RSS

PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (1)

19 Apr

Konflik rumah tangga Masri dan Arni sebagai pasangan suami istri yang incest dan berakhir dengan perceraian adalah sesuatu yang diberitahukan (dalam Kemarau, terbit 1957). Mereka berpisah atas kesadaran, bahwa perkawinan antarsaudara adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.

kemarau

Tetapi pada ‘Datangnya dan Perginya’ (dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami, terbit 1956) perkawinan sumbang antara Masri dan Arni tetap berketerusan. Dengan alasan ketidaktegaan memisahkan kebahagiaan rumah tangga, setidaknya A.A. Navis telah menunjukkan sisi ‘memanusiakan manusia’ yang humanis. Tapi apalah arti dari memanusiakan itu, bila pada akhirnya sikap itu sebagai sesuatu yang dikutuk. Umar Junus (Horison, Juni 1972: 164-5) tak pelak menyebut Navis dalam dua muka. Bahwa di satu sisi bagi Navis pertimbangan kemanusiaan (dengan risiko pelanggaran agama) lebih penting dari segalanya. Namun di sisi lain, pertimbangan keagamaan (menegakkan ajaran agama) justru bentuk yang lebih penting lagi. Navis berada di antara perbenturan humanisme yang mengesankan dan religiusitas mutlak.

robohnya-surau-kami

Navis pun kemudian berkilah, mengapa perjalanan kepengarangannya berubah secara total, terutama prinsip-prinsip kemanusiaannya. “Meskipun humanisme itu indah,” tutur Navis, “tetapi lebih berharga Islamisme. Logikanya sederhana saja: humanisme adalah ciptaan manusia, sedang Islam ciptaan Allah.” (dalam Eneste, 1983: 66).

Tetapi cukupkah alasan Navis itu dijadikan sebagai pegangan kuat? Tidakkah sejarah sastra bisa memainkan peranannya dalam membuka rahasia kemunculan cerpen dan novel yang sekilas sama tapi versinya berbeda? Atau tidakkah kehadiran cerpen ‘Datangnya dan Perginya” dalam novel Kemarau –meski dengan versi agak berbeda– sesuatu yang dipaksakan Navis?

Bersambung

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2009 in Esai

 

12 responses to “PERSOALAN KEHADIRAN DALAM KARYA SASTRA (1)

  1. ifoel

    19 April 2009 at 21:42

    kayaknya topik yang diangkat dari kedua novel ini mantap tuk di bahas…. sisi kehidupan perkawinan anak manusia. BUt sebelum komen lebih jauh… pinjam bukunya dong bro… heheh

    iya sih. tapi saya lebih cenderung membahas adanya perubahan sikap berdasarkan analisis karya sastra. untuk yang terakhir, di perpustakaan daerah kelihatannya stok masih ada. mau pinjam ke sini?

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    19 April 2009 at 22:28

    Bagi saya humanisme ada dalam Islam … bukan untuk dipertentangkan … tetapi dimankani secara tepat … bagimanapun Navis menggugah daya nalar …

    Saya setuju dengan pendapat Pak EWA. Humanisme ada dalam Islam, secara teori apalagi dalam kegiatan praktis. Namun bila dicoba menalarnya, jadilah seperti yang diungkap Navis

     
  3. marsudiyanto

    20 April 2009 at 00:29

    Yang pasti, Navis tidak narsis…

    meskipun punya kumis, tipis, dan bila berkomentar sering sinis ya pak. he he…

     
  4. Sawali Tuhusetya

    20 April 2009 at 01:08

    jujur saja, kekaguman saya pada sosok alm. aa navis terletak pada cerpen “Robohnya surau kami”, pak zul. navis berani melakukan “pemberontakan” terhadap dogma-dogma keagamaan yang selama ini “tabu” diperdebatkan. dalam dialog yang cair, navis berhasil membebaskan mitos dan dogma.

    Dalam hidup keseharian dan pada banyak tulisan Navis, nada “pemberontakan” itu amat kentara Pak. Saat di Padang dulu saya beberapa kali mengikuti kediatan diskusi/seminar yang mana Beliau sebagai pembicara, suara lantang Beliau senantiasa menggaung dalam memahami adat-istiadat dan kebiasaan orang Minang. Beliau juga tukang cemooh nomor satu terutama bagi yang tidak menggunakan “pikiran” dalam menganalisis sesuatu

     
  5. edratna

    20 April 2009 at 06:31

    Saya udah baca buku AA Navis ini dan punya bukunya, tapi sudah lama. Ntar ahh dibaca lagi……

    itung-itung bernostalgia ya bu….

     
  6. p u a k

    20 April 2009 at 07:55

    Wah, daku harus rajin kesini nih, kalau nggak nggak bakalan tahu penulis seperti A.A Navis..
    Tapi lebih penting baca bukunya kan, da?ūüėÄ

    ya, alternatif terbaik agaknya demikian mbak. he he

     
  7. Daniel Mahendra

    21 April 2009 at 05:44

    Menurutku, sastra bukanlah sumber akhir bagi manusia dalam mencocokkan arah. Sastra pun bukan solusi manusia dalam mencari jawaban. Sastra, di luar entitasnya, adalah media dialektika bagi manusia dalam memandang kehidupan.

    Kompas yang sebenarnya justru ada pada diri manusia itu sendiri. Pada agama, pada norma-norma, pada aturan main kehidupan. Sastra memberikan gambarannya. Cetak birunya. Pembaca yang mencari rujukan yang sebenarnya.

    Maka adalah sah jika Navis menyuguhkan dialektika semacam itu. Bukankah itu membuat kita menjadi berpikir. Maka sastra yang berkualitas adalah sastra yang menjadikan manusia sebagai manusia.

     
  8. racheedus

    22 April 2009 at 01:09

    Pada ujungnya, seiring umurnya yang semakin menua, saya melihat A. A. Navis mulai mendekati Sang Khalik lebih intens dan mulai menyisihkan humanisme. Hal itu adalah lumrah saat orang terus mencari kebenaran hakiki dalam hidup yang fana ini.

     
  9. zigzag

    22 April 2009 at 02:24

    waduh kurang paham neh

     
  10. marshmallow

    24 April 2009 at 18:48

    semakin terlihat bahwa sastra adalah media yang sangat potensial dalam berdakwah, dan sastrawan memegang peranan yang sangat besar dalam menyebarkan moral-moral agama.

     
  11. budisan68

    25 April 2009 at 06:00

    tetralogi laskar pelangi, telah mengajak semua kalangan untuk bersastra

     
  12. yar zaros

    5 Mei 2009 at 19:31

    iyo tu. Saya senang sekali membaca novel ini. Karyanya bagus sekali dan sampai kini masih enak untuk dibaca. Jangan sampai lupa untuk membaca novel ini. Trims

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: