RSS

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 2)

20 Okt

Goenawan mempersoalkan keterasingan diri Si Malin dari lingkungan. Lewat esainya, Goenawan mengungkapkan ketercerabutan Malin dari kultur yang sebelumnya diakrabi begitu ia melakukan migrasi kultural. Wawasan berpikir dan pendidikan adalah salah satu indikator, yang menyebabkan seseorang itu seakan durhaka dan menjadi Malin Kundang.

Di tangan Navis lain lagi. Secara ekstrem, Navis dalam cerpen “Malin Kundang Ibunya Durhaka” (bersinggungan dengan pernyataan Pak Imoe dan Uni Hemma ) seakan menggugat keberadaan seorang ibu. Dia mempertanyakan, apa benar sedemikian tega seorang ibu mengutuk anaknya sendiri. Navis malah menyalahkan sang ibu dan lebih pantas ibu itu yang dicap durhaka.

Demikian pula Wisran Hadi, yang secara menggelitik tidak setuju dengan sebutan durhaka terhadap Malin Kundang. Dalam naskah dramanya Wisran malah membela Malin Kundang dan menganggap wajar bila ia memarahi sang ibu. Persoalannya, si ibu telah kawin lagi dengan lelaki lain dan menggerogoti kekayaan Malin Kundang.

Bagi kritikus sastra Umar Junus, persoalan Malin Kundang lain lagi. Lewat telaahnya (1988: 58-9), dia memandang Malin Kundang dari dua sisi. Pertama, cerita Malin Kundang mengisyaratkan ketidakkenalan sang anak pada orang tuanya lantaran lama merantau. Karena itu, secara moral, seseorang tidak boleh terlalu lama merantau. Ia harus sering pulang , agar tidak lupa orang tua. Kelamaan merantaulah yang menyebabkan Malin Kundang tidak ingat pada ibunya dan dianggap durhaka, padahal ia tidak bermaksud demikian.

Kedua, cerita Malin Kundang berkaitan erat dengan pembuktian diri dari keserakahan memperebutkan harta. Malin Kundang yang lama merantau dan pulang dengan kekayaan melimpah, menarik perhatian semua ibu, yang secara kebetulan punya anak merantau sebagaimana Malin Kundang.

Mereka mengaku sebagai sang ibu.Karena itu, setiap ibu harus bias menunjukkan bukti bahwa ia benar-benar ibu Malin Kundang. Ketika tiba giliran ibu sebenarnya, ibu Malin Kundang menyatakan, Malin Kundang benar-benar anaknya dan ia beserta seluruh kekayaannya harus menjadi batu. Pembuktian diri itu memang fatal. Malin Kundang membatu dan sang ibu hanya bisa membanggakan diri, tanpa bisa mengecap kekayaan anaknya.
****

Ada beberapa karya sastra yang sangat serius dan dipenuhi beragam tanda. Mengungkapkan kembali lewat bedah kritik dibutuhkan keseriusan dalam menangkap makna yang muncul. Apresiasi bukan hanya dihalalkan, melainkan sesuatu yang dibutuhkan. Hasil apresiasi kemudian diuji, dipilah, dan kembali diuji untuk kemudian dapat ditangkap maknanya. Ketidakmengertian terhadap karya yang penuh tanda adalah sesuatu yang wajar. Namun seperti yang diungkapkan Raudha Thaib (Upita Agustine) di atas, bahwa puisi bukan untuk dimengerti melainkan dimaknai, dapat kita jadikan sandaran. Sudah tentu dalam memaknai ini tidak hanya sekadar mengungkap secara dangkal, melainkan perlu pengujian dan penerapan yang intens.

Bisa saja penelitian terhadap karya yang sama pada waktu berbeda menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula. Bisa juga suatu penilaian akan berbeda hasilnya bila dilakukan dengan penelitian, walau dilakukan terhadap karya yang sama. Dengan penelitian berarti kerja yang yang dilakukan bukan lagi mencari kelemahan, melainkan kekuatannya.

Bagaimana pun, penelitian tidak luput dari kelemahan. Terlalu sibuk mencari kekuatan karya sastra bisa menjadikan karya itu sebagai ‘dewa’. Oleh karenanya penelitian pun mesti ditempuh secara wajar dan apa adanya.

Di sisi lain, penelitian juga lebih menguntungkan. Menurut Umar Junus (1989:229), penilaian bisa menghasilkan sesuatu yang negatif, sedangkan penelitian justru lebih positif.

Dengan penelitian, secara tidak langsung sebenarnya sudah termaktub penilaian, walau mungkin tidak dinyatakan.

Di samping itu, peneilaian membutuhkan pembanding. Ketidaksetujuan para sastrawan terhadap kritik yang menilai adalah lantaran tiada pembanding. Karya sastra hanya diaduk-aduk dan tanpa kriteria pembanding yang jelas, lantas dihakimi.

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Oktober 2008 in Esai

 

Tag: ,

4 responses to “Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 2)

  1. marshmallow

    20 Oktober 2008 at 17:31

    wah, menarik, pak zul.
    saya penasaran, bagaimana asas yang digunakan dalam melakukan critical apraisal terhadap suatu karya sastra? samakah dengan studi kualitatif atau kuantitatif lainnya, atau sebut saja review terhadap suatu teori dan esai?
    seperti contoh cerita malin kundang, dalam menilai karya ini, sejauh mana penguji dapat mengelaborasi karya dari bentuk aslinya? (contohnya seperti menempatkan ide ibu malin yang rakus harta, kawin lagi dsb, padahal dalam karya asli sepertinya tidak disebutkan)

    …> wah, saya gak tahu pasti uni. yg jelas malin kundang itu dari minangkabau. ada hal-hal tersirat di balik yg tersurat. atau tanya pada pak ewa yg orang solok?

     
  2. imoe

    20 Oktober 2008 at 19:21

    Pak Zul, mantap bana mah….Kayaknya MALIN KUNDANG di buat oleh penulis yang benar-benar hebat, sehingga menimbulkan perdebatan. Hanya dia yang tau apa makna dibalik cerita itu. Memang benar-benar karya sastra luar biasa, kalau menimbulkan perdebatan ya/…….salut pak zul…

    …> ah, begitukah pak imoe? kalau saya melihat faktor ketersiratan di balik yg tertulis, di samping kreativitas yg dilahirkan sastrawan tersebut.

    masalah tersurat dan tersirat ini insya Allah akan ada postingan tersendiri melalui teori presence and absence.

     
  3. ladangkata

    21 Oktober 2008 at 09:10

    saya melihat..dalam kasus malin kundang bisa juga dilihat dari kaca mata etnografi…tempat dimana cerita berlangsung…jadinya bisa lebih obyektif…

    …> etnografi? bisa. mengapa tidak? nah, ada yg mau coba?

     
  4. Daniel Mahendra

    24 Oktober 2008 at 23:21

    Membaca lanjutan uraian ini, aku jadi teringat pada cerpen Ki Panji Kusmin “Langit Makin Mendung” yang dimuat oleh H.B. Jassin dalam ‘Sastra’ 1971, Mas Zul.

    Karena cerpen itu dianggap menghina Tuhan, Jassin diseret ke pengadilan, dan diminta mengungkapkan siapa di balik nama Ki Panji Kusmin. Karena Jassin menolak mengungkapkan, ia dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

    Ironis sekali ketika melihat bahwa menafsir karya sastra bisa berakibat positif maupun negatif jika tanpa amunisi yang memadai.

    …> ìya mas dm. mudah-mudahan penelitian bisa menjawab dan meluruskan penafsiran yg salah.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: