RSS

Burung yang Bertengger Sendiri di Ranting Tua

14 Mar

buat Pak EWA

burung yang bertengger sendiri di ranting tua
membisu. angin menghilang entah kemana
senja kian menua. di pantai nelayan mulai pulang
di kandang, sapi pun telah dipautkan
langit menguak, purnama datang malu-malu
katakan: apa warna hidup abadi
sejarah, tambo, atau industri?

burung yang bertengger sendiri di ranting tua
menghitung jarak, yang lalu dan yang akan datang
:sejarah, tambo, atau industri?
(yang kutahu
lewat sejarah kita hanya bisa menjarah
lewat tambo penuh intrik hero
dan industri membuat kita sepi?
kemana hendak pergi?

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Maret 2009 in Diari

 

Tag:

4 responses to “Burung yang Bertengger Sendiri di Ranting Tua

  1. listiana advokat

    16 Maret 2009 at 10:35

    puisi yg bagus…. pendek dan jelas

     
  2. Ersis WA

    21 Maret 2009 at 19:26

    kepadaNya

     
  3. Daniel Mahendra

    24 Maret 2009 at 06:31

    Kemana hendak pergi, duhai Pak Ersis?

    ….> jawabannya ada pada pak ersis tentunya.

     
  4. marshmallow

    24 Maret 2009 at 09:04

    lewat sejarah kita hanya bisa menjarah
    lewat tambo penuh intrik hero
    dan industri membuat kita sepi

    jadi kemana lagi hendak pergi?
    masih adakah pilihan lain?

    *jadi ingin membuatkan prosa untuk para bloger juga*ūüėÄ

    ….> yang pasti saya nggak nolak bila jadi tokoh cerpen uni. he he…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: