RSS

Dari Jendela

17 Apr

: bagi komuni Priok

dari jendela kembali kita tatapi lukisan kematian di rumah-rumah
ribuan pelayat menangis dalam antrean ke gerbang pemakanan
dari jendela kita saksikan lagi mendung melintas
di gurun-gurun dan rimba-rimba
genangan air mata mengaliri sungai dan wajah-wajah asing
di sepanjang kebekuan kata-kata

keberangkatan penuh tanya
dari jendela kita saksikan kematian pelan-pelan
tanpa teriakan peringatan
ribuan peziarah memanjatkan doa-doa musim
mendengung di antara gelisah kesunyian dan kesendirian
dalam tamparan angin dan ruang yang mendera

dari jendela
“pergilah!” usir sesuara
perjalanan membekukan darah dan keinginan
ribuan kali caci maki dan tangis
sinis dan amis
di antara alasan tatakota, pembangunan swalayan
jembatan, jalan raya, dan jalur ekonomi dunia
dari jendela kita mencatat penggusuran, pemusnahan komuni
dan pembakaran budaya
dari jendela kita saksikan kematian
di antara pertanyaan-pertanyaan keberangkatan
— mau ke mana, untuk apa, untuk siapa? —
yang kembali menggema di tembok pemakaman

Ket. gambar dari sini

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 17 April 2010 in Jurnalistik, Lain-lain, Puisi

 

Tag:

8 responses to “Dari Jendela

  1. ikkyu_san

    17 April 2010 at 17:16

    masih tetap tidak mengerti
    kenapa kekerasan selalu menjadi jalan yang diambil
    oleh orang yang mengaku berTuhan

    EM

     
  2. musafak

    18 April 2010 at 15:39

    Peristiwa tanjung periok berdarah, semakin menguatkan “kesimpulan” saya, betapa bangsa Indonesia yang notabene mayoritas beragama Islam, tapi tidak mau mengikuti ajaran Nabi SAW agar selalu bersikap TASAMMUH.

    Dari peristiwa tersebut tergambar betapa sense of social dari berbagai pihak, terutama para pembuat kebijakan dan pemilik uang, sangat memperihatinkan.

     
  3. Hanif

    22 April 2010 at 12:39

    hah… semoga tidak hanya untuk satu kepentingan saja, yang akhirnya menumpahkan banyak kepentingan. haduh2…

     
  4. zaldi

    27 April 2010 at 18:54

    Yah…kedasaran kita bersama diperlukan…

     
  5. zaldi

    27 April 2010 at 18:56

    Yah kesadaran dan kearifan kita bersama diperlukan…

     
  6. vizon

    1 Mei 2010 at 11:04

    meski sudah cukup lama, tapi luka yang ditinggalkan oleh kejadian itu, masih membekas keras di hati ini Da Zul… miris!

     
  7. bahtiyarzulal

    19 Mei 2010 at 11:03

    manusia jaman sekarang ini gambarannya semakin tidak jelas, antara spiritualis dan ateis… satu langkah kedepan manusia akan menjadi spiritualis dan satu langkah ke belakang akan menjadi ateis

     
  8. khoirul

    24 Juni 2010 at 14:55

    semoga pristiwa yang mencoreng agama dan negara ini tidak terjadi lagi. tak ada gunanya adu fisik, hanya merugikan diri kita sendiri………….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: