RSS

Membiasakan Diri dengan Jurnal Belajar

22 Jan

Guru bukanlah manusia sempurna. Biarpun banyak yang mengatakan bahwa profesi guru termasuk yang dihormati dan memiliki sikap yang dapat ditiru di tengah-tengah masyarakat, guru tetaplah manusia biasa. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila guru pun juga memiliki kekurangan.

Di sekolah pun demikian. Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru tidak terlepas dari berbagai kelemahan. Pada saat kelemahan itu muncul, tak pelak muridlah yang kemudian menjadi objek yang terkena dampaknya.

Banyak hal yang bisa mempengaruhi kulitas mengajar guru menjadi tidak seperti yang diharapkan. Persoalan-persoalan keseharian di rumah dan di tempat kerja bisa saja menjadi penyebab kurang maksimalnya guru dalam mengajar. Di samping itu, minim dan kurangnya kemauan seorang guru untuk bisa berbuat lebih baik dalam mengajar juga menjadi hal yang mengakibatkan kurang berkembangnya kemampuan guru. Boleh jadi, guru yang tidak bisa mengembangkan dirinya akan menjadi “budak” buku teks atau kurikulum. Selain itu, situasi lingkungan sekolah ikut memberi andil, terutama kaitannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah dan urusan kurikulum.

Keadaan yang stagnan, membosankan, dan suasana lain yang kurang kondusif tentu saja bisa mengakibatkan kerugian yang amat besar pada murid. Lihat dan amatilah para murid yang sedang diajar, adakah menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan kesungguhan dalam belajar atau sebaliknya? Dari sini semua berawal dan bisa dinilai, bagaimana sebenarnya penciptaan suasana belajar oleh seorang guru.

Jurnal Belajar
Salah satu upaya perbaikan kualitas seorang guru adalah dengan membiasakan membuat jurnal belajar menjelang akhir pembelajaran. Jurnal ini bisa berupa buku atau catatan yang berasal dari murid. Sang murid diminta untuk merespon bagaimana pembelajaran yang dilaksanakan pada jam tersebut. Bentuk respon itu bisa berupa komentar sang murid, usulan, pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan, dan sebagainya.

Tentu saja seorang guru harus bisa bersikap lebih bijak bila ada komentar yang tidak mengenakkan hati. Misalnya saja bila ada murid mengomentari bahwa pembelajaran membosankan atau lebih cenderung membuat mata mengantuk. Situasi yang dikomentari murid harus ditanggapi dengan upaya perbaikan. Misalnya saja sang guru harus mengubah model pembelajaran atau strategi pembelajarannya.

Di samping bisa sebagai bahan masukan, jurnal yang ditulis murid juga memiliki keistimewaan lain. Melalui jurnal ini guru juga bisa melakukan riset atau penelitian. Hal lain tentu saja keuntungan bagi murid itu sendiri. Melalui jurnal belajar, murid terbiasa mengeluarkan pendapat (meski secara tertulis), sebagai langkah awal membiasakan murid dalam menulis dan mengungkapkan perasaannya.

Jurnal belajar yang telah ditulis murid, sebagai bagian dari refleksi pembelajaran, tentu saja harus dibaca oleh guru. Bila ada materi yang belum dikuasai murid, guru dapat menjelaskan kembali pada pertemuan berikutnya.

Adalah hal yang tidak dapat dinafikan, bahwa ada murid yang enggan bertanya saat kesempatan itu diberikan oleh guru. Melalui jurnal belajar, secara tidak langsung guru telah membiasakan muridnya untuk berkomunikasi. Dari komunikasi tertulis demikian diharapkan ke depannya, para murid juga berani mengutarakan sesuatu secara lisan.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Januari 2010 in Lain-lain

 

14 responses to “Membiasakan Diri dengan Jurnal Belajar

  1. arif

    23 Januari 2010 at 07:16

    numpang blogwalking yahūüėÄ

     
  2. marsudiyanto

    23 Januari 2010 at 19:24

    Pengin mencoba resepnya…

     
  3. M Mursyid PW

    24 Januari 2010 at 00:39

    Jurnal pembelajaran versi administrasi biasa kita buat, tetapi sekali lagi, sifatnya administratif sekali dan isinya sebatas hari, tanggal, jam ke dan materi yang telah disajikan sampai sejauh mana.
    Jurnal seperti yg p Zul wacanakan di atas OK juga dan saya rasa perlu dicoba.

     
  4. Rindu

    26 Januari 2010 at 18:42

    kalau saya murid yang nanya melulu, sampai guru saya bilang “Ade, gantian yah sama yang lain” *diem langsung*

     
  5. edratna

    29 Januari 2010 at 09:17

    Saya sepakat pak, karena saya juga pengajar…bedanya murid saya orang dewasa, dan harus membayar jika ikut pelatihan atau seminar. Dan karena membayar, selesai pelatihan, mereka akan mengisi evaluasi…tentang penyampaian pengajar, apa pengajar tersebut menguasai bidangnya, dapat memberikan situasi pelatihan yang menyenangkan, dan apakah persiapan cukup dsb nya.

    Jika nilai evaluasi tidak baik, maka tak boleh mengajar lagi…dengan demikian, pengajar akan dipaksa untuk terus memperbaiki mutunya.
    Saat saya menjadi Kepala Divisi Diklat, disuatu Bank, ada instruktur internal..kinerjanya dinilai dari hasil evaluasi siswa yang diajar. Jika nilainya kurang, maka dia akan di down grade, tak boleh mengajar dan kinerjanya juga berpengaruh…yang berakibat kenaikan pangkat tertunda.

    Saat pak KK jadi rektor ITB, juga menggalakkan penilaian seperti ini…mahasiswa diminta memberi evalusi para dosen (saya tahu dari anak saya yang kuliah di sana)

     
  6. marshmallow

    31 Januari 2010 at 23:00

    wah, saya sangat merasakan pentingnya jurnal belajar ini, da. baik dalam bentuk buku log ataupun portofolio. bahkan diary pun bisa digunakan sebagai evaluasi diri, termasuk dalam hal belajar.

    namun hal yang tak kalah perlu dipertimbangkan adalah dalam hal penilaian hasil evaluasi diri ini, apa komponen penilaiannya, dan bagaimana agar siswa merasa perlu untuk melakukan ini, mengingat evaluasi diri termasuk hal yang penting untuk dinilai secara formatif.

     
  7. rennypebrica

    19 Mei 2010 at 09:30

    sangat inspiratif dan patut dicoba.
    kunjungi saya di Blog saya

     
  8. harisbakri

    29 Juli 2010 at 15:16

    saya minta contoh

     
  9. harisbakri

    29 Juli 2010 at 15:17

    bisa minta contoh

     
  10. rudy

    3 September 2010 at 20:55

    saya minta contoh secepatnya untk KKG BERMUTU

     
  11. Anonim

    16 September 2010 at 11:17

    Wah.. Kl gituh q kan coba bkn jurnal belajar, sbg calon guru yg baik, q hrz bisa mencoba tuk melunakan para murid.trutama dlm hal belajar, tp mslah nya tuk sa’t ini q msh belajar di SMA, tidur di kelas dah mjd kebiasa’n, pa itu krn faktor guru nya yg tdk punya jurnal belajar ych?

     
  12. ana

    16 Januari 2012 at 23:22

    boleh tanya buku2 yg mmbahas soal jurnal belajar….??

     
  13. endah

    25 Maret 2012 at 10:39

    pak..minta referensi tentang jurnal belajar, mksh
    atau kirim k email saya kalau bisa
    trianaendah16@yahoo.co.id

     
  14. HambaAllah

    21 Maret 2013 at 19:25

    nice artikel sobūüôā

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: