RSS

Saya Seorang Guru

26 Nov

Adakah nada bangga ketika Anda menyandang predikat guru? Ataukah sebaliknya, ketika berkenalan dengan seseorang, Anda menyebut dengan leher seolah tercekik bahwa profesi Anda guru?

Pernah juga teman, wiraswastawan sukses materi, dengan sebelah mata memandang profesi guru yang saya sandang. “Kok jadi guru, sih?”

Agaknya profesi guru memang dilematis. Gaji rendah jauh dari layak (bersyukurlah yang sudah berhasil dengan sertifikasinya). Tak mengherankan, masih ada guru nyambi jadi tukangj ojek, tukang becak, jualan lks, dan sebagainya.

Pada zaman yang serba sulit ini, profesi guru memang agaknya tidak ‘menjanjikan’. Sertifikasi mungkin angin segar yang datang terlambat. Secara tak langsung, ini pun ada korelasinya dengan mutu pendidikan di Indonesia. Bagaimana mau jadi guru yang baik bila dalam keseharian masih disibukkan dengan memikirkan ‘apa yang akan dimakan nanti’. Alhasil, guru yang harus mempersiapkan diri dengan perencanaan sebelum masuk kelas (seperti yang ditulis Pak Suhadi) tidak bakalan tercapai.

Saya seorang guru. Guru yang belum disertifikasi. Kata orang di diknas, sertifikasinya nunggu giliran.

Saya seorang guru. Bekerja di sebuah SMP di puncak bukit. Sebagai guru, saya senang melakukan tugas sebagai pendidik dan pengajar.

Sebagai seorang guru, saya telah mengalami suka duka dunia pendidikan, walau belum sekaya pengalaman Pak Sawali. Tapi hingga detik ini saya masih menyaksikan betapa masih semrawutnya pendidikan di darah kabupaten tempat saya mengajar.

Sebagai contoh, adanya uang ‘sangu’ buat tamu dari diknas termasuk pengawas yang datang ke sekolah. Masih ada kepala sekolah yang bertindak sebagai manajer plus bendahara. Masih banyaknya nota atau kuitansi siluman yang ditempel sebagai lampiran laporan. Malah hingga kini, di tempat saya dan hampir semua sekolah (SMP) di kabupaten, yang katanya sudah menerapkan KTSP masih mengadakan ulangan semester bersama. Aneh memang.

Saya seorang guru. Guru yang kadang ‘marah’ melihat kebobrokan yang ada. Guru yang 25 November berultah.

Selamat hari guru!

 
25 Komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2008 in Diari, Lain-lain

 

Tag: , , , ,

25 responses to “Saya Seorang Guru

  1. Syamsuddin Ideris

    26 November 2008 at 04:57

    Betul mas, profesi guru masih perlu dibenahi dan ditingkatkan baik mutu atau kesejahteraannya agar lebih profesional. Mudah-mudahan nanti guru menjadi profesi yang dihormati. Dirgahayu Guru Indonesia….

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    26 November 2008 at 06:55

    Saya juga guru. Saya tidak iri dengan profesi orang lain. Saya juga ngak rendah diri tamatan PGAN, atau IKIP, dan … banyak lho dari profesi bagus yang bekerja dengan saya. Nah, jadi bukan bekerja dengan guru esesnsi, apa yang dilakukan seorang guru lebih penting. Moga aja.

     
  3. suhadinet

    26 November 2008 at 07:27

    Sistem pelaporan keuangan membuat sekolah terpaksa membuat laporan fiktif. Kenapa gak pernah diubah sistem busuk ini ya?
    Saya adalah orang yang anti pegang uang sekolah, gak pernah mau ditunjuk jadi bendahara atau semacamnya. Gak suka bohong soal uang.
    Mudah-mudahan semua sistem mendukung majunya pendidikan kita. Selamat hari guru pak zul

     
  4. vizon

    26 November 2008 at 07:38

    saya juga seorang guru;
    saya mencintai profesi saya,
    saya menyadari sepenuhnya, bahwa murid saya bukanlah “benda mati”, bukanlah “kelinci percobaan”, tapi manusia yang sedang dalam proses menjadi manusia berguna…

    selamat hari guru,
    mari tetap mencerdaskan murid2 kita, meski belum disertifikasi…🙂

     
  5. vivi

    26 November 2008 at 10:37

    Ya selamat merayakan hari guru walau satu hari saja.
    Hidup memang sebuah pilihan kalau anda sudah menyandang profesi guru,Terimalah segala konsekwensinya .Tetapi bukan kah guru juga manusia…pasti ada kekurangannya juga.Beban terberat adalah tingkah laku guru selalu jadi sorotan masyarakat.

     
  6. fisha17

    26 November 2008 at 12:12

    ow.. selamat ya pak guru.. ultah ya? Keluarga saya banyak yang guru. That’s a beautifull life.🙂

     
  7. Dudi

    26 November 2008 at 17:23

    Wah, nasib pak Zul sama dengan istri saya. Masih nunggu giliran sertifikasi🙂

     
  8. imoe

    26 November 2008 at 21:16

    Saya pengen jadi guru…pernah neglamar…katanya ngak punya AKTA IV. Jadi giomana dong pak…

    Lai takana pameo urang awak pak…

    “dima kuliah ?”
    “bung hatta”
    “wah kayo mah…”

    “dima kuliah ?”
    “unand”
    “wah hebat mah”

    “dima kuliah ?”
    “unes”
    “wah bisa tuh”

    “dima kuliah ?”
    “ikip”
    “wah, dima kampuang”

    Sangat memiriskan cara berfikir begitu…SELAMAT HARI GURU PAK…BAPAK GURU HEBAT NEGERI INI

     
  9. Oemar Bakrie

    26 November 2008 at 22:08

    Sama-sama guru Pak … selamat Hari Guru, semoga sukses selalu !

     
  10. edratna

    27 November 2008 at 07:37

    Tanpa guru kita tak jadi apa-apa.

    Selamat ulang tahun untuk para guru se Indonesia (maaf agak terlambat…masih dikejar kerjaan).
    Hmm tentu ucapan tsb juga saya sampaikan pada suami, adik2ku dan keluargaku lainnya, yang juga berprofesi sebagai guru.

     
  11. Alex

    27 November 2008 at 09:53

    tetap semangat da…..moga pemerintah lebih memperhatikan nasib guru. Apalagi jika pemerintah BERANI menganggarkan 20% utk pendidikan dalm APBN sesuai dgn amanat UUD.

    Oh ya, disumbar kini anggaran pendidikan di APBD Sumbar 20%, terutama buat kesejahteraan guru.

    Dan berbahagialah wahai para guru, karena amal ibadahmu itu mengalir lah selalu pahala hingga akhir zaman. Dan karena tugasmu adalah mulia, yaitu membangun peradaban.🙂

     
  12. marshmallow

    27 November 2008 at 20:29

    saya bangga menjadi seorang guru, dan saya bangga berteman dengan guru-guru hebat di sini.
    selamat hari guru!
    membanggakan atau tidak suatu profesi sangat tergantung kepada pribadinya sendiri, bisakah menjadi profesional yang membanggakan?
    kalau ada yang tak baik dari beberapa oknum, jangan lantas digeneralisasi toh, pak zul?

     
  13. juliach

    27 November 2008 at 22:53

    Saat ini aku menjadi guru bagi anak-anakku. Guru gratis.
    Apa lagi dunianya sudah lain dari jamanku dulu dan bahasanya juga lain. Jadi aku harus belajar lagi, mencari trik-trik yang mudah supaya anak cepat mengerti.

    Ternyata tidak lah mudah!

    Aku ikut mendukung supaya pemerintah meningkatkan kesejah teraan guru.

     
  14. Daniel Mahendra

    28 November 2008 at 04:10

    Tak ada orang atau profesi yang lebih pantas kuucapkan ribuan terima kasih daripada guru. Ia yang membukakan mata, dan mengantarkan ke jenjang dunia…

     
  15. izzah...

    29 November 2008 at 12:10

    suxguh mulia profesi anda, mencerahkan generasi bangsa gemilang,
    menghapus kebodohan dinegeri ini
    pantaslah jika anda ku beri pujian
    “wahai sang penuntun dalam kegelapan
    penerang dalam kebodohan
    andai kau ikhlas akan smua amalmu
    pastilah Tuhan menyertaimu selalu, Amin”
    sukses dech pak guru…

    btw tuntun aku juga dong me-manage blog..
    tx b4 & after

     
  16. andreaspriyono

    1 Desember 2008 at 15:00

    Memang benar menjadi guru itu tidak mudah, namun semua itu tergantung pada persepsi dan sikap kita terhadap profesi guru. Ketika kita percaya profesi ini mulia, sikap kita terhadap profesi ini cenderung positif (ha..ha). Saya juga guru alias dosen PTN, nasibnya samalah: susah-susah amat, tapi kucintai nasib ini dengan banyak belajar, nah.. pikiran jadi tenang, tidak ngoyo (ngejar matari), tetapi tetap fokus apa yang saya berikan kepada anak-anak lebih baik lagi..demi nusa bangsa yang tercinta ini. Salam hangat dan terimakasih kepada semua guru yang telah berbakti kepada bangsa ini. Soal rejeki tidak harus uang tapi kesehatan dan keberhasilan anak-anak…ya, selamat hari guru dan pantang menyerah untuk mencintai nasib.

     
  17. motiiek

    11 Desember 2008 at 02:27

    Надо сказать новый дизайн – ну очень хорош! =)

     
  18. Unitart

    16 Desember 2008 at 16:26

    Как по мне – тема раскрыта четко, спасибо за пост!

     
  19. Unitart

    16 Desember 2008 at 16:42

    Мало! Пиши почаще, ато уж очень редко тебя слышно.

     
  20. Party

    18 Desember 2008 at 06:19

    не уверена что это так) хотя спасиб

     
  21. Mrs. Intan

    28 Desember 2008 at 21:09

    “Adakah nada bangga ketika Anda menyandang predikat guru? Ataukah sebaliknya, ketika berkenalan dengan seseorang, Anda menyebut dengan leher seolah tercekik bahwa profesi Anda guru?”

    Ya. Saya sangat bangga. Bahkan ketika awam mencibir, “Hah, CUMA guru bahasa Indonesia??”
    Melihat keceriaan anak2, raut muka tegang mereka saat ketauan nyontek, mimik bahagia ketika bercerita lagi jatuh cinta, tawa puas saat project or ujian dapet nilai bagus, semua itu menjadi kenikmatan saya sebagai guru.

     
  22. bahtiyarzulal

    31 Desember 2008 at 10:53

    Ya.! masih banyak lagi tugas guru yang lebih berat, diantaranya harus mampu merubah ‘ekosistem’ yang lebih berat dari merubah tingkah laku anak manusia sebagai hasil dari proses pendidikan
    Saya masih ingat betul ketika masih kuliah dulu saat datang terlambat lima menit mengikuti perkuliahan dosen saya menegur’Anda ini calon guru..!’ betapa malunya saya waktu itu..!, tapi setelah menjadi guru ‘apa yang saya hadapi..?’ Saya mendapati kenyataan bahwa orang datang tepat waktu adalah orang aneh..! dan saya tidak boleh jadi orang aneh..! sangat menyedihkan..!, bukanya saya merubah keadaan tapi keadaan merubah saya

    Gambaran awal saya seorang guru itu sebenarnya sederhana saja ‘jujur’ itu saja..! tapi kenyataan yang kita dapati..? kita harus belajar sekeras-kerasnya agar dapat menutup mata ‘hati nurani’ meskipun saya sendiri tidak yakin tentang itu…

    Mungkin saya ini orang yang malang kerena terlahir dari lingkungan yang ‘jujur’ sehingga ketika masuk lingkungan ini seperti masuk dalam rimba ‘(maksudnya:hukum rimba)

    Lha.. terus enaknya bagaimana.? menurut saya ‘Kita mendidik (guru) ini kan ‘nawaitu’ kita mengabdi pada-Nya.! ya sudah kita harus dapat mempertanggung jawabkan kepada-Nya

    Tapi saya sangat percaya disuatu saat pasti ada perubah..! pasti..!

     
  23. VEISCENIANAEN

    6 September 2010 at 20:19

    Thanks for writing, I very much liked

     
  24. VEISCENIANAEN

    10 September 2010 at 19:54

    thank!

     
  25. dwi adtuti

    18 Mei 2013 at 22:31

    Salam kenal. Sy juga guru. Sy juga spt Anda yg penuh keheranan dg kejanggalan & ketidak sesuain antara satu dg yg lain. Alhamdulillah sy sdh sertifikasi yg pencairannya tak menentu, tak jls, ta sesuai dg aturan yg ada. Namun ttp alhamdulillah pula krn meski selalu terlambat & tak jls namun msh bs menikmati
    Semoga ke dpnnya akan lebih tertip & konsekuen. Semoga pula AAnda akan segera bersertifikasi. Atau ketika Anda membaca ini Anda sdh menikmati uang tunjangan sertifikasi, & sdh lancar.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: