RSS

Stasiun Bus

24 Des

terlalu gemuruh suara yang mendera di musim ini
ketika pecah lagi perang yang lebih seru di perut
dan bagai rombongan: mereka mengungsi!

bagai roda pedati yang berganti
ketika sosok-sosok tubuh bergerak perlahan
dalam gemuruh sesak matahari siang
naik atau bergayut di pintu-pintu bus

banjir peluh ini adalah deretan penumpang
yang searah: pulang kampung!
menikmati hari sehari
libur di tahun baru ini
dengan tas penuh berbaris rapi memanjang
ke tangga-tangga bus

barangkali di dalam ada
sebuah bayangan yang kucari
:bayangku sendiri

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Desember 2008 in Puisi

 

Tag:

19 responses to “Stasiun Bus

  1. suhadinet

    24 Desember 2008 at 15:22

    Liburannya ke mana pak?

     
  2. Syams Ideris

    24 Desember 2008 at 16:44

    Suasana pulang kampung…
    Yah, saya dapat membayangkan bagaimana
    rasanya ikut berjejal dan berpeluh di taksi…
    disamping tas bawaan yang besar..
    Moga semua selamat sampai ke tujuan..

     
  3. Hejis

    25 Desember 2008 at 10:01

    Kalau aku pulang. Berziarah pada bau lumut kali, lumpur, dan senyum polos penganai padi. Di situ jiwa dapat menyelonjorkan kakinya dari debu kota yang tiap hari menebal, sebagai tabungan harap.

    Kalau aku pulang. Sebetulnya berangkat menuju akar. Dan ingin tinggal berselimut kesahajaan. Bersama orang kampung yang pilihannya tepat.
    Untuk apa semua ini, kalau pada akhirnya harus kembali ke akar?

    Salam kenal, salam hangat.😀

     
  4. ifoell

    25 Desember 2008 at 11:37

    Lagi Risau ya bang mpe di tuangkan dalam sastra..

    MET menyambut TAHUN BARU 2009
    Smoga di tahun baru apa yang di cita-citakan akan segera terwujud. Sukses slalu….

     
  5. C.P. Djoeminem

    25 Desember 2008 at 20:27

    sejak bis datang, pedati di kampung saya juga langka pak.
    berganti dengan mesin-mesin beroda yang membuat polusi itu

     
  6. Ersis Warmansyah Abb

    26 Desember 2008 at 00:10

    Menikmamati bait-bait indah; puisi depkrespsi> makasih

     
  7. alris

    26 Desember 2008 at 02:15

    Akhir tahun emang banyak penduduk kota pulang kampung memanfaatkan liburan panjang. Pulang kampung, terakhir aku lakukan ketika almarhum bapak meninggal dunia.

     
  8. mcdamas

    26 Desember 2008 at 05:27

    Wah…wah… SELAMAT TAHUN BARU om. Moga sukses slalu, meskipun di pesisir

     
  9. artja

    26 Desember 2008 at 17:19

    di terminal bis, saya pingin bikin puisi. tapi hasilnya nggak pernah kayak punya pak zul, enak dinikmati

     
  10. zoel

    27 Desember 2008 at 08:52

    pengalaman naik bus bisa jadi puisi… saluttttttt

     
  11. Nin

    28 Desember 2008 at 14:24

    Selamat mudik.
    Saya cari bayangan saya di bis itu, tak ada…

     
  12. Mrs. Intan

    28 Desember 2008 at 19:22

    Wew, akhirnya saya nemu kawan seprofesi. Bedanya, Bapak yg satu ini jago bikin puisi. Sedangkan saya meski berlabel guru BI, belum pernah berhasil meramu kata menjadi rangkaian makna yang menarik mata untuk membaca! Walah.. .

     
  13. ubadbmarko

    29 Desember 2008 at 08:46

    Jangan lama-lama liburannya, ntar lupa lagi caranya ngeblog.

     
  14. qizinklaziva

    29 Desember 2008 at 13:51

    Semakin mencari diri… semakinlah kita kehilangan!

     
  15. Rindu

    29 Desember 2008 at 16:41

    Saya tunggu diujung pintu keluar stasiun ya kang … saya tunggu.

     
  16. marshmallow

    30 Desember 2008 at 18:52

    suasana mudik dan liburan yang sesak.
    can’t live with it, can’t live without it.
    biar penuh perjuangan dan saat menjalaninya terasa berat, suasana demikian tetap dicari dan dirindukan.
    selamat tahun baru, pak zul.

     
  17. potter

    31 Desember 2008 at 14:59

    Selamat Tahun Baru ya Pak Zul

     
  18. Daniel Mahendra

    5 Januari 2009 at 18:05

    Kucari bayanganku di sudut-sudut terminal, di pojok stasiun, di ruang tunggu bandara. Ia tak ada.

    Kucari di hati seorang perempuan, di kesumba bibirnya, di kerling matanya. Ia tak menyimpannya.

    Kucari di lembah, di gunung, di pantai, di ujung horison. Mereka tak pernah melihatnya.

    Bayanganku pergi. Berjalan kaki mencari rumah-rumah tanpa alamat surat.

    Adakah kau melihat?

     
  19. 4ndika

    11 Januari 2009 at 10:14

    salam kenal aja😆

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: