RSS

KESAKSIAN

16 Apr

I
akhirnya begitulah
waktu bermain dalam tipakan sumbang
matahari telah lelehkan pertarungan demi pertarungan
suara dibeli dengan harga yang teramat murah
“ini lima ribu,
jangan lupa contengan saya ya…”

demikianlah
langkah membekas di alunan subuh
tebaran rupiah pesonakan harga
untuk sebuah kursi, pertaruhan adalah hal pasti
“sudah conteng saya cak?”

II
kesaksian ini kutulis dalam ketakberdaya
serangan gerilya di pagi yang tak bermata
alunan lantunan Ilahi telah butakan hati
“hayya ‘alal falaah….”

kesaksian ini kutulis
saat ketuk membangunkan kantuk
pada subuh yang masih buta
kita banting mimpi dengan harga murah
lewat pemilihan pesta para penggila

kesaksian ini
:adakah harap menyisakan asa
bila kita dibodohi dalam nikmat sementara?

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 16 April 2009 in Puisi

 

10 responses to “KESAKSIAN

  1. rizalihadi

    16 April 2009 at 05:06

    Puisinya bagus om… salam kenal

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    16 April 2009 at 05:59

    Ngak ikut …

     
  3. Ikkyu_san

    16 April 2009 at 08:18

    hah? 5000 saja?
    aduh
    aduh
    aduh
    ADUH untuk semua

    EM

     
  4. BL

    16 April 2009 at 10:39

    sangat mendalamūüėÜ

    terharuūüôā

     
  5. racheedus

    16 April 2009 at 12:13

    Politik uang sangat berbahaya sekali. Nasib rakyat lima tahun mendatang hanya dihargai dengan 5 ribu perak? Wow, sungguh penghinaan!

     
  6. adams

    16 April 2009 at 17:10

    pa kabar pak zul? keren, pean masih tetep eksis nulis puisi.

     
  7. Sawali Tuhusetya

    16 April 2009 at 17:53

    saya menyaksikan, pak zul menulis puisi ini seperti mesin, hehe … begitu gampangnya diksi mengalir rancak.

     
  8. marshmallow

    17 April 2009 at 12:25

    jadi da zul jadi korban serangan fajar juga?
    hihi… yang sabar ya, da.
    kalau saya yang kena serang, saya balikin duitnya sepuluh kali lipat sambil bilang: ini saya kasih ongkos pulang, jangan ngetuk pintu rumah-rumah lain, ya?

    sebagai ilustrasi, THR buat anak-anak tetangga aja nggak laku lagi 5000. lha, masak berani menghargai suara segitu doang?

    tentu bukan masalah nominalnya, tapi niatnya itu emang udah keterlaluan. ter-la-lu… kata bang rhoma.

     
  9. Zulmasri

    17 April 2009 at 19:54

    rizalihadi
    Terima kasih dan salam kenal juga ya

    Ersis Warmansyah Abbas
    nggak ikut apa Pak? Nggak ikut nconteng atau menerima? he he

    Ikkyu_san
    iya mbak. Uang Rp5.000 di desa dianggap lumayanlah. Kisarannya memang antara Rp5.000 (nilai nominal terendah) hingga Rp20.000

    BL
    jangan sampai neteskan air mata ya….

    racheedus
    ya begitulah cara calon wakil kita memperlakukan rakyatnya. bila sudah demikian, masihkah kita bisa percaya?

    adams
    wah mas fisha. sekarang panggilannya ganti adams? lama nggak berberita nih

    Sawali Tuhusetya
    ah, pak sawali mulai nih. meneropong dari kendal. pakai teropong khusus ya pak?

    marshmallow
    saya nggak diberi langsung uni, tapi lewat mertua. yah sudah, biar buat mertua aja. beli rokok. he he. kalau lima milyar baru saya ambil.

     
  10. Daniel Mahendra

    21 April 2009 at 05:33

    1) Dia sudah berhitung berapa gaji dia kalau terpilih jadi anggota dewan yang terhormat.

    2) Kalau terpilih, biasanya lupa: apa yang pernah mencelat dari mulutnya saat kampanye.

    3) Dia tak sadar: yang dihadapi adalah manusia.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: