RSS

REUNI (Bagian I)

01 Des

“Kau tahu,” katanya, “aku paling tidak suka pada rutinitas. Karena ia telah menjadikan diriku asing.”

“Tapi biasanya Kau mampu mengatasinya dengan caramu sendiri,” bantahku. “Rutinitas kadang memang menjadikan kita merasa asing dan tak mengenali diri sendiri. Tapi apakah itu cukup sebagai alasan?”

“Entahlah,” jawabnya. Ada keraguan bermain di matanya. Sejenak aku menikmati kerjap matanya yang mempesona.

“Barangkali Kau tak sungguh-sungguh,” tudingku. “Kau hanya berusaha menjadikan rutinitas sebagai alasan keberhentianmu sebagai konsultan. Pikirlah dulu masak-masak, agar kau tak menyesal nanti.”

Ia tak menjawab.

Sesaat ada angin kecil melintas. Dedaunan kelapa bergoyang dan mengeluarkan bebunyian yang pada siang itu terasa sangat asing. Seakan bunyi-bunyi dari jauh, di kafe yang sepi itu.

“Apakah keputusanmu itu sudah mantap?” usikku.

“Mungkin,” jawabnya pendek.

“Mungkin? Hanya mungkin?” tanyaku parau.

“Ya,” jawabnya. “Tapi Kau jangan mendesakku seperti itu. Aku tak suka, dan bukankah Kau sudah tahu itu?”

Ia menatapku tajam. Walau begitu, pijar matanya tetap mempesona. Mata yang sering membuat emosiku tak stabil, dulu. Mata yang senantiasa menjanjikan kelembutan dan membuat fantasiku melambung jauh. Tapi, ah, tidak! Karin bukan lagi orang yang seharusnya aku impikan.

“Ternyata Kau tak pernah berubah,” sindirku. “Masih saja keras kepala dan….”

“Teruskan,” ujarnya ketika kalimatku kugantung.

“Ah, tak usah,” kataku. “Kau tentu tahu apa yang aku maksudkan.”

Ia tersenyum dan mengirimkan cubitan kecil ke pinggangku. Karin tahu apa lanjutan kalimatku. Kalimat itu sering kuucapkan dulu. Kalimat yang memuji dan menyanjung dirinya yang manis dan amat paradoks dengan sikap serta pendiriannya yang keras. Dan setiap kali aku sindir begitu, dulu, selalu saja aku menerima cubitannya. Cubitan yang setidaknya mampu membuatku meringis.

Dan sekarang pun aku meringis.

Karin tertawa kecil melihatku. “Rasain!” ujarnya.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Tak mampu berbuat apa-apa.

***

Elvie Karina Dithia. Kukenal ia dalam sebuah seminar pada bulan bahasa. Ia gadis enerjik yang pernah kukenal. Di kampus ia seorang dosen muda berbakat. Di radio ia penyiar cemerlang. Dan di percetakan surat kabar, ia seorang wartawati handal. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia membagi waktu sedemikian rupa, dalam kegiatan-kegiatannya yang padat.

“Ah, yang penting kita bisa merasa suka dengan apa yang kita lakukan,” jawabnya ketika kukemukakan keherananku. “Dengan begitu, segalanya tak jadi masalah.”

“Dan kau tidak merasa capek?”

Ia tersenyum. Tak akan pernah kupungkiri, bahwa senyumnya begitu manis. Dan matanya, begitu indah dan mempesona.

“Kau sendiri bagaimana?” tanyanya.

“A… aku?”
berdua2
Karin tersenyum. Lagi-lagi aku tersihir pesonanya.

“Aku hanya seorang penulis,” jawabku. “Juga mahasiswa yang entah kapan wisudanya.”

“Hebat juga kalau begitu,” komentarnya.

“Jangan menyindir,” balasku. “Aku tahu kalau diriku tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Walau begitu, aku tak akan mengubah sapaanku yang cukup berkamu padamu.”

“Tak apa,” jawabnya. “Toh aku hanya lebih tua satu tahun, dan aku juga tidak mau dipanggil ibu atau uni. Tapi sungguh, aku tak menyindirmu. Jadi penulis tak mudah. Aku sendiri bukanlah penulis, hanya seorang wartawati. Penulis berita, bukan penganalisis fakta atau menjadikan fakta ke dalam karya yang enak dibaca. Tapi kalau boleh kutahu, kau penulis apa?”

“Macam-macam,” jawabku jujur. “Pokoknya menulis apa saja yang menyentuh diriku, kecuali berita lempang.” Aku tersenyum.

Cerita yang belum selesai alias bersambung.
Enaknya kelanjutan ceritanya bagaimana ya…

berdua

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2008 in Cerpen

 

Tag:

6 responses to “REUNI (Bagian I)

  1. Daniel Mahendra

    3 Desember 2008 at 04:38

    Aduh-aduh-aduh. Aku tersenyum-senyum sendiri selama membacanya. Ada relasi nilai dengan cerita ini (ahuhuuu…).

    Elvie Karina Dithia. Kenapa begitu indah namanya? Ah, seru ini. Si perempuan aktif dan lebih tua satu tahun. Dan si laki-laki, aih, aku jadi penasaran.

    Ayo-ayo, cepat lanjutkan. Enaknya bagaimana? Jangan buru-buru dituntaskan. Bisa dikembangkan ke soal kegiatan Elvie yang seabrek, sehingga mesti mencuri-curi waktu untuk sekadar bertemu serta cubit-cubitan.

    Dan umur yang setahun lebih tua itu jadi menarik. Karena di situ ada soal jarak, kematangan berpikir, pengalaman hidup, dan ehem-ehem!😉

    Tak sabar!

    ….> relasi nilai dan cerita? aha, ada kaitannya jugakah dg mas daniel.

    cerita yg mau saya tulis sebenarnya berdasarkan kisah nyata 2 bloger. siapakah?
    rahasia dong….

    ok. trims atas masukannya mas daniel.

     
  2. marshmallow

    3 Desember 2008 at 20:11

    Cerita yang belum selesai alias bersambung.
    Enaknya kelanjutan ceritanya bagaimana ya…

    surprise us!
    ditunggu kelanjutannya, pak zul.

    ….>konsepnya sdh ada uni. tapi masih mikir, baiknya bagaimana….

     
  3. edratna

    6 Desember 2008 at 06:39

    @DM
    Emang kenapa kalau perempuan aktif dan berumur lebih tua 1 tahun?

    Tapi menarik pak, teruskan ceritanya….nama ceweknya indah nian. Ada rasa gamang, tak pede dihati pria…benarkah? Ingin dengar lanjutannya, bagaimana perasaan pria jika jatuh cinta pada cewek yang dianggap punya kemampuan diatasnya? Betulkah? Padahal mungkin si cewek juga mengagumi pria penulis tadi?
    Begitukah ceritanya….hayoo lanjutkan

     
  4. Builder

    14 Desember 2008 at 04:20

    Мне нравятся Ваши посты, заставляет задуматься)

     
  5. Printer

    15 Desember 2008 at 15:23

    Интересная тема, Спасибо!

     
  6. BigSten

    17 Desember 2008 at 05:52

    Теперь буду почаще читать, мне так понравилось😀

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: