RSS

MIGRASI KULTURAL DALAM KARYA SASTRA

17 Nov

hidup hanya sehimpun headline
ketika kita lewat terbaca
huru-hara yang habis di halaman lain
di sebuah dunia, kita tak tahu lagi di mana

(Goenawan Mohamad, “Bintang Kemukus”)

Pada akhirnya sastra memang sesuatu yang fiktif. Namun menjadi naïf mengatakan bahwa sastra hanyalah sesuatu yang imajinatif. Di beberapa tulisan disebutkan, sastra tidak berangkat dari kekosongan budaya. Riffatere (dalam Teeuw, 1983: 65) mengemukakan, suatu karya sastra merupakan respon terhadap karya sastra sebelumnya.

Tidak ada karya sastra yang menjadikan dirinya kokoh dan bertahan tanpa terjadi pembaharuan. Suatu konvensi dalam karya sastra bias jadi ditiadakan pada karya berikutnya. Pemikiran-pemikiran baru senantiasa tumbuh, seiring dengan perguliran zaman yang menyebabkan sastrawan menghasilkan karya sastra ikut terlibat di dalamnya.

Memang, dalam penulisan karya sastra, para sastrawan tidak bisa melepaskan diri dari lingkungannya. Paling tidak, pikiran-pikiran yang melintas senantiasa member tanggapan pada lingkungannya. Tak jarang, para sastrawan tercerabut dari lingkungan yang membesarkannya dan kemudian melakukan migrasi kultural.

Orang-orang Blomington misalnya, merupakan migrasi kultural yang amat pekat dari Budi Darma sebagai manusia Indonesia. Dunia yang digambarkan Budi Darma bukan hanya asing di Indonesia, lebih dari itu migrasi yang dilakukannya itu mengantarkan pembaca pada kesuraman dan kengerian di suatu lingkungan dan kultur yang berbeda.

Migrasi semacam ini menyebabkan tercerabutnya pemikiran sastrawan dari kultur yang ia tempati. Pemikiran itu kemudian dapat terungkap dengan jelas dalam konflik para tokoh yang diciptakannya. Pendidikan sebagai salah satu indikator, sering membawa pemikiran seorang pengarang keluar dari kultur aslinya. Tanpa sadar, seorang pengarang telah berada di dunia lain. Bahkan ia bisa dianggap durhaka dan menjadi Si Malin Kundang.

Suatu esai menarik yang dipaparkan Goenawan Mohamad berbicara tentang migrasi kultural ini. Ketercerabutannya dari kultur yang membesarkannya (Batang, Jawa Tengah), membuat ia merasa sebagai seorang Malin Kundang (baca Potret Penyair Muda sebagai si Malin Kundang).

Fakta ini kemudian tidak hanya menjadi milik Goenawan semata, melainkan telah menghinggapi para pemikir kebudayaan, termasuk sastrawan. Secara tidak sengaja dan tidak sadar, penyair kemudian menjadi Malin Kundang. Apa karena konsep kebudayaan yang tak jelas? Entahlah.

Ketercerabutan pola berpikir agaknya juga telah melanda kesusastraan Indonesia sepanjang pertumbuhannya. Banyak karya sastra Indonesia berbicara tentang hal ini lewat konflik para tokohnya. Tokoh Hanafi dalam Salah Asuhan misalnya, dengan pendidikan tinggi yang diterimanya menyebabkan tokoh yang asli pribumi ini menjadi keindo-indoan. Pikiran-pikirannya dijejali konsep asing. Baginya, Eropa adalah bangsa yang lebih beradab dibanding bangsanya sendiri. Tokoh Hanafi berada pada kegamangan berpijak. Di satu sisi ia tak menerima keadaan bangsanya, di sisi lain ia ganti tak diterima oleh Eropa.

Lain halnya dengan Minke dalam Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. Minke kemudian menjadi fenomena lain. Transformasi pikirannya justru dimanfaatkannya untuk kepentingan bangsanya.

Kepribadian Hanafi dan Minke bertemu dalam Setadewa, tokoh yang ditampilkan YB Mangunwijaya dalam Burung-burung Manyar. Sebagai orang KNIL, ia punya pikiran yang bias dianggap berkhianat kepada bangsanya. Namun Mangunwijaya tidak berhenti hanya sampai di situ. Keteguhan sikap dan siap menerima segala sesuatu sebagai risiko, menjadikan Teto alias Setadewa berubah haluan. Ia melakukan migrasi dengan menjadi orang Indonesia yang kelak melakukan hal-hal yang menentukan bagi bangsanya.

Keahlian Setadewa dalam dunia komputer dimanfaatkannya untuk membuka tabir dalam perhitungan Matematika yang merugikan bangsanya. Ia mengungkapkan fakta yang ditemukan, meskipun dengan risiko kehilangan pekerjaan.

Persoalan ini kemudian makin jelas dalam karya Mangun yang lain, Burung-burung Rantau. Novel ini tak hanya bicara tentang Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Ia menyatakan, sudah saatnya bangsa Indonesia tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri, melainkan menjadi manusia pasca-Indonesia. Hidup haruslah diisi sesuatu yang mendunia sekaligus menjadi warga dunia yang baik. Novel ini kemudian bicara tentang kota-kota dunia sebagai rantau yang di dalamnya terimplikasi konsep pulang. Dengan novel ini pula, Mangun sebenarnya telah bicara betapa sempitnya dunia dalam kerangka global.

Dunia yang mengglobal seperti yang diungkapkan Mangunwijaya dalam Burung-burung Rantau, tak berbeda dari gambaran Goenawan dalam penggalan puisi di atas. Migrasi kultural yang menimbulkan rasa asing, sepi, dan kesendirian yang tak dapat dielakkan. Dunia kian menyempit dan para pengarang, penyair, atau sastrawan menjadi mengembara. Gus Tf Sakai melukiskannya dalam penggalan bait puisinya “Seseorang dalam Lorong bernama Zaman” sebagai berikut:
ke mana-mana ia, namun di lorongnya saja. Hotel-hotel
beton, losmen-losmen baja, o, usia yang yang mengukur
sesiapa, ia baca namanya: sebagai pengembara. Sebagai jembatan bagi setiap jalan
sebagai kejadian pada
sebuah masa – jauh, jauh sekali kemudian.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 17 November 2008 in Esai

 

Tag:

2 responses to “MIGRASI KULTURAL DALAM KARYA SASTRA

  1. marshmallow

    17 November 2008 at 14:46

    menarik sekali esainya, pak zul.
    walaupun saya hanya kenal sedikit dari karya yang dijadikan referensi di sini, saya setuju bahwa karya sastra sangat kontekstual, ia dipengaruhi oleh lingkungan penulisnya.
    namun menurut saya, yang penting esensi dari sebuah karya itu bisa bersifat transferable, memberi makna yang global bagi siapa pun pembacanya.

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    29 November 2008 at 09:01

    Esaia bagus, tapi saya akan lebih enjoy kalau membahas karaya Pak Zul. Gimana? Nulis buku aja lagi. Semangat.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: