RSS

Mendung di Bukit Sengare

19 Jan

Adakah yang lebih menyedihkan saat lambai pisah sudah diputuskan sebagai pilihan? Adakah mampu mengusir air mata tumpah bila kebersamaan yang tercipta harus berakhir di ambang mata?

Rabu, 18 Januari 2012 di bebukitan Sengare, di sebuah sekolah, SMP 2 Talun. Pada 2 kelas yang saya masuki, saya menyampaikan kabar itu. Kabar yang saya balut dengan kata-kata pisah. Bahwa hari itu adalah hari terakhir saya mengajar di SMP 2 Talun. Sebuah sekolah yang notabene terletak jauh dari perkotaan. Sebuah sekolah desa yang terus menggeliat dan memposisikan dirinya bukan sebagai underdog. Indikatornya jelas, hasil ujian nasional dan beberapa prestasi prestisius pernah diraih. Namun di luar semua itu, prestasi kebersamaan yang tercipta antara guru dan siswanya jauh lebih luar biasa.

Maka tidak mengherankan, bila para siswa yang saya kabari berita itu sontak kaget dan sedih. Berita yang memang sebelumnya tidak mereka sangka. Berita yang memang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Apalagi anak-anak binaan ekstrakurikuler jurnalistik yang memang merasa amat dekat. Dengan lirih salah seorang dari mereka berucap, “…lha terus yang akan melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik siapa, Pak?”

Bagi saya, kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik termasuk ujung tombak mengasah kemampuan siswa dalam menulis. Oleh karena itu saya sempat tercenung sejenak, lalu berusaha menghela air mata yang tumpah sembari menjawab dengan penuh ketidakpastian. “Mudah-mudahan nantinya ada yang menggantikan saya….”

***

Siang itu suasana Bukit Sengare diliputi mendung tebal. Biasanya memang demikian. Hujan biasa turun pukul 11.00, apalagi di saat musim hujan begini. Seringkali dari sekolahan saya harus mengenakan mantel karena hujan, namun begitu mendekati pinggiran kota saya bertemu dengan cuaca panas terik. Bila rasa malas muncul untuk turun dari kendaraan roda dua guna mencopot mantel yang dikenakan, jadilah saya pengendara yang ajaib: mengenakan mantel hujan pada cuaca yang menyengat.

SK mutasi saya per 13 Januari 2012 memang sudah saya terima. Secara resmi saya pindah ke SMP 1 Sragi. Sebuah sekolah berlabel SSN, yang pada tahun sebelumnya mengalahkan RSBI dalam capaian prestasi ujian nasional. Sebuah sekolah yang terdiri dari 24 kelas dan sering mencetak prestasi juara. Sebuah sekolah yang berjarak 7 km dari tempat saya tinggal, beda jauh dengan SMP 2 Talun yang harus saya tempuh sejauh 35 km.

Siang itu saya kembali melakukan napak tilas, mengenang saat pertama saya datang tahun 2005 lalu.  Saat sekolah sudah sepi, saya pun pulang dengan laju kendaraan yang pelan. Melewati jalanan berbatu dengan aspal yang sudah tidak kelihatan lagi. Terakhir, jalan ke Sengare tempat SMP 2 Talun berada memang diperbaiki dengan aspal tambal sulam tahun 2008 lalu. Sejak itu belum ada lagi perbaikan. Bisa dibayangkan, jalanan yang hanya diaspal tambal sulam, dilewati truk yang mengangkut daun teh dan terkadang kayu, ditambah dengan hujan yang hampir tiap hari turun, jelas menambah parah keadaan. Tidak mengherankan, kawan-kawan sesama guru sudah terbiasa jatuh dari kendaraan.

Di luar hal itu pada beberapa bagian memang masih ada beberapa ruas jalan yang masih baik, terutama daerah agak bawah yang diaspal tambal sulam menjelang pilkada tahun lalu. Saya pun berhenti sejenak, menikmati keindahan Bukit Sengare.

Di langit mendung kian bergayut. Tak lama tetes hujan pun jatu. Saya nyalakan kendaraan, melaju menuruni bebukitan Sengare.

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2012 in Diari, Lain-lain, Pendidkan

 

Tag: , ,

18 responses to “Mendung di Bukit Sengare

  1. DV

    19 Januari 2012 at 06:16

    Pindah tugas dari satu tempat ke tempat lain memang menyesakkan ketika berpisah, Pak.
    Dulu saya juga demikian. Membangun usaha sendiri sejak 2000 lalu tahun 2008 saya putuskan untuk menjual saham ke teman lain, rasanya seperti… ah tak terperikan.

    Tapi hidup ini pilihan dan kita didorong maju untuk terus memilih dan memilih, kesedihan hanyalah konsistensi dan .. hey bukankah itu awalan untuk hari yang lebih indah?

    Selamat bertugas di tempat baru ya!

     
    • Zulmasri

      21 Januari 2012 at 14:24

      betul mas dv. Hidup adalah pilihan. Terima kasih atas ucapannya, semoga di tempat baru benar-benar menjadi lebih indah

       
  2. Apriyanti

    20 Januari 2012 at 02:19

    pasti berat meninggalkan apa yg selama ini telah diperjuangkan … selamat datang di sragi pak zul, tentu anak2 smp 1 sragi senang menerima bapak …

     
    • Zulmasri

      21 Januari 2012 at 14:26

      Benar Bu, berat memang, tapi itulah pilihannya.

      Semoga dan insya Allah, saya bisa diterima di tempat yang baru

       
  3. Imelda

    20 Januari 2012 at 11:38

    Ikut terharu membacanya Uda Zul. Meskipun sulit kondisinya, macam-macam ragam nya (kepseknya ganti terus kan?) tapi jika harus berpisah, pasti keharuan akan terus terbawa …sampai awal-awal tahun di tempat baru. Semoga Uda tegar menghadapi perpisahan ini, dan tetap bersemangat sama di tempat yang baru. Ditunggu terus ceritanya.

    Tabik

     
    • Zulmasri

      21 Januari 2012 at 14:29

      Terima kasih mbak imel. Sapa ceria anak-anak SMP 1 Sragi ternyata juga Alhamdulillah, sangat baik dan bisa menerima kehadiran saya….

       
  4. Masruroh

    20 Januari 2012 at 21:19

    Selamat ya Pak Zul, akhirnya pindah tugas di sekolah yg lebih dekat dg rumah, ditunggu prestasinya yg lebih tentunya krn energi di perjalanan kan gak sebanyak ke sengare ya….

     
    • Zulmasri

      21 Januari 2012 at 14:31

      Terima kasih Bu Masruroh, semua dengan doa dan dukungan ibu juga tentunya. Semoga saya bisa berbuat sesuatu di tempat yang baru.

       
  5. Anonim

    22 Januari 2012 at 13:29

    selamat pak…..semoga sukses ditempat yang baru…..mudah mudahan sekolah yang lama tetap meraih prestasi dan sukses juga………………berat memang tp itu pilihan………………

     
  6. Yassir

    26 Januari 2012 at 01:06

    Pak Zul, biasah tuh…. copat-copot jabatan, gonta-ganti posisi, itu semua bermuatan politis. Kalau ada yg bilang untuk penyegaran…ha..ha… sudah basi. Cuma lipsync. Makanya, urusan pendidikan lebih baik di-sentralisasi aja. Biar terbebas dari kepentingan politik.

     
  7. Kusdiyono

    22 Februari 2012 at 14:53

    Wah. lama tdk berkunjung ke blog pak Zul….ternyata sudah mutasi ke SMP tempat saya belajar dulu. Saya alumni SMPN 1 Sragi lulus tahun 1985. Tempat tinggal saya di dukuh Gembyang Sragi (sekarang adik saya yg menempatinya,namanya Teguh, sopir angkot Pait-Kesesi). Selamat mencerdaskan “adik-adik” kelas saya, selamat berbagi ilmu jurnalistik dengan anak2 Sragi. Salam hormat saya buat Pak Sugeng, guru PKN (klo masih), beliau masuk saat saya kelas 3, atau Pak Mul, guru Olahraga…

     
    • Zulmasri

      23 Februari 2012 at 11:06

      Pak Sugeng sekarang menjadi Kepala Sekolah di SMP 3 Kedungwuni. Kalau Pak Mul masih di SMP 1 Sragi.

       
  8. Potter

    31 Maret 2012 at 08:46

    Apa Kabarnya Pak Zul, sudah lama saya tidak mampir ke sini.🙂

     
    • Zulmasri

      3 April 2012 at 04:54

      Alhamdulillah mas Potter. Masih ingat ya…

       
  9. Carter Vaughan

    23 Mei 2012 at 05:47

    dan akhirnya saya sudahi tulisan ini tuk selasa tengah malem pukul 1 21 WIB, saya skindra servo pamit dari anda terima kasih telah membaca ini,.

     
  10. ariku

    18 Juli 2012 at 21:04

    ketika ilmu yang diperoleh belumlah cukup, tapi satu persatu mentor meninggalkan, ingin rasanya menangis kadang marah juga. Tapi inilah hidup, sering memaksa tuk belajar pada ketiadaan.

     
    • Zulmasri

      19 Juli 2012 at 04:48

      Sabar…, yang pasti, ya, inilah hidup. Penuh dengan pilihan

       
      • ariku

        20 Juli 2012 at 11:02

        semoga, bisa selalu melewati segala ujian dan tantangan.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: