RSS

Ketika Suatu Kali dalam Hujan

01 Des

ketika suatu kali dalam hujan kita bercerita
ada mendung di matamu, kutahu itu
senja telah membuat kita larut
dan di kafe, es kelapa muda telah lama kita habiskan

dalam deru hujan kita sama menanti
entah apa; sesuatu yang tak pasti, barangkali
kita tak saling bicara, meski kita sama menginginkannya
dan mata kita senantiasa meninggalkan bayangan-bayangan
ketakutan, (atau mungkin ketidakpastian)
dsc004671
di luar masih hujan, desember yang lembab
dan murung. kita mendengar ada bisik-bisik
sepasang kekasih bicara dalam remang
mesra sekali. tiba-tiba kumerasa cemburu

suara musik itu; ah, mengapa kita jadi seperti ini
sama memanjakan diri dalam kekerasan hati
kita terbentur kata, meski dalam hati kita menggerutu

kafe tua; “menyebalkan!” umpatmu
hujan itu masih menjadikan kita terbelenggu
kita telah coba menyelami makna
tapi kita sama mengerti, perjalanan masih jauh
tanpa tahu, di mana perhentiannya

 
21 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2008 in Puisi

 

Tag:

21 responses to “Ketika Suatu Kali dalam Hujan

  1. ridu

    2 Desember 2008 at 19:17

    wah.. kenangan di kafe pas hujan ya pak?? heheh

    ….> jawabnya singkat: iya. he he….

     
  2. ifoell

    2 Desember 2008 at 20:19

    Pesan apakah yang ingin disampaikan..??
    Aku mah salut ma kata2nya.. baca berulang ulang ngga kutemukan juga maknanya.. buntu kali otakku ya mengartikannya.. maklum.. bukan anak Sastra..he..he..he.. Nie posting bang… apa kabar..?

    ….> puisi erat kaitannya dg perasaan. begitu sulitkah mengupngkap ‘rasa’ yg ada di hati pak?

     
  3. Daniel Mahendra

    3 Desember 2008 at 04:46

    Karena hujan tidak pernah mau tahu.
    Selamanya ia ingin dianggap misteri bagi menusia.

    ….> meskipun begitu, hujan sering mewakili perasaan seorang anak manusia

     
  4. artja

    3 Desember 2008 at 17:09

    hujan memang sering membuat belenggu
    pada jalan yang ujungnya berakhir pada ketidakpastian,
    tapi kadang hujan menyiramkan percik keberanian
    agar kita tak saling menjadi batu

    ….> ini dia, pemaknaan yg paling pas. he he

     
  5. marshmallow

    3 Desember 2008 at 20:21

    memang susah terjebak hujan saat hati juga tengah mendung. padahal hujan tak bisa dipastikan kapan berhentinya, seperti mendung di hati itu.

    padahal kalau hati tengah bersinar cerah, sentuhan hujan bisa menciptakan pelangi yang indah.

    *what am i talking about?*

    ….> tuh, uni makin memiliki kemampuan lebih menangkap makna yg muncul pada puisinya. mantap. kapan uni mau posting puisi sendiri?

     
  6. musafak

    4 Desember 2008 at 05:47

    Sungguh di dalam hujan terdapat kedamaian mendalam

    Sungguh di dalam hujan tersembunyi ketakutan yang mencekam

    Sungguh di dalam hujan tersemai berjuta harapan

    Sungguh di dalam hujan membayang selaksa keputusasaan

    ….> dan pada hujan, ada puisi. he he

     
  7. catra

    5 Desember 2008 at 15:49

    hujan
    karena hujan lah negeri kita ini subur tanahnya
    karena hujan lah bandung selatan menjadi wisata banjir
    karena hujan lah, rumah di sana tertimbun longsor
    yang jelas hujan adalah simbol reski allah swt buat umatnya

     
  8. Balisugar

    5 Desember 2008 at 21:29

    Hm…mampir baca-baca catatan penyair.

    entahlah akupun sering menulis puisi tentang hujan.

    Menyerapnya begitu nikmat jadi syair

     
  9. qizink

    8 Desember 2008 at 14:41

    Selalu saja ada yang bisa dicatatkan saat hujan datang

     
  10. Menik

    10 Desember 2008 at 13:25

    hujan…
    jadi kangen sm suami nih Pak…
    apa kabar Pak.. btw, saya dah pindah saung lho..🙂
    *celingukan, di link dah ga ada* hehehe

     
  11. Sawali Tuhusetya

    12 Desember 2008 at 09:16

    selal saja ada peristiwa di bulan desember yang layak dicatat dalam catatan harian, pak zul. hujan, penantian, dan suara2 musik yang menyayat itu makin menambah suasana desember jadi kelam dan kelabu. semoga pak zul justru sebaliknya. selalu saja ada kebahagiaan yang datang di bulan desember.

     
  12. goenoeng

    12 Desember 2008 at 13:43

    perjalanan memang masih jauh, mas Zul.
    mungkin sebaiknya kita menikmati hujan bukan dengan kemurungan.
    mungkin sudah saatnya kita menikmati keelokannya, mendengar melodi tetesannya….

    perjalanan memang masih jauh, mas Zul.
    helalah nafas panjang, agar sesak itu tak membelenggu…
    mari kita lanjutkan yang sempat terhenti…

     
  13. suhadinet

    12 Desember 2008 at 20:34

    Kenapa tak bersatu dengan hujan dan memesrakan jiwa-jiwa yang angkuh?
    *komentar gak fokus!

     
  14. style

    13 Desember 2008 at 21:58

    Уж тоже спасибо скажу!

     
  15. budarnik

    14 Desember 2008 at 16:01

    С точки зрения бональной эрудиции – сделано граммотно!

     
  16. komuter

    14 Desember 2008 at 18:18

    bersabarlah

     
  17. Cah Sholeh

    14 Desember 2008 at 20:42

    puisinya bagus, gambarnya juga keren banget…
    *maaf, lama tidak berkunjung…

     
  18. Daniel Mahendra

    14 Desember 2008 at 22:27

    Mas Zul, kemana saja… Sehat-sehat saja kah?

     
  19. arifrahmanlubis

    20 Desember 2008 at 10:42

    ketika suatu kali dalam hujan..judulnya pun sudah sendu.

    apa kabar pak?

     
  20. BatMan

    23 Desember 2008 at 03:12

    Мне показалось,что слабо.

     
  21. milono

    5 Juli 2010 at 13:04

    Jadi ingat pekalongan….
    hmmm….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: