RSS

MENGUBAH CITRA SEKOLAH

06 Jul

Memasuki tahun pelajaran 2009/2010 yang dimulai 13 Juli 2009 ini, berarti hampir 5 tahun sudah saya mencoba mengabdikan diri di SMP Negeri 2 Talun. Sebuah masa yang mungkin belum terlalu lama. Namun dengan jarak tempuh dari rumah yang hampir 80 km pulang pergi, masa 5 tahun cukup terasa. Apalagi 10 km dari perjalanan itu harus ditempuh dengan medan mendaki, jalanan penuh lobang, menyempit, dan lumayan licin saat hujan.

Akan tetapi semua hingga hari ini masih bisa saya atasi. Perjalanan pulang pergi biasanya saya nikmati dengan tanpa beban. Pikiran yang segar dan mencoba ‘cuek’ dengan perihal yang mungkin muncul sebagai bagian atau upaya merongrong diri.

Dalam masa hampir 5 tahun itu pula, banyak hal bisa saya catat sebagai sebuah perjalanan hidup. Masa yang cukup singkat bila dinikmati dengan gembira dan penuh keikhlasan.

Walau belum genap 5 tahun, yang pasti saya sudah menikmati 4 kali pergantian kepemimpinan sekolah (kepala sekolah). Empat kepala sekolah dengan berbagai tipe, kebijakan, model memimpin, dan sejenisnya.
DSC00193

Saya teringat masa-masa sebelumnya, saat saya masih bekerja di sekolah swasta. Jabatan terakhir saya sebelum diangkat menjadi PNS adalah kepala sekolah. Jadi seperti apa dunia kepala sekolah, saat berkumpul dalam wadah MKKS, saat berhadapan dengan atasan atau bawahan, sampai sejauh mana kepedulian terhadap sekolah, anak didik, dan rekan guru, rasanya bagi saya sesuatu yang tidak asing lagi. Teristimewa lagi saat menghadapi berbagai intrik, persoalan keuangan, suap, dan sebagainya. Dalam 2,5 tahun kepemimpinan saya sebagai kepala sekolah, saya sudah mempelajari semuanya. Beruntunglah, saya berada di sebuah sekolah swasta yang sangat ketat dalam pengawasan keuangan dan kebijakan. Alhasil, selama saya memimpin, persoalan keuangan bisa saya selaraskan dengan kebijakan yayasan.

Hingga saat ini, persoalan-persoalan di sekolah terkadang membuat saya tidak mengerti. Kadang persoalan itu membuat saya geleng-geleng kepala. Persoalan keuangan misalnya, adalah sesuatu yang sangat vital. Tugas guru memang mengajar, namun bukan berarti tidak menggiring keuangan sekolah (lebih khusus lagi dana BOS). Adalah sesuatu yang mencengangkan bila hingga kini misalnya, masih ada kepala sekolah dalam masalah keuangan masih sangat tertutup. Sebagai seorang guru, bagaimanapun memiliki hak untuk mengerti kemana keuangan sekolah dibelanjakan. Apabila ada kepala sekolah yang menutup-nutupi persoalan keuangan, lebih baik didemo saja, karena menunjukkan adanya iktikad tidak baik. Demikian pula, sebagai orang tua atau warga masyarakat, ada hak untuk mengetahui sampai sejauh mana dana-dana sekolah berjalan dengan jalur yang semestinya.

Memang persoalan yang ada di sekolah bukan hanya persoalan keuangan semata. Namun tidak dapat disangkal, keuangan merupakan masalah vital dan sangat sensitif. Menjadi kepala sekolah yang baik haruslah mampu menjadikan keuangan sekolah bisa dipergunakan sesuai dengan seharusnya. Menjauhkan diri dari predikat ‘kapal keruk’ bagi sekolah dan komponennya.

Mengubah citra sebuah sekolah memang bukan persoalan mudah. Bagi saya, yang paling penting, kepala sekolah mestilah menjadikan semua komponen yang ada di sebuah sekolah merasa nyaman. Siswa merasa nyaman saat menghadapi kegiatan pembelajaran, guru juga merasa nyaman saat menghadapi tugas-tugasnya, pegawai tata usaha juga demikian. Semua itu bisa tercipta bila sekolah memang mempunyai pemimpin (kepala sekolah) yang mampu mengayomi dan menciptakan suasana sekolah yang kondusif.

Bagi saya, suasana kondusif amat penting dalam membangun sebuah citra sekolah. Sekolah yang berhasil bagi saya bukanlah yang memiliki label tertentu semacam SSN, RSBI, SBI, dan sebagainya. Sebuah sekolah yang selalu meluluskan siswanya dan dianggap sebagai sekolah favorit bagi saya belum tentu sekolah itu berhasil dalam pembelajaran. Sekolah yang berhasil menurut saya adalah apabila komponen inputnya bisa dijadikan berkualitas sehingga outputnya bisa dilihat adanya peningkatan mutu. Seorang siswa yang dicap nakal, ditolak oleh sekolah berlabel ‘favorit’, namun saat lulus mampu menunjukkan jati diri dengan prestasi di sekolah yang biasa-biasa saja, bagi saya itulah citra dari sekolah yang berhasil.

Mengubah citra sekolah memang harus ada niat kesungguhan dan keikhlasan. Mengubah citra sekolah bukanlah dengan menjadikan komponen yang ada di sekolah menjadi ‘takut’, tapi mengubah citra sekolah adalah mewujudkan sebuah kebersamaan dengan membangun kekuatan motivasi dan keinginan untuk maju. Di dalamnya termuat adanya unsur keterbukaan, kejujuran, kepercayaan, keikhlasan, dan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Bagaimana dengan sekolah yang ada di lingkungan pembaca?

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juli 2009 in Esai, Lain-lain

 

14 responses to “MENGUBAH CITRA SEKOLAH

  1. Ikkyu_san

    6 Juli 2009 at 13:35

    aduh 80 km pp…
    mungkin saya juga sama 80 km pp tapi kondisinya lain sekali.
    salut untuk bapak.

    merubah citra sekolah memang sulit tanpa disertai dedikasi yang tinggi ya pak. dan masalahnya mungkin banyak pihak yang tidak suka akan perubahan itu.

    EM

    iya mbak imel. saat membaca tulisan di blog mbak tentang Jepang, saya iri. Pengen rasanya seperti di sana suasananya.

     
  2. Ikkyu_san

    6 Juli 2009 at 18:31

    Quote:
    Seorang siswa yang dicap nakal, ditolak oleh sekolah berlabel ‘favorit’, namun saat lulus mampu menunjukkan jati diri dengan prestasi di sekolah yang biasa-biasa saja, bagi saya itulah citra dari sekolah yang berhasil.

    Mungkin ini susah ya pak. Tergantung juga dari jenis kenakalannya. Kalau sudah menyangkut soal Narkoba, lalu masuk kumpulan gengster, biar dia di sekolah biasa-biasa, juga tidak akan bisa diatur.

    Jepang punya masalah dengan murid yang “nakal” seperti itu dan menolak untuk ke sekolah. Untuk itu dibuatlah beberapa sekolah khusus yang dibuka malam hari, karena biasanya mereka bekerja siang hari atau malu ketahuan ke sekolah (apalagi ketahuan sekolah di sekolah khusus itu). Sulit sekali memang, perlu kerjasama pemerintah dan pengamat masalah anak/psikolog.

    EM

     
  3. ILYAS AFSOH

    7 Juli 2009 at 09:05

    dan peran alumni yang peduli

     
  4. Deni

    7 Juli 2009 at 21:14

    Sedih….

     
  5. marsudiyanto

    8 Juli 2009 at 10:28

    Sekolah perlu “Citra” juga ya Pak…
    Citra pemutih apa piala Citra?

     
  6. racheedus

    8 Juli 2009 at 10:36

    Salut untuk Pak Guru. Tetap bekerja dengan jarak tempuh jauh dan medan berat.

    Citra sekolah sebagai kapal keruk masih terjadi di tempat saya. Beberapa waktu lalu, bahkan kepala sekolah adalah seorang dedengkot curanmor. Ia ditangkap Mabes Polri karena selama ini dilindungi oleh keluarganya yang jadi orang berpengaruh. Bahkan ia sempat ditembak di kakinya saat disergap di rumahnya karena mencoba melarikan diri. Selama memimpin sekolah, BOS pun jadi tambang emas buatnya. Syukur, ia kini sudah masuk penjara dan dipecat dari PNS.

     
  7. sawali tuhusetya

    8 Juli 2009 at 18:12

    hmm … temryata dah 5 tahun pak zul di smp 2 tahun. selamat, pak, semoga kehadiran pak zul bisa membawa banyak perubahan di sekolah. btw, apa setiap tahun ganti kasek toh, pak, kok sampai ada 4 kali pergantian kepemimpinan dalam waktu sesingkat itu?

     
  8. Syamsuddin Ideris

    8 Juli 2009 at 21:33

    sebuah refleksi akhir tahun ajaran yang menarik..betul sekali kita semua harus terus mencoba memperbaiki citra diri, sekolah dan lembaga pendidikan pada umumnya agar pendidikan kita tidak lagi dipandang sebelah mata..

    Salam berkunjung kembali, maaf baru bisa berkunjung sekarang karena lama nggak online…moga Mas Zul masih ingat ama saya hehehe

     
  9. vizon

    11 Juli 2009 at 11:10

    kepemimpinan kepala sekolah memang memegang peranan paling penting dalam meningkatkan citra sekolah da zul, setelah itu baru guru, komite dan alumni…

    semoga sekolah da zul semakin maju ya…😀

     
  10. marshmallow

    19 Juli 2009 at 15:43

    ya, da zul. bila predikat dan atribut tertentu kita jadikan segalanya, maka kita akan terpenjara oleh sugesti, tidak berani berpikir lain. sekolah favorit belum tentu terbaik dalam segala hal. dan kemajuan serta perkembangan setiap institusi tentulah memiliki indikator keberhasilannya masing-masing.

    salut buat da zul. teruskan pengabdian dengan bersemangat. perbuatan baik dan ikhlas selalu ada ganjarannya.

     
  11. pakwo

    3 Agustus 2009 at 18:36

    Salam bahagia, Anda orang yang beruntung, menjadi guru suatu tugas yang mulya. Pada dasar hampir semua sekolah itu masih memakai cara-cara lama. Namun kita berusaha berobah dahulu sebagai contoh. Insya Allah nanti berobah seiring dengan perkembangan zaman. Kalau tidak pasti tertinggal dari daerah yang lain.

     
  12. Siti Masruroh

    8 September 2009 at 00:12

    Bgmn dg kasek yg terakhir pak… ya idealnya dan yg kita harapkan pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan dan akuntabel, apbs disusun oleh warga sekolah dan mampu dipertanggung jawabkan… warga sekolah dapat menentukan citra sekolah di bawah kepemimpinan kasek, krn warga sklh yg dapat membuat suasana pbm jd kondusif dan memberi banyak masukan pd kasek…

     
  13. Dodi item

    24 Januari 2011 at 12:38

    dengan adanya uang boss sekarang enak jadi kepala sekolah, bisa kaya

     
  14. upil

    23 April 2014 at 11:10

    isinya sih bagus dan berisi,

    tapi entah yang mana yang asli yang mana yang copas, saya menemukan banyak web yang isinya sama seperti ini….

    tapi artinya bagus, mudah-mudahan di blog manapun artikel ini di pasang, mudah-mudahan bisa memberikan pengetahuan buat pembacanya🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: