RSS

Ke Semarang Naik Bus Murah

22 Des

Lama sudah saya tidak merasakan bagaimana suasana naik kendaraan umum dengan suasana yang benar-benar merakyat, dalam artian berbaur dengan masyarakat biasa, masyarakat kebanyakan yang memang lebih memilih naik transportasi biasa dan murah. Hal itu saya alami saat akan mengikuti pelatihan guru yang diadakan di Hotel Patra Jasa Semarang.

Rencana semula saya mau naik travel atau bus patas. Namun saat menghubungi beberapa agen travel, ternyata travel yang berangkat jurusan Pekalongan-Semarang sudah penuh semua. Alhasil, saya merencanakan untuk naik bus patas.

Biasanya bila saya ke Semarang, saya lebih memilih naik travel atau naik bus patas. Harganya pun tidak terlalu mahal. Naik travel dengan tarif Rp40.000,00 biasanya kita langsung diantar ke alamat yang dituju. Sementara bila naik bus patas tarif Pekalongan-Semarang pun hanya Rp25.000,00. Suasananya pun lumayan, terasa nyaman

Hari Minggu, 19 Desember 2009 saya sudah bersiap. Rencananya saya berangkat bersama teman, Pak Dewanto. Janjian bertemu di terminal Pekalongan sekitar pukul 12.00.

Dari rumah saya pun naik sepeda motor menuju terminal Pekalongan. Setelah sepeda motor saya titipkan di tempat penitipan, saya pun segera masuk terminal mencari sang teman. Oleh karena tidak berhasil saya temukan, saya pun segera menghubunginya. Ternyata teman saya masih diperjalanan menuju terminal. Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 12.20.

Saya pun ke loket bus patas Nusantara. Petugasnya mengatakan bahwa bus sudah berangkat dan jadwal keberangkatan berikutnya pukul 16.00. Rasanya tidak mungkin bila saya naik bus patas ini, karena menurut rencana kegiatan pelatihan akan dimulai pukul 16.00. Saya pun bergegas ke loket bus Coyo.

Ternyata tiket untuk jadwal keberangkatan bus Coyo yang pukul 12.30 sudah habis. Kalau mau yang pukul 13.30, info petugasnya.

Saya tidak bisa memutuskan sendiri. Saya harus rembug dulu dengan teman saya. Untunglah Pak Dewanto datang tidak lama kemudian. Setelah berembug, kami pun menunggu kedatangan bus tersebut.

Pukul 12.40 bus Coyo memasuki terminal. Bus ternyata hampir penuh. Pak Dewanto pun segera memesan karcis di loket. Menurut petugas, untuk keberangkatan bus yang baru masuk, otomatis kami tidak bisa ikut, karena sudah ada yang memesan tiket sebelum kami. Kalau mau silakan menunggu satu jam lagi. Itu pun dengan catatan bila bus yang masuk terminal nantinya tidak penuh.

Kami kembali berunding. Hasilnya, kami pun memutuskan untuk naik bus biasa, bus ekonomi.

Saya jadi teringat kembali beberapa tahun silam saat menjadi siswa dan mahasiswa. Apabila bepergian saya senantiasa lebih memilih naik bus biasa dibandingkan naik bus ber-AC. Selain murah, dengan naik bus biasa saya pun seringkali mendapatkan berbagai ide untuk saya tulis. Badan berada di bus, tapi pikiran berkelana ke mana-mana.

Dan hari Minggu, berangkat ke Semarang, saya kembali naik bus biasa. Bus tanpa AC buatan, tapi pakai AC alami.

Dari terminal Pekalongan, bus berangkat sekitar pukul 13.00. Belum terlalu penuh. Melewati Batang, Subah, dan Weleri beberapa kali bus berhenti menaikkan penumpang. Sejak dari Subah penumpang sudah mulai berjubel. Banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Berdiri memegang gagang pegangan, berayun-ayun. Bebauan bercampur baur. Bau durian, bau asap, dan bau keringat. Dan bus terus melaju. Sesekali berhenti dan menaikkan penumpang.

Saat lebaran puluhan tahun lalu, dari Jakarta menuju Padang beberapa kali saya juga naik bus biasa. Sempit dan berdesakan dengan aroma campur baur. Ternyata hari Minggu, 19 Desember 2009, sepuluh tahun kemudian, kenyataan itu tetap saya alami. Tak ada perubahan.

Transportasi kita memang demikian adanya. Keselamatan dan kenyamanan penumpang sebagai pembeli jasa tetap berada pada nomor dua. Nomor satu tetap saja kepunyaan yang membawa bus. Jejali penumpang sebanyak-banyaknya sehingga keuntungan bisa berlipat ganda.

Saat lebaran atau libur akhir tahun persoalan transportasi di negeri ini kurang lebih seperti kenyataan yang saya alami, perjalanan pendek Pekalongan-Semarang. Pemerintah memang sering berkoar akan meningkatkan mutu layanan transportasi. Tapi kenyataannya, dari hari ke hari yang kita dapatkan adalah kenyataan, banyak penumpang yang terlantar keselamatannya.

Entah sampai kapan kenyataan ini terus berlangsung. Entah sampai kapan masyarakat biasa, rakyat awam, mereka yang lebih memilih naik bus biasa karena keterbatasan keuangan, merasakan kenyamanan saat naik angkutan umum. Merasakan dan menikmati perjalanan dengan enjoi, mengenyahkan jauh-jauh rasa stress kehidupan sehari-hari.

Tentu dalam batin kita masih berharap. Walau itu artinya menanti. Menanti dan menanti. Menanti dalam ketidakpastian.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Desember 2009 in Diari

 

5 responses to “Ke Semarang Naik Bus Murah

  1. vizon

    23 Desember 2009 at 10:35

    saya juga belakangan sudah jarang naik bus ekonomi. kenyamanan fisik selama perjalanan adalah alasan utama untuk memilih transportasi terbaik, meski harus sedikit merogoh saku.

     
  2. buraqmanari

    23 Desember 2009 at 18:46

    salam kenal ya….. numpang nampang neeehūüėÄ
    http://buraqmanari.wordpress.com/

     
  3. marshmallow

    24 Desember 2009 at 19:14

    memang pertanyaan retorika itu, da. entah sampai kapan…
    masyarakat sudah terbiasa apriori dengan sistem transportasi kita. begitulah. kalau tak bisa mengubah, yah terpaksa turut menikmati saja.

     
  4. Vicky Laurentina

    25 Desember 2009 at 17:19

    Bagi saya, kenyamanan adalah segala-galanya. Bus selalu membuat saya lelah, entah karena tempat duduk yang berebutan atau supir yang ugal-ugalan. Penting buat saya untuk tetap segar di tempat tujuan, supaya saya bisa menunaikan aktivitas saya dengan baik, dan naik bus tidak bisa memberi saya kenyamanan atas hal itu.

     
  5. lazuard

    26 Maret 2010 at 00:53

    enakan TRAIN

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: