RSS

DAHONO

16 Jun

Namanya Dahono. Nama yang tidak terlalu panjang, tetapi juga bukan yang terpendek. Beberapa nama siswa saya malah ada yang namanya hanya terdiri dari 4 huruf, misalnya Andi, Riah, atau Agus.

Sebagaimana siswa lainnya, Dahono juga menjalani kegiatan belajarnya. Berangkat pagi (terkadang telat), lalu pulang pada saatnya (beberapa kali pernah bolos). Di kelasnya (kelas IX) ia malah dipercaya temannya sebagai ketua kelas.

Alhamdulillah, selama belajar dengan saya, ia tidak pernah berbuat yang aneh. Tingkat kenakalannya seperti baju yang dikeluarkan atau terlambat hadir di kelas, masih bisa saya tolerir.

Beberapa kali saya mendapat laporan dari guru-guru lainnya, yang mengatakan ia termasuk anak yang nakal. Entahlah, dengan saya dan menurut saya, kenakalannya masih wajar.

Tahun lalu ia menamatkan bangku SMP. Hasil ujian nasional yang dicapainya pun termasuk tidak mengecewakan. Tiga hari yang lalu saya bertemu dengannya.
***

Mungkin tak ada yang istimewa darinya. Tapi setahun yang lalu, saat Ujian Nasional diumumkan, saya sempat terpana. Di saat siswa lainnya berteriak kegirangan karena dinyatakan lulus, di saat teman-temannya merayakan kelulusan dengan mulai melakukan aksi coret-coretan di baju, Dahono tidak kelihatan. Namun saat saya mulai berjalan dari kelas menuju kantor, saya terpana di depan mushola sekolah. Saya bertemu Dahono. Ia sedang membersihkan mushola, menyapu dan mengepel lantainya.

Sendirian. Disaksikan beberapa teman dan orang tua siswa lainnya.

Keterpanaan saya tidaklah lama, berubah menjadi tanda tanya. Gerangan apakah kesalahan yang telah dilakukannya, sehingga ia harus ‘dihukum’ membersihkan mushola?

Keingintahuan saya pun kemudian terjawab. “Dia membayar nazarnya, Pak,” jawab beberapa siswa yang saya tanya. “Apabila lulus ujian, kegiatan pertama yang akan dilakukannya adalah membersihkan mushola.”

Dari jawaban temannya itu saya hanya geleng-geleng kepala. Kelulusan yang diterimanya tidak dirayakan langsung dengan lonjakan kegirangan, atau aksi corat-coret baju, melainkan membersihkan rumah Allah dan kemudian sujud menghambakan diri sebagai ungkapan terima kasih.

Bagi saya, kejadian yang sederhana itu tetap membekas di hati. Apalagi pada saat hasil UN untuk SMP yang akan diumumkan pada 19 Juni nanti. Dahono telah menjadi sosok lain. Ia telah mengajarkan kepada saya bagaimana menghadapi sebuah kemenangan, sebuah keberhasilan. Suatu kejadian sederhana, tapi langka, karena itu baru sekali terjadi selama saya menjalani profesi sebagai guru.
***

Andai saja banyak siswa bisa berpikir positif dan kreatif, bisa dibayangkan wajah Indonesia di depan mata seperti apa. Kalau saja banyak yang melakukan hal terbaik, bersyukur dengan cara yang benar, tentulah kian sumringah wajah negeri ini.

Namun begitulah. Momen kelulusan masih banyak yang disalahtafsirkan sebagai ungkapan dari kemenangan atau keberhasilan. Padahal dalam agama Islam misalnya, contoh mengungkapkan kebahagiaan atas sebuah kemenangan atau keberhasilan sudah jelas. Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua momen kemenangan dalam agama Islam. Kemenangan atau ungkapan keberhasilan di kedua hari raya itu diiringi dengan lantunan takbir, dilanjutkan dengan salat.

Bila saja, anak-anak Indonesia diberi pemahaman akan hal ini, tentulah kita tidak melihat aksi ugal-ugalan para siswa yang merayakan kemenangan atau keberhasilan UN di jalan raya. Tentu kita tidak mendapatkan para siswa dengan penuh coreng-moreng beraksi dengan motor, balapan dan mengganggu pengguna jalan lainnya.

Bagaimana menurut pembaca?

Sumber gambar: di sini, di sini, dan di siko

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2009 in Diari, Lain-lain

 

16 responses to “DAHONO

  1. putirenobaiak

    16 Juni 2009 at 12:35

    terharu bacanya pak, hebat dahono, guru mungkin perlu juga gak bosan menyampaikan pd anak2 apa arti kemenangan yg sesungguhnya agar mrk gak salah merayakannya

     
  2. vizon

    16 Juni 2009 at 15:32

    wah… salut sekali dg dahono… apalagi baru kemarin saya melihat di televisi aksi “syukuran” siswa yg lulus itu berakhir dg bentrokan, bahkan membuat seorang anggota polisi meninggal dunia…

    yg menjadi tandatanya adalah, bagaimana dahono bisa seperti itu? tidaklah mungkin ia secara tiba2 bisa memiliki pemikiran sederhana namun mulia itu. menurut saya, pastilah ada yg mempengaruhinya, dan itu terutama datang dari rumahnya, oleh ayah dan ibunya, dan tentunya juga dari gurunya…ūüôā

     
  3. Blogger senayan

    17 Juni 2009 at 10:37

    salam kenal

     
  4. potter

    17 Juni 2009 at 15:19

    Saya terharu membacanya….
    Sikap beda yang ditunjukkan dahono itu, belum tentu saya bisa melakukannya…

     
  5. marshmallow

    17 Juni 2009 at 18:33

    setuju dengan komentar uda vizon.
    di balik sikapnya yang kadang-kadang terkesan nakal, dahono ternyata memiliki pemahaman dan kedewasaan melebihi anak-anak di lingkungannya.

    nah, pasti ada seseorang yang menjadi panutannya.

     
  6. imoe

    17 Juni 2009 at 21:46

    Salam salut untuk dahono pak..saya kira memang dia dilahirkan untuk menjadi teladan…KOK BISA YA ? Sekali lagi saya bangga dengan DAHONO…Mohon ijin ngambil tulisan ini ya pak..untuk pencerahan bagi adik-adik saya di padang…

    silakan pak imoe, kalau memang bisa dimanfaatkan. ok…

     
  7. mascayo

    18 Juni 2009 at 06:11

    Subhanalloh …
    kadang pelajaran itu bisa kita dapat secara tak terduga dari siapa saja … bahkan dari seorang Dahono …
    Diantara ribuan atau mungkin jutaan, masih ada sosok anak seperti Dahono .. Alhamdulillah ..

     
  8. sarah

    18 Juni 2009 at 11:13

    aQ lbh suka merayakan sesuatu dgn cr lbh banyak bertafakur dan bersujud syukur pd Allah SWT sprti yg telah dilkukan Dahono..ūüôā
    Makasih y udah mampir k blogQ
    salam kenal

     
  9. soyjoy76

    18 Juni 2009 at 11:29

    Salut sama Dahono Pak Zul..
    Ngomong-ngomong, kelulusan tahun ini mudah2an ada Dahono-Dahono yang lain ya, Pak… Malu juga kalau mengingat waktu tamat SMA dulu saya juga ikut aksi corat-coret itu (untungnya ngga ada yang mati waktu itu…)

    Salam kenal dari sesamo urang awak Pak (Uda?) Zul…

     
  10. Sawali Tuhusetya

    18 Juni 2009 at 19:42

    wah, apa yang dilakukan dahono itu menarik, pak zul. seumu2 jadi guru, baru kali ini ada anak seunik dahono. andai saja setiap anak punya nazar yang positif spt dahono, wah, pasti ndak akan ada lagi deru kendaraan yang memekakkan telinga itu di jalan2 raya atau corat-coret baju pakai pilox.

     
  11. Deni

    18 Juni 2009 at 21:02

    Semoga ke depan, akan ada Dohono2 yang lain pak ya, saya termasuk yang kurang setuju dengan praktek sebagain besar siswa kita yang meluapkan kebahagiannya dengan corat-coret atau kebut-kebutan di jalan.

    Inikah potret dunia pendidkan kita yang sesungguhnya?

     
  12. Siti Fatimah Ahmad

    19 Juni 2009 at 06:21

    Assalaamu’alaikum…

    Teladan yang harus dicontohi dari selingkar kisah Dohono. Sudah tentu ibu bapanya berbangga dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Melalui gambaran ini, pasti ada guru yang pernah menerbitkan rasa keinsafan untuk memahatkan dalam hati Dohono keinginan berbuat yang terbaik sesudah mendapat kejayaan dan meraikan kemenangannya melalui jalan kesyukuran.

    Semoga kita mendapat iktibar dari kisah Dohono walaupun hanya sedikit tetapi manfaatnya amat besar. Tahniah, anda telah menggerakkan banyak hati untuk memikirkan diri sendiri. Salam hormat.

     
  13. edratna

    22 Juni 2009 at 14:12

    Andai banyak anak-anak yang mensyukuri kelulusannya dengan berbuat kebaikan, tanpa merayakan berlebihan, apalagi pake acara coret mencoret…dan bersepeda motor dijalanan…betapa indahnya.
    Dahono patut menjadi teladan, merayakannya dengan diam dan berbuat nyata dengan kebaikan.

     
  14. Dahono

    26 Juni 2009 at 11:26

    nama saya dahono

     
  15. gantenks

    12 Januari 2012 at 05:25

    Subhanallah,,

     
  16. Anonim

    26 Mei 2012 at 23:39

    inspiratif…….rhanks Dahono!!!!!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: