RSS

WAJAH MUSIM LALU (2)

06 Nov

akhirnya kau pergi dalam cuaca berdebu
mengejar mimpi nan menepi
tinggal goresan di diari beku
dan kenangan yang enggan menari

tak mungkin lagi kubaca wajahmu
dikilas ucap selamat siang
di antara tumpukan buku pustaka
di antara lalu lalang orang-orang di monumen kota
dan tatap curiga penghuni rumah

lewat perpisahan kembali kubaca kini
wajah musim lalu nan sunyi
saat kusendiri mengenang kota persinggahan
dalam gigilan tubuh yang kedinginan

mengenangmu malam-malam yang berlalu
kramatsari, monumen, dan wiradesa
selalu kurindu susuri hangatmu
dalam pelukan damai
lalu kuhitung bintang satu-satu

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2008 in Puisi

 

Tag:

5 responses to “WAJAH MUSIM LALU (2)

  1. Daniel Mahendra

    6 November 2008 at 05:55

    takkan pernah bertepi
    meski kau hitung bintang hingga mencumbu pagi,
    ia takkan pernah sampai kau susuri

    biarlah ia pergi ke semesta buku pustaka dan monumen kota
    biarkan ia menghilang di balik rumah-rumah tanpa alamat surat.

     
  2. putirenobaiak

    6 November 2008 at 09:52

    real kuhitung bintang satu-satu
    sebab kau ada disitu

     
  3. r00dhie

    6 November 2008 at 15:01

    para-para pujangga nih

     
  4. imoe

    6 November 2008 at 16:58

    hahaha saya gak mampu membalas syairnya…dalem banget….

     
  5. edratna

    6 November 2008 at 18:53

    Pak Zul, ini bidang yang tak saya kuasai…betapapun saya mencobanya.
    Jadi hanya bisa baca saja…..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: