RSS

Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela

27 Mar

:Goenawan Mohamad

pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela
angin pergi. malam kian mengalahkan cahaya
rembulan tak muncul. wajahnya hilang ditelan awan
dan kau menatap. sejenak, sebelum akhirnya berlalu

pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela
sungai-sungai mendesir. kabut turun. secebis-secebis
bintang tak bercahaya. angin menusuk dari belakang
dan di tikung itu, sejenak, masih ada pandang
tak lama, bayangmu pun menghilang

pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela
:sudah! kutelah tahu
dinginku barangkali abadi, tak pernah berbagi

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Maret 2009 in Puisi

 

Tag:

12 responses to “Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela

  1. ifoel

    27 Maret 2009 at 14:53

    hmmm. puisinya mantap…
    sebuah kebekuan hati…..

     
  2. Rindu

    27 Maret 2009 at 15:44

    ah malam minggu nan sepi … sepi yang indahūüôā

     
  3. Apria

    27 Maret 2009 at 15:59

    nice poem
    salam kenal

     
  4. marsudiyanto

    27 Maret 2009 at 17:59

    Pohon yang di dalam jendela pasti lagi tidur…

     
  5. Muzda

    27 Maret 2009 at 23:35

    Pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela ..
    Dan kita yang berada di dalam jendela, tak tahu bahwa ada keriangan di udara …

     
  6. edratna

    28 Maret 2009 at 15:58

    Saya menikmati aja ya..maklum bingung mo komentar jika terkait dengan puisi

     
  7. alris

    28 Maret 2009 at 16:15

    Banyak pohon tumbang di situ gintung. Sebanyak korban yang berjatuhan.

     
  8. satya sembiring

    28 Maret 2009 at 20:28

    pohon palem kali ya
    atau pohon beringin

     
  9. Daniel Mahendra

    29 Maret 2009 at 14:05

    Aku suka judulnya. Dan rasanya ini memang menggambarkan “kondisi” GM saat ini.

    Entah kenapa orang itu…

     
  10. goenoeng

    29 Maret 2009 at 20:52

    jadi ingat, sajak Goenawan Mohamad pertama yang saya tahu adalah ‘Nina Bobok’ . duluuu sekali, waktu masih esde.ūüėÄ

     
  11. marshmallow

    30 Maret 2009 at 14:56

    keren banget deh, da zul.
    emangnya ada apa dengan goenawan mohammad?
    kok jadi serem ya membaca dinginku barangkali abadi?
    kelihatannya da zul sangat mengagumi beliau dan karya-karyanya, ya?

     
  12. putirenobaiak

    30 Maret 2009 at 15:05

    kok bergidik bacanya ya pak zul…

    akupun sedang berbagi sepi dg langit
    begitu terasa sajak ini, menikamku

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: