RSS

KIDUNG RINDU IBU

31 Jan

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas, ibu… ibu…

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas, ibu… ibu….

mak
Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.

Saya memanggil ibu dengan sapaan mak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang tua. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.

Setiap saat, setiap waktu, saat melihat anak saya bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak ribuan kilo. Ibu yang masih setia berada di kampung halaman. Sebuah desa atau kampung yang berada di Sumatera Barat sana. Sementara aku, anaknya, jauh di rantau, Pekalongan, daerah pantura Jawa Tengah.

Sudah dua tahun saya tidak bertemu ibu. Terakhir ibu datang ke Pekalongan saat aku menikah. Gurat ketuaan begitu kentara di usia beliau yang telah lebih dari 70 tahunan.

Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sudah menjadi orang tua dan punya istri serta anak.
***

Sejak bapak meninggal, praktis ibu berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya (saya dan saudara-saudara saya). Bapak meninggal saat saya berusia 10 tahun, saat masih duduk di bangku SD kelas IV. Banyak yang menyarankan agar ibu menikah lagi. Tapi saran-saran yang diberikan hanya ditanggapi ibu dengan senyum. Kecintaan ibu pada mendiang bapak dan anak-anaknya mengakibatkan ibu tak mau membagi rasa kasihnya kepada lelaki lain. Ibu terus menjanda, membagi perhatian secara penuh pada anak-anaknya.

Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang tak pernah bersekolah dan tidak bisa tulis baca. Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah, pesan mendiang bapak selalu diingat dan diterapkan ibu dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.

Rata-rata tamat SMP atau SMA kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Dua anak ibu (nomor 2 dan 3) setelah merantau, kembali ke kampung halaman. Saya sendiri sebagai anak kelima merantau ke tanah Jawa setelah selesai kuliah. Dalam pencarian diri akhir 1996, setelah beberapa bulan di Jakarta, jadilah saya kemudian menetap di pesisir utara pulau Jawa, yakni Pekalongan.

Tahun 1997 awal saya mula menetap di Pekalongan. Hingga kini berarti sudah 11 tahun.

Beberapa kali saya pulang ke kampung, bertemu dengan ibu dan sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau Jawa, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.

Terakhir saya pulang tahun 2002. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu. Ibulah yang berkunjung ke Pekalongan, setelah sebelumnya mampir di tempat famili lainnya di Jakarta. Hampir tiap tahun ibu berkunjung ke tanah Jawa.

Ada keinginan pulang ke Sumatera. Keinginan pulang bersama istri dan anak. Mungkin saja itu akan bisa terlaksana saat Putra, anak saya, berumur 2 tahunan. Jadi ya, harus menunggu dulu.

Kini, di daerah utara pulau Jawa, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.

Dan di bebukitan Sengare, rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Januari 2009 in Diari

 

Tag:

15 responses to “KIDUNG RINDU IBU

  1. langitjiwa

    31 Januari 2009 at 21:27

    saya menikmati sekali tulisan ini,sobatku

    ….> trims mas

     
  2. alif

    1 Februari 2009 at 03:19

    Pak Zul, jarak ini terasa jauh dunia ini terasa luas,tapi dengan do’a semua jadi dekat.Di sana kita tak lagi mengenal batas ruang dan waktu.Dengan do’a pula silaturahmi senantiasa tersambung.

    Pak Zul, tahukah kita bahwa Ibu sering menyisakan sedikit makanannya saat beliau makan ?Bukan karena sudah kenyang atau tidak enak…tapi karena ingin anaknya ikut menikmati apa yang beliau makan…!Subhanallah!..

    Salam hormat dan rindu untuk Ibu…
    Tetap semangat dalam merenda hidup ya….

    ….> benar sekali pak. dengan doa semua sekat menghilang. dengan doa jalanan terjal menjadi seakan tak berarti.

    saya sering terenyuh dg cerita-cerita tentang perjuangan atau kasih ibu pada anaknya. sebaliknya menjadi amat marah saat ada anak yg durhaka pada ibunya

    semoga ibu kita jadi orang paling beruntung ya pak: hari ini, esok, dan nanti

     
  3. yakhanu

    1 Februari 2009 at 08:03

    ibu adalah manusia yang paling The Best….

    di Pekalongan Kota pantai yang mempesona….
    sesekali jalan bersepeda lewat alas roban dapat melatih otot kaki mas…..

    ….> alas roban batang? weleh, lumayan jauh kan mas?

     
  4. Jafar Soddik

    1 Februari 2009 at 08:51

    Ibu sosok wanita mulia dengan kasih sayang sepanjang zaman.

    Mudah-mudahan Ibu dan orang tua kita selalu diberikan kesehatan, umur panjang yang bermanfaat dan kita dapat terus berbakti untuk selalu membahagiakan beliau sampai akhir hayatnya.

    ….> amiiin. trims ya mas….

     
  5. imoe

    1 Februari 2009 at 18:24

    pak zul, dima pasisi nyo ko ?

     
  6. Ikkyu_san

    2 Februari 2009 at 20:57

    hmm 6 tahun ya pak…
    Memang paling sulit jika harus berpisah jauh dengan orang tua , apalagi ibu. Semoga waktu Putra berusia 2 tahun bisa terwujud keinginan untuk pulang bertemu ibu ya Pak.

    salam kenal

    EM

     
  7. cahsholeh

    2 Februari 2009 at 21:00

    jadi ingat lagunya iwan fals “ibu”

     
  8. yanti/mama aini

    3 Februari 2009 at 10:51

    Saya berharap.. anak-anakku punya kecintaan yang sama kepadaku… Dan..Semoga.. kita semua dapat menjaga nama dan harapan para ibu.

     
  9. Daniel Mahendra

    3 Februari 2009 at 12:20

    Hmmm, tiba-tiba jadi teringat mama yang jarang kutemui dan ngobrol banyak dengannya. Padahal di Bandung. Hmmfffhhh…

     
  10. putirenobaiak

    3 Februari 2009 at 16:14

    teringat Ibu, aku selalu membatin, telahkah aku menjadi Ibu yg baik buat anak2ku? yg akan mrk kenang dg cinta seperti ini?

    tulisannyo mambuek sabak mato pak zul

     
  11. Pencari Kebenaran

    5 Februari 2009 at 03:51

    Tulisan uda membuat ambo terhanyut kedalamnya…
    (sembari mengingat apa yang telah diberika kepada mama??)
    Bunda, engkau akan selalu ada dalam sembah sujudku dan di setiap hembusan doa yang aq ucapkan..

     
  12. Jamal eL Ahdi

    10 Februari 2009 at 11:40

    Yah Aku Rindu Sama Emak,Tapi Emak Telah Pergi Menghadap Tuhan 21 Jan 2009. Menemui kekasih sejatinya.
    ” Kematian Adalah Puncak Kerinduan Makhluk Kepada sang Penciptanya ” -rabiah al adawiyah

     
  13. denih

    19 Februari 2009 at 11:54

    apa yang anda rasakan sunggh kini sedang kuarasakan .. aku rindu ibu… rindu.. ibu… semoga Allah senantiasa menjaga ibu… maafkan ankmu ini dua bulan lebih belim pulang….

     
  14. helmi

    2 April 2009 at 12:29

    Allah begitu sempurna menciptakan makhluk bernama ” Ibu”

     
  15. Suwandra Koto

    15 Maret 2011 at 23:07

    uda zul jangan hanya ibu…..bapak juga ya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: