang istimewa.

Memang harus kuakui, bahwa pekerjaanku sebagai wartawan senantiasa bergulat dengan berbagai permasalahan. Mulai dari dunia politik, pemerintahan, persoalan kemasyarakatan, persoalan korupsi, dan sebagainya. Bahkan pernah beberapa kali aku menulis tentang penyunatan uang yang datang dari pemerintah pusat ke daerah-daerah, di tengah jalan dipotong-potong dulu. Juga tentang bantuan kemalangan akibat longsor yang terjadi di sebuah daerah, tak sampai di tangan yang seharusnya menerima. Atau tentang kongkolikong para pejabat dalam menetapkan siapa pimpinan pemerintahan suatu daerah, yakni dengan sistem rekayasa. Pokoknya segala yang aku anggap tak wajar dan menyimpang. Itu kutulis dengan bahasa khas, dan sedikit berbau feature. Dan ternyata pimpinan redaksi memuji hasil kerjaku.

Lalu di antara sekian banyak liputanku, adakah salah satunya? Adakah berita yang kutulis berakibat pada ancaman pembunuhan terhadapku?

“Sudah bisakah Kau ingat apa tindakanmu yang merugikan dirimu sendiri?”

Suaranya bergema kembali di ruang kamarku. Suara yang dingin dan menusuk. Dengan segala keberanian yang aku punya, kugelengkan kepala.

“Goblok! Kau benar-benar goblok! Pantas…. Pantas Kau bisa berbuat seperti itu, bila mengingat kesalahan sendiri saja tidak becus!” makinya.

Aku tak menjawab.

“Ingatkah tulisan jelekmu tentang Pak RC? Kau ingatkah fitnah yang Kau sebarkan tentang perbuatannya? Kau ingat?”

Aku mengangguk-angguk kecil. Baru jelas apa tindakanku yang menurutnya salah. Dengan cepat aku melakukan analisis. Sudah tentu, ya, orang yang mengancamku ini anak buah Pak RC. Atau mungkin pembunuh bayaran yang disuruh Pak RC untuk menghabisi nyawaku.

Aku jadi membayangkan Pak RC, seorang direktur sebuah bank terkenal di kota ini. Kesalahan yang dibuatnya sungguh tak dapat kumaafkan. Naluri jurnalisku segera bekerja. Bahan-bahan yang kubutuhkan atas korupsi yang dilakukannya dengan mudah dapat kukumpulkan. Apalagi banyak kawan-kawanku yang membantu. Dalam hal ini termasuk teman dekatku, Karin, yang menjadi sekretarisnya. Selama hampir satu minggu beritanya menjadi headline pada surat kabar tempat aku bekerja. Untuk itu, pimpinan redaksi pun mempercayakan aku sebagai ketua tim peliputnya.

Tentu aku tak akan sebegitu gencarnya, bahkan boleh dikatakan sangat kejam menginformasikan kejelekan-kejelekan yang telah diperbuat Pak RC, seandainya Karin, gadis yang telah lama kutaksir, tak ikut dilibatkannya lebih jauh. Namun kenyataan saat Pak RC yang telah beristri itu mencoba menggoda Karin, telah mengubahku menjadi banteng liar. Kutelanjangi diri Pak RC sampai pada hal sekecil-kecilnya. Dalam hal ini, memang nama Karin termasuk kulindungi. Biarlah. Karena bagaimana pun aku tetap menyayanginya. Walau sejak kejadian memalukan itu aku dan Karin seolah ada jarak. Biarlah. Kupikir Karin sendiri telah menerima beban mental akibat perbuatannya yang tak semestinya dilakukan, berduaan di kamar hotel dengan Pak RC saat ada penggerebekan petugas kepolisian.

Suara deheman membuyarkan lamunanku. Kupandangi orang suruhan Pak RC yang berniat membunuhku itu.

“Rasanya sudah cukup aku memberi waktu!” katanya dingin. “Sekarang, bersiaplah untuk mati!”

Perlahan ia melangkah mendekati tempat tidurku. Aku mencoba bangkit, tapi lututku terasa goyah. Akhirnya aku hanya bisa beringsut mundur, sampai di sudut tempat tidur.

Tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Keadaan benar-benar tak menguntungkan. Menyesal aku, mengapa dulu tak belajar ilmu bela diri. Kini, ya , pembunuh itu kian mendekat dan mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Di luar masih gelap. Ada angin melintas di pintu yang tadi didobrak. Dari jauh terdengar kokok ayam jantan.

Dengan teriakan panjang, pembunuh itu menyabetkan pedangnya. Sebisanya aku usahakan mengelak dalam gigil ketakutan. Tapi pembunuh itu benar-benar buas. Mungkin hanya sampai di sini ajalku. Malaikat pencabut nyawa seperti menari-nari dalam pejaman mataku.

Dan sesaat aku merasakan cairan. Darah. Darah mengalir di tempat tidur, membasahi wajah dan pakaianku. Rasanya, aku seperti berhenti bernapas.

Tapi aku masih bisa menginat, ada suara tembakan kecil sebelumnya. Juga suara tubuh jatuh dan gemerincing suara pedang.

Dan kemudian ada suara memanggil namaku. Suara malaikatkah? Tapi, itu suara perempuan. Seperti suara Karin. Hah? Ilusikah ini?

Tapi aku sendiri, masih hidupkah? Lalu darah itu….

(Sesaat bau amis itu membuatku muntah dan menggelapkan pandangan).

Pekalongan, 2007

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Cerpen

 

Tag:

Kidung Sunyi Seorang Guru

Kidung Sunyi Seorang Guru

Cerpen: Zulmasri

…………………………………………………………………………….……………………..

Astri yang baik,

Surat ini kutulis saat mataku tak mampu terpejam dalam lena, meski malam telah merambat jauh. Keadaan yang menggelisahkan. Saat-saat yang tidak kumengerti, walau sering terjadi. Aku tidak tahu apakah ini semacam penyakit atau bukan. Beberapa kali aku berpikir untuk memeriksakan diri ke dokter. Di pihak lain kadang aku juga merasa ingin menemui psikiater. Namun semua itu tidak sempat aku lakukan tatkala pagi datang menjelang, dan aku mesti bersiap memasuki gerbang sekolah tempat aku mengajar.

Barangkali aku memang salah memasuki dunia tempat aku bekerja sekarang ini. Bahtiyar, teman sekerjaku mengatakan bahwa tempatku bekerja mestinya tidak di dunia yang terpencil. Duniaku menurutnya berada di perkotaan, bukan dunia sunyi, jauh nun di pelosok yang hanya bisa bertemankan sapi, kerbau, bau sawah dan ladang, serta masyarakat yang belum mengenal jauh dunia informasi.

Seperti surat-suratku yang dulu, aku tidak tahu, adakah surat ini sampai ke tanganmu. Namun aku tak pernah mampu menolak kekuatan dalam diri ini untuk mendiamkannya begitu saja. Aku mencintaimu dan ingin menceritakan keluh-kesahku.

Ada di manakah engkau sekarang?

Seperti hari-hari sebelumnya, aku menyelesaikan pekerjaan sebagai guru sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah itu aku pulang ke rumah kost, makan siang dan istirahat sambil menonton televisi. Televisi, satu-satunya dunia hiburan dan informasi paling canggih di tengah masyarakat aku berada.

Kehidupan monoton, itulah dunia yang kualami sehari-hari. Betapa inginnya hari-hari kulalui bersamamu. Hidup berumah tangga, membina kasih sayang hingga anak-anak kita lahir. Namun keinginan itu barangkali tinggal keinginan. Ada gamang bermain. Mungkinkah engkau mau kuajak ke tempat kerjaku sekarang? Mendampingiku bekerja sebagai guru di sebuah pelosok yang sulit dijangkau?

 

***

 

Astri,

Pertama kali menginjakkan kaki di daerah tempat aku sekarang bekerja sebagai guru, aku langsung dirundung beragam kesangsian. Adakah aku bisa berada di dunia yang jauh dari hingar-bingar tempat aku sebelumnya berada? Adakah dunia yang penuh keriangan dalam irama belajar anak-anak desa bisa membuat aku betah?

Untuk mencapai daerah Kidung – demikian nama daerah tempat aku bekerja – membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Dari kota kabupaten aku naik ojek sejauh 30 kilometer, memasuki daerah pebukitan dengan aspal tipis penuh lubang. Setelah itu aku mesti berjalan kaki melewati kali. Dari kali berjalan kaki sejauh 4 kilometer naik turun daerah bebukitan hingga akhirnya aku tiba di sebuah desa yang dihuni sekitar 95 KK. Di tengah-tengah desa itu berdiri sebuah bangunan SD, yakni tempat aku mengajar sekarang ini.

Aku tidak habis pikir mengapa aku ditempatkan di daerah seperti ini. Selain itu banyak tanya bermunculan di kepala. Bagaimana bisa pemerintah membangun sekolah di daerah seperti ini tanpa fasilitas jalan yang memadai untuk bisa sampai di tujuan? Adakah pemerintah kabupaten atau mereka yang bekerja di dinas pendidikan di ibukota kabupaten sana pernah berkunjung, menyaksikan langsung situasi yang ada?

Aku kemudian berkenalan dengan Pak Joko, Kepala Sekolah dan atasanku yang baru. Dari Pak Joko aku kemudian mengenali lebih jauh suasana tempat aku bekerja. Pak Joko kemudian memperkenalkan aku dengan guru-guru lainnya, yang ternyata rata-rata memiliki kegiatan yang sama: pagi mengajar, siang sampai sore bertani di sawah atau ladang.

Pak Akmal sudah beristri?” tanya Pak Joko saat berkenalan.

Belum, Pak,” jawabku sambil mengingatmu sekilas.

Cepat beristri, biar kerasan tinggal di desa ini. Cari saja perempuan di sekitar sini. Yang cantik banyak,” ujar Pak Joko.

Aku hanya tersenyum dan tidak menanggapi guyonan sang kepala sekolah. Namun setelah berkenalan lebih jauh dengan keluarga guru-guru dan kepala sekolah, aku menjadi kaget. Ucapan Pak Joko ternyata bukan guyonan. Rata-rata guru yang mengajar di sini beristrikan perempuan yang berasal dari desa ini. Hanya beberapa guru perempuan yang tidak bersuamikan orang-orang desa.

Astri tercinta,

Ingin sekali aku mengajakmu ke sini. Membina rumah tangga sambil melakukan kegiatan seperti penduduk desa. Kita beternak sapi di sini, membuat kolam ikan, dan turun ke sawah bersama-sama setelah aku selesai mengajar. Tapi adakah hal itu mungkin kita lakukan? Aku sangsi dengan telapak tanganmu yang halus itu.

 

***

 

Astri sayang,

Beberapa hari ini aku dilanda kegelisahan luar biasa. Rasa gelisah yang muncul dari pertentangan hati nurani dan kondisi yang ada. SK pengangkatanku sebagai guru PNS baru saja kuterima. Beberapa bulan lalu, Pak Joko baru saja dimutasi dan digantikan kepala sekolah yang baru. Namanya Pak Sodikin. Baru tiga bulan sebagai kepala sekolah, semua guru dan staf tata usaha menjadi gerah.

Masalahnya sederhana. Pak Sodikin dalam mengelola keuangan sekolah tidak setransparan Pak Joko. Dana BOS yang diterima sekolah, kabarnya sekian persen dipotong dan masuk ke kantong pribadinya. Alasannya untuk proses pencairan yang membutuhkan dana besar. Padahal setahuku, dana BOS dicairkan di BRI kecamatan, yang jaraknya sekitar 7 kilometer dan tidak membutuhkan biaya banyak.

Itu hanya salah satu yang membuat aku tidak lagi merasa enjoi bekerja. Seharusnya semua itu tidak menjadi urusanku. Tapi ternyata nuraniku tidak bisa membiarkannya.

Dua bulan lalu misalnya, sekolahku mendapat bantuan dana rehab 50 juta rupiah. Namun dari informasi yang diberikan Pak Dulawi – bendahara sekolah – dana yang ia pegang hanya 30 juta. Yang 20 juta sudah habis di tengah jalan. Memberikan persenan untuk orang-orang di dinas pendidikan kabupaten, persenan untuk orang-orang di kecamatan, persenan untuk konsultan, dan sisanya masuk ke kantong kepala sekolah. Persenan diberikan guna memperlancar proses bantuan berikutnya. Artinya, kalau ada bantuan lagi maka SD tempat aku mengajar akan mendapat prioritas. Mengapa mendapat prioritas? Karena sang kepala sekolah loyal memberikan persenan kepada atasannya, dan prioritas sekolah yang mendapat bantuan biasanya ditentukan oleh atasan tersebut.

Seperti hukum dagang, tawar-menawar. Tapi begitulah yang terjadi. Dari bendahara sekolah kemudian aku mendapat gambaran lain yang membuat aku tercengang. Betapa kebocoran dana terjadi di sana-sini. Betapa pemberantasan korupsi dan manipulasi hanya menjadi retorika saja.

Pada saat keuangan sekolah diperiksa oleh bawasda misalnya, semua berjalan mulus. Kuitansi dan nota siluman menyelamatkan laporan-laporan yang dibuat. Selain itu pada saat pemeriksaan, orang-orang bawasdanya pun dijamu sedemikian rupa di rumah makan mewah di ibukota kabupaten. Saat perjamuan selesai, lembaran-lembaran rupiah pun diselipkan di kantong mereka. Na’uzubillah. Bagaimana tidak akan lolos kalau pemeriksaan yang dilakukan seperti itu.

Astri yang baik,

Ada lagi hal lain yang membuatku semakin gerah, meski udara pebukitan sering membuatku mengigil.

Belum lama sekolahku mengadakan ulangan semester. Kebetulan di tempatku sudah melaksanakan kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tapi apa yang terjadi? Saat ulangan semester akan berlangsung, soal ulangan harus sama yang dikelola langsung oleh para kepala sekolah, yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa soal ulangan dibuat sama untuk semua sekolah yang ada. Kalau ada 250 SD di kabupaten maka soal yang diujikan sama. Setahuku, ulangan mestinya dibuat dan diserahkan kepada guru di sekolah masing-masing. Dari Pak Kabul, temanku, aku menjadi mengerti, bahwa keuntungan penggandaan soal apabila dikumpulkan semua, bisa membeli 3 mobil pribadi. Luar biasa.

Kadang aku berpikir untuk berhenti saja menjadi guru. Terus terang aku muak menyaksikan semua itu. Namun pada saat aku masuk kelas, keinginan berhenti menjadi guru sirna begitu saja. Berada di depan anak-anak terasa sangat menyenangkan. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka dan dunianya.

 

***

 

Astri sayang,

Betapa banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi kadang aku malu menyampaikannya. Rasanya semua hanya keluhan saja. Padahal aku ingin membuat cerita yang manis. Cerita yang katamu dulu sangat kamu sukai. Cerita-cerita tentang sepasang angsa di taman, lengkap dengan kolam ikan dan rumah impian, sebagaimana yang pernah ditulis penyair Eka Budianta. Aku juga ingin bercerita tentang gadis desa, tetangga sebelah, yang sering mencuri-curi pandang padaku. Atau cerita tentang pertengkaran kecil di kelas saat ada anak-anak saling mengolok temannya. Namun semua itu tidak lagi mampu kutulis. Berbagai beban sebagai guru, pendidik masyarakat, penentu nasib bangsa di masa depan, semua menjadi tidak bermakna di saat penyelewengan-penyelewengan begitu kental di hadapan mata. Dan aku tidak kuasa menghadapinya.

Namun jauh di pelosok desa, ingin kukabarkan, betapa aku merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu?

 

 

Pekalongan, Juni 2007

 

Biodata

 

Zulmasri, lahir di desa Padang Panjang, Kambang, kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat pada 11 Januari 1971. Mulai menulis dan mempublikasikan karya di media massa sejak kelas III SMP. Menyelesaikan S1 tahun 1996 di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, dengan skripsi yang berjudul Citra Kemiskinan dalam Cerpen Joni Ariadinata, Tinjauan Sosiologi Sastra.

 

Karya-karya berupa puisi, cerpen, kolom, ulasan sastra, film, dan teater, resensi, dan tulisan lainnya dimuat di media massa terbitan Padang (Harian Singgalang dan Haluan), Jakarta (Republika, Swadesi, Annida, Ceria Remaja, Aneka, Anita Cemerlang), Medan (Taruna Baru), Riau (Riau Pos), Semarang (Suara Merdeka), Yogyakarta (majalah Gerbang), dan Kuala Lumpur (Berita Harian).

 

Beberapa puisi menang dalam lomba dan dibukukan dalam antologi, di antaranya Taraju ’93 (1993), Sahayun (1994), Poeitika (1994), Hawa 29 Penyair (1995), dan Antologi Puisi Indonesia (1997). Menjadi Pembina jurnalistik/sastra di SMP Al-Irsyad (1999-2005), SMA Al-Irsyad (2002-sekarang), SMP Negeri 2 Talun (2005 s.d. sekarang). Saat ini mengajar dan membina jurnalistik di SMP Negeri 2 Talun, SMA Negeri 1 Pekalongan, dan SMA Al-Irsyad Pekalongan.

 

Alamat

Email:
mastermasri@gmail.com

mastermasri@yahoo.co.id

 

Web:

http://masterzulmasri.blog.com

https://zulmasri.wordpress.com

Telp (hp): 085642638639

Surat: SMA Al-Irsyad, Jalan Seruni 66 A Pekalongan, Jawa Tengah 51123

 

 

 

 

 

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Cerpen

 

Tag:

 
%d blogger menyukai ini: