RSS

MENANTI HARAPAN DALAM PINTA DAN DOA (catatan seorang siswa)

31 Jan

Akhirnya kami harus berhenti, meski perjalanan masih teramat jauh
Jejak-jejak telah membekas dalam palutan senja
Kami adalah generasi yang terlahir dalam kecamuk sejarah
Harga-harga meninggi, laju kendaraan terus kami nanti
Tapi siapakah yang peduli kami, bila cita-cita hanya sebatas impian?

Ingin kami ukir sejarah diri, tekad hati kami tanamkan di sini
Jejak-jejak kecil kami masih bisa dibaca, di antara catatan-catatan masa lalu
Adakah salah bila kami ingin berubah?
Adakah keliru bila kami ingin maju?
Adakah doa terpancar saat kebimbangan begitu besar?
Kami ingin perubahan, anak-anak bukit sengare harus bersinar
Doakan kami dalam langkah, kirimkan harap saat dada resah oleh cemas
Kami ingin maju, anak-anak gunung tak boleh linglung
**

Pertama kali melangkah di es em pe dua
Jalanan berbatu dan mendaki sarapan sehari hari
Hujan panas, lelah kaki dalam langkah
Masihkah harap memancar bila matahari garang berpijar?
Kuinginkan lelah sirna saat pintu kelulusan telah membuka

Dalam kemilau cahaya pagi kuberdiri dalam sepi
Es em pe dua sudah sepi, deru kendaraan rindu kami nanti
Antarkan kami ke gerbang pendidikan tinggi
Tapi entah kapan kami bisa nikmati
***

Dan hari ini kami kembali berdiri
Menatap hari dalam galau penuh arti
Terima kasih bapak dan ibu guru, sepenuh ucap kasih dari kami
Maafkan segala tindakan, doakan perjalanan kami
Dalam menggapai harapan, inginkan kemajuan
Melingkupi kawasan sengare dalam hidup yang lebih berarti

Bila esok tiba, izinkan kami dalam pinta dan doa
Menatap masa depan, menuai segenggam harapan
Sebagai wujud kecintaan kami, sebagai tanda berbakti
Mohon doakan langkah kami
Hingga gerbang demi gerbang terlampaui
***

Kami datang tanpa diundang
Kami pamit dengan segudang harapan

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Januari 2009 in Puisi

 

Tag:

18 responses to “MENANTI HARAPAN DALAM PINTA DAN DOA (catatan seorang siswa)

  1. alris

    1 Februari 2009 at 00:02

    SMP dua mana Pak. Saya doa-kan

    ….> smp 2 talun kabupaten pekalongan jawa tengah

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    1 Februari 2009 at 00:11

    Wow … bagus tu. Datang dengan segudang harapan, pamit membawa harapan … untuk diperjuangkan.

    ….> harapan yang indah pak ewa. mudah-mudahan saja demikian adanya

     
  3. Syams Ideris

    1 Februari 2009 at 06:46

    Saya terharu membaca kalimat:
    “Kami ingin maju, anak-anak gunung tak boleh linglung”.

    Betul sekali Pak. Anak-anak harus diajak bermimpi setinggi langit. Teringat bagaimana Bu Muslimah di Lasykar Pelangi memotivasi anak didiknya dimulai dari impian.

    Tak ada hal yang mustahil. Toh, Andrea Hirata dari pedalaman Belitong bisa sekolah di Paris. Tak mustahil anak-anak bukit sengare nanti mengisi bangku kuliah di Harvard, MIT, dan kampus bergengsi lainnya di dunia.

    Mari kita motivasi anak didik kita untuk berusaha sekuat tenaga meraih impiannya.

    ….> benar pak syam. apalagi siswa kelas terakhir. saat-saat sekarang mereka paling butuh motivasi

     
  4. vizon

    1 Februari 2009 at 09:27

    hmm… indah sekali..
    sebuah optmisme yg kuat, muncul karena harapan besar yg dijalani dg penuh keyakinan…
    semoga tercapai seluruh cita-cita…🙂

    ….> iya uda. bagaimana kabar surau kini?

     
  5. angga erlangga

    1 Februari 2009 at 17:37

    hmm.. sebagai sama sama seorang mahasiswa kita mesti banyak bersyukur…😉

    Salam kenal… nice blog…😉

    …> salam. tapi saya bukan mahasiswa lagi.
    puisi ini kreasi 3 siswa smp 2 talun yg ikut tim jurnalistik yg saya bimbing. beberapa bagiannya merupakan hasil editing saya

     
  6. iwan

    1 Februari 2009 at 18:23

    jadi teringat cerita Andrea Hirata………..

    semoga sukses yah……
    kamu guru yah.. atau ni perjalanan hidupnya mas

    …> bagaimanapun karangan ini ada kaitan dg saya, karena ditulis bersama anak didik saya

     
  7. Sawali Tuhusetya

    1 Februari 2009 at 23:20

    itu puisi karya siswa, ya, ;pak zoel. wew… puisinya bagus banget. semoga harapan dan doa itu terkabul. btw, tanggal 4 februari aku memang dapat undangan ke lpmp utk mengikuti pembentukan agupena jateng, pak. pak zoel hadir juga, kan?

     
  8. Rafki RS

    2 Februari 2009 at 00:54

    Mungkin memang cuma tekad yang membaralah yang bisa menjadi penawar mahalnya biaya pendidikan saat ini. Dengan tekad yang tinggi mudah-mudahan banyak ditemukan jalan bagi yang mau mencari.

     
  9. yakhanu

    2 Februari 2009 at 08:14

    begitulah fenomena yang ada…

     
  10. rayearth2601

    2 Februari 2009 at 08:48

    Wah, bagus sekali puisinya…..

    murid murid yang penuh semangat dan cita-cita

    semoga sukses selalu🙂

     
  11. Rizal

    2 Februari 2009 at 11:04

    sebuah puisi yang bagus..sangat menyentuh hati pembaca.

     
  12. zoel

    2 Februari 2009 at 11:36

    harapan tidak untuk di nanti… tapi harus di kejar 😀

     
  13. azaxs

    3 Februari 2009 at 07:53

    puisi mereka pengembar mimpi yang percaya dengan pendidikan akan dapat merubah semua…

    luar biasa pak..

     
  14. Daniel Mahendra

    3 Februari 2009 at 12:14

    Selagi masih ada harapan, selagi masih mau punya harapan, segala dan semua bisa diusahakan. Karena itulah satu-satunya yang tersisa pada diri manusia: harapan!

     
  15. iwan

    3 Februari 2009 at 18:28

    hello…………..
    kalu da postingan terbarunya kabari aq yah

     
  16. Menik

    3 Februari 2009 at 23:51

    selalu ada perjuangan untuk mewujudkan sebuah harapan🙂

     
  17. ridu

    4 Februari 2009 at 08:23

    wah saya suka tuh:
    Kami datang tanpa diundang
    Kami pamit dengan segudang harapan

    puisinya bagus banget pak zul

     
  18. novak85

    4 Februari 2009 at 12:56

    keren🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: