RSS

JAZAUL KHOEROH

30 Mar

Namanya Jazaul Khoeroh. Biasa dipanggil Jazaul. Saat ini masih kelas IX di SMP 2 Talun, tempat saya menjadi guru.

Di SMP 2 Talun tidak ada yang menyangkal kalau dia anak yang pintar. Sejak kelas VII prestasi akademisnya menonjol. Selain juara 1 di kelas, dia juga beberapa kali menyabet juara umum di sekolah dan menjadi duta sekolah di ajang lomba antarsekolah.

Akan tetapi, pada saat uji coba mata pelajaran UN tingkat kabupaten Pekalongan baru-baru ini, Jazaul tidak lulus. Nilai mata pelajaran IPA-nya 3,75.

Sedih? Jelas, ini tergambar dari raut wajahnya. Namun saya tahu, dia anak yang optimis, rajin, dan mau belajar dari kekurangan masa lalu.

Sorot matanya menyiratkan, betapa hausnya dia dengan ilmu pengetahuan. Kepadanya saya hanya bisa berpesan untuk bangkit, tidak terpuruk dan menangisi hasil ujicoba tersebut serta menjadikan semuanya sebagai lecutan untuk lebih maju dan waspada.

Rasa optimisme memang senantiasa harus ditanamkan pada siswa. Menghadapi UN 2009 yang waktunya tidak sampai satu bulan lagi, semestinya siswa diberi motivasi dan rasa optimisme. Menakut-nakuti siswa dengan bayangan tidak lulus hanya akan memperparah keadaan. Siswa bakalan stres.

UN sebagai “ajang bisnis dan proyek” pemerintah, memang penuh dilematis. Terus terang, saya tidak percaya UN dijadikan standar pendidikan nasional. UN hanya mengajarkan ketidakjujuran. Guru mata pelajaran UN tidak lagi mengajar dengan enjoi sesuai dengan kompetensi dasar yang telah dirancang pada kurikulum. Siswa kelas terakhir laksana robot. Tiap hari mereka hanya mendapat asupan berupa latihan soal-soal UN.

Lebih jauh, pada saat UN berlangsung, kita juga mendengar betapa banyak kecurangan yang terjadi.

Kemudian saat pengumuman dan nilai UN dipampangkan, percayakah bahwa itu nilai murni?

Jawabnya, itu bukan nilai murni. Nilai UN yang diterima siswa pun bukan nilai asli, melainkan sudah diolah sedemikian rupa. Kalau saja yang diumumkan benar-benar nilai murni, bisa dibayangkan kemungkhnan yang lulus dan tidak lulus akan berimbang.

Inilah kenyataan dunia pendidikan kita. Semu dan penuh ketidalujuran. Jadi persoalan mutu pendidikan? Ah, agaknya jauh dari harapan.
***

Jadi bagaimana dengan Jazaul? Sepenuhnya, dengan rutinitas keseriusannya, saya yakin, nilai UN yang didapatkannya nanti insya Allah jauh lebih baik daripada nilai try out atau ujicoba yang didapatkannya sekarang.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2009 in Lain-lain

 

14 responses to “JAZAUL KHOEROH

  1. Ikkyu_san

    30 Maret 2009 at 06:27

    Semoga Jazaul tetap semangat dan bisa memperlihatkan kemampuannya yang sesungguhnya saat UN nanti.

    EM

    ….> Semoga mbak imel. Terima kasih atas supportnya mbak….

     
  2. DETEKSI

    30 Maret 2009 at 06:35

    semoga demikian…

    ….> Amiiin….

     
  3. racheedus

    30 Maret 2009 at 12:00

    UN memang mendorong para guru untuk mengajarkan ketidakjujuran. Cerita nilai UN yang di-mark up juga banyak kudengar dari para guru di tempatku.

    ….> sudah beberapa kali dan dari tahun ke tahun saya mencoba membandingkan hasil try out yang diadakan sekolah atau kabupaten. Hasilnya, yang lulus paling 4 atau 6 orang. Lalu saat UN diumumkan, justru yang tak lulus hanya 4-6 orang. Aneh kan?

     
  4. marshmallow

    30 Maret 2009 at 14:52

    bagaimanapun, kemampuan siswa tetap harus diuji.
    kalau tidak dengan UN, harus ada perangkat lain yang validitas dan reliabilitasnya lebih terjamin.

    fenomena kongkalingkong memang sudah menjadi hal lumrah dalam beberapa kondisi, sebaiknya kita jaga saja agar tak turut meramaikannya.
    baa, da pakiah?

    ….> betul uni. UN boleh saja ada, hanya saja soal dan kelulusannya ditentukan sekolah. Dengan adanya UN, pembelajaran jadi rancu. Penilaian dilihat dari hasil akhir, bukan lagi dari prosesnya.

     
  5. edratna

    30 Maret 2009 at 17:22

    Kadang anak pintar justru tegang saat menghadapi ujian, ini yang harus dipersiapkan….terutama guru dan orangtua, harus mengingatkan bahwa nasib ditentukan saat ujian. Jadi tenang..berusaha…dan berdoa….apapun hasilnya orangtua maupun guru tetap mendukungnya.
    Smoga Jazaul pas ujian bisa tenang dan mendapatkan nilai terbaik

    ….> betul sekali bu enny. Terima kasih atas doanya ya bu….

     
  6. Ersis Warmansyah Abbas

    30 Maret 2009 at 20:30

    Amin …

    ….> Terima kasih….

     
  7. vizon

    31 Maret 2009 at 11:53

    ada banyak kejadian yg sama dg apa yg dialami oleh jazaul dalam UN, semoga jazaul dan seluruh siswa lainnya bisa lebih siap secara psikologi dalam menghadapi UN ini. karena, suka atau tidak, ujian ini harus ditempuh, karena pemerintah kita masih belum mau menerima berbagai masukan dari kalangan pendidikan soal plus-minus UN

    ….> betul da Vizon. Yang penting siswa jangan ditakut-takuti, melainkan diberi motivasi

     
  8. sawali tuhusetya

    31 Maret 2009 at 23:28

    sejak dulu saya sudah pesimis kalau UN itu bisa menjadi alat utk meningkatkan mutu pendidikan, pak zul. soal2 pilihan ganda semacam itu ndak akan pernah bisa mengembangkan pola berpikir multidimensi. anak2 cenderung berhadapan pada jawaban stereotipe yang menjebak mereka utk main2 spekulasi, khususnya anak2 yang berkemampuan pas2an. repotnya, kita sendiri selama ini juga ndak pernah tahu kunci jawaban yang benar2 memang makin jauh dari harapan, pak.

    ….> benar pak sawali. sejak dulu kunci jawabnya memang tak pernah diberi. Jadi kadang kita disuruh mereka untuk membuat kunci jawab sendiri

     
  9. imoe

    1 April 2009 at 15:13

    terus terang saya marah dengan system pendidikan yang kita punya. UN menjadi alat satu-satunya yang bisa memutuskan masa depan anak hanya dalam waktu 3 hari…kapan maju nya kita kalo hak paara pendidik untuk memberikan evaluasi terhadap anak didiknya di rampas oleh PROYEK UN…ampunnnn dehhhhh

    …> kalaupun marah, mau lampiaskan pada siapa pak imoe?

     
  10. Deni

    1 April 2009 at 16:03

    Dari dulu saya nda setuju UN yang menjadi penentu kelulusan, apalagi untuk SMK.

    Saat ini saya jadi sekretaris UN di sekolah, emang banyak yang ndak pas model UN dengan visi membangun pendidikan ideal. Gmn peran pengurus agupena menyikapi masalah ini, Pak Zul, Pak Sawal.

    ….> waduh, jangan hanya saya dan pak Sawali saja Pak Deni. Guru lain harus dilibatkan.
    Sejak 2006 lalu hingga UN 2009 ini saya selalu memegang jabatan sekretris UN pak Deni.

     
  11. fuad

    2 April 2009 at 03:28

    Semoga anak-anak Talun2 semua lulus.Amiiin.

    ….> harapan kita semua pak Fuada. Saya ingin melihat senyum cerah mereka semua saat pengumuman disampaikan

     
  12. Daniel Mahendra

    3 April 2009 at 21:41

    Inilah kenyataan dunia pendidikan kita. Semu dan penuh ketidalujuran.

    Dan akan melahirkan manusia-manusia yang homogen?
    Serta menciptakan budaya-budaya yang instan pula?

    Oh…

     
  13. Ardiansyah Bahar

    25 April 2009 at 14:37

    Nice blog!!!

     
  14. bahtiyarzulal

    1 Mei 2009 at 16:10

    Lanjutan….!

    Yang lebih menyakitkan hati adalah, pelajaran IPA itu diampu Bapaknya sendiri…! mampuslah aku..! pokoknya ntar kalok sampek ada yang kececer khusus 9c wabil khusus mapel IPA, pengumuman kelulusan, ngummpett..! ha..ha..ha..!

    Tempo hari dia dikomplin… kamu kok tega banget sayang…! memangnya salah aku apa..? ee… malah cengar-cengir..!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: