RSS

WAJAH MUSIM LALU (1)

03 Nov

menapak keramaian kota yang tak pernah mati
selalu saja masa lalu menjelma di keindahan musim
tentang sejuk mata air
tentang embus angin subuh
dan cerita anak-anak sekolah
menjalin impian di penghujung senja

dan kali ini di kota kecil
lanskap buram mengubur damai di riuh kota
september dan oktober telah berlalu
november menjenguk di depan pintu
tapi masih saja berulang fragmen-fragmen muram
tentang kemarau panjang tanpa ujung
tentang kebakaran hutan
tentang musibah dan gelombang prahara
tanpa kita mampu mengakhirinya

menapak keramaian kota yang riuh
selalu saja angin menampar dalam nanar
saat kulelah pulang ke rumah
dalam igau wajah musim lalu yang musnah

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 3 November 2008 in Puisi

 

Tag:

11 responses to “WAJAH MUSIM LALU (1)

  1. Ersis Warmansyah Abbas

    3 November 2008 at 23:31

    Ya, saya pesuka puisi memang. ‘Igau’ wajah, kosakata yang belum kupahami.

    ….> igau dengan kata kerja mengigau alias ngomong sendiri sesuatu yg gak jelas. bisa berarti suka bicara akan mimpi, tentang masa lalu yg lebih baik, dan ingin kembali ke masa itu.

    igau di sini mengarah pada pengertian kedua.

     
  2. Syamsuddin Ideris

    4 November 2008 at 00:23

    Wah, mas Zul…
    saya belum bisa ngasih komen banyak nih, soalnya lagi mencerna makna puitis ini. Maklum background saya bukan di bidang sastra tidak seperti Pak Sawali..he..he..he…

    ….> apa demikian sulit menerjemahkannya pak?

     
  3. Catra

    4 November 2008 at 10:45

    sulit dicerna pak, secara saya masih awam dan sangat lemah dalam menginterpretasikan sebuah puisi, sering banget itu

    ….> waduh, sulit ya sutan. padahal idenya sederhana: adanya anggapan masa lalu itu indah dan lebih baik, sehingga bila memungkinkan dapat dihadirkan kembali

     
  4. yakhanu

    4 November 2008 at 12:27

    ya mungkin itu yang terjadi..
    kita akan melupakan sesuatu yang telah usai..
    dan kita siapkan utuk masa yang akan datang…

    ….> masa lalu boleh dikenang dan dijadikan pijakan atau pedoman, bukan untuk dihadirkan lagi. gak mungkin menghadirkan kejayaan negeri ini seperti majapahit atau sriwijaya kan….

     
  5. musafak

    4 November 2008 at 14:32

    Masa lalu tdk hanya untuk nostalgia apalagi untuk diratapi. Tapi langkah yg bijak menggunakan masa lalu sbg pedoman hidup agar hidup lebih bijak. Itulah prinsip “Jangan pernah tinggalkan sejarah”

    ….> setuju. ibarat pepatah dalam ilmu silat: mundur satu langkah untuk maju ke-8 penjuru.

     
  6. Nin

    4 November 2008 at 14:32

    Kangen masa lalu ya?

    ….> ah, mbak nina bisa aja

     
  7. arifrahmanlubis

    4 November 2008 at 14:35

    berat puisinya pak.

    benar2 ngeh setelah baca komenūüôā

     
  8. meiy

    4 November 2008 at 16:50

    aku nikmati saja pak zul…puisinya berat nih

    ….> waduh kok banyak yg omong berat ya….

     
  9. imoe

    4 November 2008 at 18:51

    waduhhhhhh mantap bener pak….pak takana kampuang yo….

    ….> pak imoe. saya merasa kesulitan saat berkomentar di blog pak imoe mulai 2 tulisan terakhir. padahal sebelumnya lancar-lancar aja. mengapa ya? jadinya hingga kini blm bisa ninggalin jejak di blog pak imoe.

    o ya, saya ngeblog pakai opera mini handphone

     
  10. kajiankomunikasi

    4 November 2008 at 21:59

    Bukan sastrawan kalau tak resah. Justru sastrawan menjaga zaman dengan keresahan yang dibingkai keindahan agar sumber keresahan berkurang dan hari esok lalu menjadi lebih baik. Salam kenal.

    ….> betul. keresahan itu sumber inspirasi

     
  11. Daniel Mahendra

    6 November 2008 at 05:19

    Apa boleh buat, ini dunia, bukan surga…
    Selalu pepak dengan fragmen-fragmen muram
    tentang kemarau panjang tanpa ujung

    Apa boleh buat, kita ada di dalamnya…

    ….> betul mas daniel. tapi itu pun akibat ulah manusia juga

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: