RSS

PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (2)

10 Mei

Karya sastra ‘melaporkan’ kehadiran sesuatu (peristiwa). Kehadirannya menyebabkan kita berpikir tentang sesuatu yang tak hadir. Pendapat Tzevetan Todorov yang dikembangkan Umar Junus (1984: 64) setidaknya dapat dipakai dalam kerangka penelitian kehadiran cerpen ‘Datangnya dan Perginya’ dalam Kemarau. Teori ini lazim disebut sebagai Presence-Absence. Drama-drama yang ditulis Wisran Hadi atau cerpen Seno Gumira Adjidarma adalah contoh karya yang tepat dibedah lewat teori ini. Ketika Wisran Hadi menulis naskah drama Malin Kundang atau Cindur Mato dengan versi berbeda misalnya, maka orang akan berpikir tentang cerita yang sudah ada sebelumnya.

Namun teori Presence-Absence tidak hanya membicarakan hal-hal sebatas itu. Proses dari sebuah kejadian yang berkaitan dengan ideologi (masyarakat) pun tak lepas dari kajian ini. Pada masa orde baru berkuasa misalnya, kita senantiasa mendengarkan hal-hal yang baik saja mengenai Timor Timur. Namun oleh Seno Gumira Adjidarma lewat cerpennya ‘Misteri Kota Ngingi’ kita diajak memasuki sebuah kota yang kian hari penduduknya kian habis. Bukan karena program keluarga berencana berhasil atau mewabahnya sejenis penyakit. Kian berkurangnya penduduk Kota Ngingi lantaran diculik, dihabisi, atau dihilangkan dari muka bumi.

***

Seandainya Navis tidak memberitahukan mengapa ia menulis novel Kemarau dengan memasukkan unsur cerpen ‘Datangnya dan Perginya’ (dalam Eneste, 1983: 51-73), barangkali misteri penciptaan dua karya itu masih misterius. Navis bisa saja berkilah tentang perubahan dari humanisme ke religiositas, namun bila merunut teori Presence-Absence ditambah pengakuan Navis tentang proses kelhiran novel Kemarau, maka hal itu bukan lagi persoalan baik-buruk, manusia atau Tuhan. Apalagi berdasarkan kolofon kelahiran dua karya itu, ‘Datangnya dan Perginya’ bersama sejumlah cerpen lainnya terbit 1956 dan Kemarau tahun 1957. Masa-masa perpolitikan tanah air tidak stabil. Perang ideologi begitu terasanya. Persaingan kelompok Lekra dan Manifesto. Di sini persoalan keberpihakan menjadi sesuatu yang amat penting, dan sikap Navis pun mendua. Junus menyebut masa-masa ini sebagai perang mempersoalkan ideologi (1984: 64).

Jadi sesuatu yang dapat dimaklumi, bila dengan ‘Datangnya dan Perginya’ Navis menjadi was-was, sehingga mengganti versinya seperti yang ditulisnya di novel Kemarau yang lebih religius.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2009 in Esai

 

4 responses to “PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (2)

  1. sawali tuhusetya

    10 Mei 2009 at 18:04

    teeuw juga pernah bilang kalau teks sastra tak akan pernah lahir dalam keadaan kosong. aa navis dalam konteks ini bisa dimaklumi kalau terjadi pergeseran visi dalam teks cerpen dan novelnya. suasana batin dan jiwa sang pengarang akan tampak terekspresikan dalam teks sastra yang diluncurkannya.

     
  2. edratna

    14 Mei 2009 at 08:24

    Saya hanya membaca dulu……
    Karena kebetulan belum membaca buku yang diceritakan itu

    Saya sendiri bukan orang sastra, tapi karya sastra tetap menyisakan ruang tersendiri dibanding novel lain, ada perenungan, dan terkadang membuat pemahaman akan berbagai hal. Membaca karya sastra memang terasa berbeda…

     
  3. suhadinet

    14 Mei 2009 at 13:59

    saya belum mengerti soal ini. apakah sastra yang bernilai/bermutu selalu memuat ini? lalu, apakah nilai kehadiran-ketidakhadiran itu berkaitan dengan latar (belakang) sejarah?

     
  4. rennypebrica

    19 Mei 2010 at 09:37

    saya jadi kepengen baca novelnya.
    kunjungi saya di Blog saya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: