RSS

Sarmini, Sebuah Mimpi Seorang TKI

21 Jun

Berkaca-kaca saat menonton tayangan TV ONE dalam acara Apa Kabar Indonesia 21 Juni 2011 pukul 09.00. Betapa tidak, ditengah kabar menyedihkan mengenai  TKI yang bekerja di Arab Saudi meninggal setelah dihukum pancung, Sarmini bernasib mujur. Tanggal 20 Juni 2011 secara resmi ia diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan di Universiti Terbuka Malaysia (OUM).

Nasib Sarmini memang berbeda dengan nasib TKI lainnya. Berangkat ke Malaysia tujuh tahun lalu, dengan semangat menggebu, mengumpulkan lembar Ringgit untuk menuntaskan cita-cita, ternyata tidak disangka-sangka, nasib baik berpihak padanya. Majikannya yang baik hati dan sangat toleran malah ikut membantunya sehingga bisa kuliah di Malaysia. Padahal, niat semula Sarmini adalah mengumpulkan Ringgit lalu pulang dan kuliah di negeri sendiri.

Sarmini Muhyadi, demikian nama lengkapnya. Usianya 28 tahun.Dilahirkan di sebuah perkampungan Banyumas, Jawa Tengah. Kepada TV ONE Sarmini berbicara terbata-bata di tengah kebahagiaannya, karena bisa berbicara langsung dengan orang tuanya. Sarmini kemudian menceritakan kegiatannya sebagai pembantu rumah tangga. Pada saat senggang ia pun memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu.

Sarmini selain mendapat majikan yang baik, ke Malaysia bekerja membawa mimpinya. Mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Mimpi untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang guru.

Kini Sarmini boleh berbangga. Cita-citanya tergapai sudah. Menjadi TKI, baginya, bukanlah seperti kebanyakan mereka yang berangkat atau datang ke Malaysia.

Tidaklah mengherankan, selain menguasai bahasa Indonesia (dan kemudian dengan logat Melayu) Sarmini juga mampu berbahasa Inggris dan menguasa teknologi informasi. Sarmini di tempat majikannya memang diberi bekal pelajaran bahasa Inggris dan  teknologi informasi.

Semoga saja, di masa mendatang kita bisa lebih banyak mendengar cerita yang sama dengan Sarmini.

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Juni 2011 in Jurnalistik, Lain-lain

 

Tag: ,

12 responses to “Sarmini, Sebuah Mimpi Seorang TKI

  1. kezedot

    21 Juni 2011 at 20:00

    semoga selalu ada cerita maniez dari sarmini lainnya

     
  2. Ikkyu_san

    23 Juni 2011 at 06:41

    wah Sarmini beruntung sekali ya. Tapi tentu kerjanya lebih keras karena selain harus bekerja, dia juga harus belajar. HEBAT. semoga ada Sarmini-sarmini lain yang punya NIAT belajar lebih dan lebih….

    EM

     
    • Zulmasri

      23 Juni 2011 at 07:21

      betul mbak imel. Saya membayangkan, kalau saja para TKI kita nasibnya seperti Sarmini (setidaknya memiliki mimpi seperti Sarmini)

       
  3. omiyan

    23 Juni 2011 at 14:11

    sebaiknya pengiriman ke TKI tidak asal TKI tapi memenuhi syarat…. baik dari segi fisik kemampuan bahasa dan keahlian…

    salam

     
    • Zulmasri

      23 Juni 2011 at 21:47

      setuju om. setuju banget. lebih setuju lahi bila tki itu bukan PRT

       
    • Zulmasri

      23 Juni 2011 at 21:47

      setuju om. setuju banget. lebih setuju lahi bila tki itu bukan PRT

       
  4. honeylizious

    23 Juni 2011 at 15:51

    tidak semuanya bernasib buruk dan tidak semua bernasib baik…

    Ruyati adalah sebuah peringatan…

    Sarmini juga adalah peringatan…

    Seperti sebuah uang logam yang memiliki dua sisi

    Berdekatan tapi tidak pernah bisa disamakan

    Sama-sama TKI tapi berbeda nasibnya

     
    • Zulmasri

      23 Juni 2011 at 21:46

      benar. musibah atau rahmat bisa jadi adalah peringatan….

       
  5. DM

    24 Juni 2011 at 17:39

    Tidak bisa untuk tidak salut dan kagum dengan apa yang diceritakan tentang Sarmini maupun majikannya. Bahwa:

    1. Sarmini berada di keluarga yang tepat. Ya memanusiakan manusia. Ya memberikan hak. Bahkan barangkali melebihi hak kebanyakan TKI. Dalam hidupnya ia memiliki kesempatan untuk menyadari: menjadi PRT bukan takdir hidupnya untuk selama-lamanya.

    2. Tidak semua majikan (Malaysia) kejam, dehumanisasi, dan merenggut hak pekerja, seperti yang kerap diseru-serukan media massa.

    Namun satu hal: tetap ada kemirisan.

    1. Bahwa Sarmini bisa mengubah hidupnya di negera lain. Di negara Malaysia. Sesuatu yang barangkali di dalam otaknya takkan pernah terbersit dan terjadi jika ia hidup dan tinggal di Indonesia.

    2. Ia berangkat ke Malaysia sebagai TKI. Sebagai PRT. Betapa pun beruntung hidupnya (tak bisa kita nafikan), namun ia tetap seorang PRT, yang berangkat dari Indonesia, bekerja di Malaysia, sebagai TKI.

    Sampai abad berapa Indonesia akan terus mengekspor TKI? Tidak bisakah rakyat Indonesia kebanyakan membuat maju hidupnya di negara sendiri?

    Salut namun juga miris. Yah, apa boleh buat: kita memang hidup di negara yang bukan kebetulan bernama Indonesia.

     
  6. tajudinahmad

    26 Juni 2011 at 23:26

    seandainya banyak majikan yang begitu…….

     
  7. Asop

    4 Juli 2011 at 14:03

    Saya geli juga lho Mas, mendengar logat Mbak Sar bicara, sudah seperti orang Malaysia.:mrgreen:

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: