RSS

Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 1)

13 Okt

Kepada puisi jangan coba untuk mengerti, karena dia ditulis untuk dapat dimaknai (Raudha Thaib/Upita Agustine: Prolog Poeitika, 1994: vii)

Kritik sastra senantiasa berada di persimpangan. Meski dinanti para sastrawan, tetap saja eksistensinya dipertanyakan. Sastra (modern) Indonesia sebagai warisan yang datang dari Barat dan kemudian melakukan pergumulan dengan persoalan keindonesiaan, menjadi dilema yang tak kunjung usai saat dihadapkan pada dunia kritik.

Berbagai pertanyaan berbuntut panjang pada sebagaian sastrawan untuk tidak mempercayai dunia tersebut. Beberapa analisis kritikus ditanggapi dengan keheranan, lantaran berbeda dari apa yang diinginkan sastrawan.

Pantaskah karya sastra dinilai?

Dunia kritik sastra, terutama akademis, memang ketat dengan berbagai pendekatan dalam membedah karya sastra: struktural, semiotik, sosiologi sastra, intertekstual, resepsi sastra, dan sebagainya. Segala upaya itu tak pernah menghasilkan sesuatu yang memuaskan.

Penilaian terhadap karya sastra memang bukan sesuatu yang haram. Objektivitas penilaian tidak hanya didapat dari kesan sepintas, tetapi dengan pergumulan panjang, menangkap makna tersembunyi. Pada akhirnya dapat diketahui, apakah karya itu bagus, biasa-biasa saja, kurang bagus, atau malah jelek.

Namun tidak selamanya karya sastra mesti dinilai. Penilaian objektif kadang tidak selamanya dapat dipertanggungjawabkan. Subjektivitas senantiasa menggoda. Jalan pintas terbaik adalah penelitian.

Barangkali hasil penelitian pun tidak berbeda jauh dari penilaian. Namun ada perbedaan pada keduanya. Penelitian tidak selamanya berakhir dengan penilaian. Penelitian bersifat mengungkapkan kembali karya sastra yang dikaji. Dalam pengungkapan itu, selain berpengetahuan luas, peneliti haruslah memiliki banyak pengalaman, agar kajiannya mendalam.

Penelitian juga akan memperkaya pengalaman batin dan memungkinkan kemunculan nuansa baru. Contoh menarik adalah kasus Malin Kundang yang memunculkan penafsiran-penafsiran baru. Penafsiran itu bisa saja muncul dari kritikus sastra atau sastrawan lain. Malin Kundang yang selama ini dianggap sebagai anak durhaka, justru menjadi lain di tangan Goenawan Mohamad, AA Navis, Wisran Hadi, dan Oemar Junus.

Penafsiran terhadap Malin Kundang? Seperti apakah? Tunggu lanjutannya pada bagian ke-2

Iklan
 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Oktober 2008 in Esai

 

Tag: ,

19 responses to “Sastra: Antara Penilaian dan Penelitian (bagian 1)

  1. Syamsuddin Ideris

    13 Oktober 2008 at 14:16

    Yap, walau bukan orang sastra tapi saya akan terus menikmati karya sastra. Keep update Pak Zul pelajaran sastranya biar saya tambah ilmu lagi..trims
    **** pertamaxxx nih, baru 25 menit udah masuk*****

    ….> karya sastra kan bukan untuk orang sastra saja pak Syam. Tapi milik semua orang kan….
    selamat!

     
  2. imoe

    13 Oktober 2008 at 16:44

    penasaran lanjutannya apak ….cepat ya….

    …> sabar, semua pasti kebagian (eh, kok kayak bagi sembako ya…)

     
  3. edratna

    13 Oktober 2008 at 19:25

    Kompas hari ini juga mengulas hal itu, atas keprihatian Putu Wijaya.
    Sebagai orang awam, kadang saya tak bisa membedakan antara karya sastra dan non sastra…

    …> yg pasti karyanya bisa dinikmati kan bu? itu yg paling penting. untuk pemaknaan biarlah kerja peneliti atau kritikus sastra

     
  4. marshmallow

    13 Oktober 2008 at 21:36

    mungkin ternyata malin kundang itu adalah maling kandung, pak zul.
    hehe! (komen gak mutu)
    saya awam sekali dalam mengerti dan (mungkin) memaknai sastra.
    apakah memang sesulit itu, pak zul?
    tapi rasanya kalau menikmati puisi-puisi tulisan rekan-rekan blogger semisal pak zul, saya oke aja.

    …> maling kandung?

    tapi karya sastra kadang memang perlu dimaknai, tidak berdasarkan apa adanya. apalagi bagi orang minang yg penuh dg hal-hal simbolis.

    contoh kecil adalah cerita bundo kanduang yg hamil setelah minum air kelapa gading. air kelapa gading? ternyata ‘kelapa gading’ itu permainan kata, sebuah simbolisme dari kata ‘kepala daging’, dalam hal ini diartikan sbg (maaf) alat kelamin laki-laki. wah, dahsyat sekali pemaknaan itu kan uni?

     
  5. SQ

    13 Oktober 2008 at 22:12

    Ya pak. Meskipun dinilai bagaimanapun toh, karya sastra tetap saja enak dinikmati. Seperti Novel Andrea Hirata yang sukses dimamah jadi bentuk sinema. Kebanjiran penonton. 🙂

    …> dalam sebuah wawancara di sctv, andrea mengatakan kalau karyanya bukanlah karya sastra, melainkan catatan masa kecilnya yg dipersembahkan buat guru terbaiknya, bu muslimah. nah, bagaimana ini?

     
  6. cinker

    14 Oktober 2008 at 16:52

    Penafsiran yang lain bagai mana ya….!!! aku jadi penasaran

     
  7. Daniel Mahendra

    15 Oktober 2008 at 08:03

    Dulu betapa tekunnya H.B. Jassin memposisikan diri untuk merespon karya-karya sastra yang berseliweran di Indonesia. Namun demikian tak semua mesti setuju dengan penilaian H.B. Jassin tersebut. Meski hampir semua kalangan akur: ia memang kritikus sastra yang jempolan (terkadang aku rindu sosok-sosok seperti itu saat ini).

    Menafsir karya sastra memang tidak seperti melahap teori-teori eksak. Ranah sastra mengandung multi tafsir. Adalah wajar jika terjadi perbedaan persepsi secara subyektif. Tapi bukankah di situlah gunanya ilmu pengetahuan.

    -Mantap dibuat berseri begini, Mas Zul. Ditunggu selanjutnya ya-

    …> benar sekali mas daniel. penafsiran yang berbeda semestinya menjadikan pemahaman karya lebih kaya/variatif.

    kira-kira ada nggak ya pengganti Jassin yg begitu tekunnya menggawani kesusastraan Indonesia? apalagi dg media yg lebih beragam, kayaknya sulit mencari sosok spt beliau.

     
  8. Yari NK

    15 Oktober 2008 at 10:09

    Menurut saya sastra pantas saja dinilai, tetapi jangan terlalu berdasarkan pada standard-standard tertentu apalagi dihubung2kan dengan metode2 kuantitatif.

    Karena selera individu berbeda, tentu kita tidak bisa menyalahkan individu ataupun karya sastra tersebut. Menurut saya, yang paling baik dan netral (walaupun belum tentu tepat) adalah penilaian secara kolektif dari suatu masyarakat tentang hasil seni sastra tersebut…….

    …> penelitian kolektif? resepsi sastra?

     
  9. marshmallow

    15 Oktober 2008 at 12:37

    wah, benar, pak zul.
    ternyata pemaknaan bisa dahsyat.
    tapi seperti yang saya bilang, dengan demikian tak semua orang bisa memaknainya, sehingga menikmati sastra dengan pemaknaan yang keliru bisa berbahaya juga.
    tapi gak ada short cut untuk bisa (sekadar bisa saja dulu) memaknai sastra dengan baik selain latihan menurut saya.
    dan latihan di sini menuntut banyak membaca.
    gimana menurut pak zul?

    …> tuh uni sdh dpt jawabannya. apa yg uni katakan tepat sekali. cerpen uni bagus-bagus, hasil latihan yg panjang kan?

     
  10. putirenobaiak

    15 Oktober 2008 at 17:03

    pak zul biarpun telat, maafkan daku yah, baru sempat BW, pulang dr cuti ditunggu kerjaan segunung hehe 🙂

    ada yg lucu krn buru2 komenn yg ini ke send di tmpt tmn lain.
    ondeh mandeh, oon ku kambuh 😀

    …> iya meiy, lama sy nunggu kabar beritanya. lama menghilang. lagi cuti?

    tapi Alhamdulillah alah mancogok. semoga lebih fresh.

     
  11. Catra

    15 Oktober 2008 at 17:42

    terkadang penilaian orang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud penulis.
    tapi saya setuju jika karya sastra di-appresiasi pak

    …> apa pun hasilnya, saya setuju sutan. karya sastra hrs mendapat apresiasi

     
  12. v3rdee

    15 Oktober 2008 at 19:50

    waduh ini baru penulis… salam kenal

    …> salam juga. ok, segera meluncur, BW

     
  13. qizink

    16 Oktober 2008 at 08:53

    saya sepakat, bahwa karya sastra akan memberikan banyak tafsir di penikmatnya. Puisi ‘AKU’ Chair Anwar misalnya, ada yang emnafsirkan sebagai pemberontakan terhadap kondisi tanah air, dan ada pula yang menafsirkannya sebagai bentuk kekecawaan terhadap bapaknya.
    Dan yang mengetahui pasti tentang makna karya sastra tentu saja penulisnya. Sedangkan pembaca hanya menikmati dan memaknai dengan tafsirnya sendiri-sendiri berdasarkan pengalaman, wawasan, dsb.
    Tapi dengan sebanyaknya tafsir itulah yang semakin memberi warna terhadap apresiasi karya sastra.

    …> yap. benar banget…

     
  14. Daniel Mahendra

    17 Oktober 2008 at 01:56

    Dan aku menunggu posting selanjutnya dari seri tulisan ini, Mas Zul…

    …> iya. sabar…

     
  15. ladangkata

    17 Oktober 2008 at 13:53

    dulu waktu kuliah, ada metode yang disebut dengan cultural study sebagai salah satu alat untuk menelaah secara kualitatif hal-hal seperti sastra.

    apakah penelitian yang dimaksud sama dengan itu pak?

    penasaran neeeh…

     
  16. okta sihotang

    17 Oktober 2008 at 17:05

    sah2 aja tuh karya sastra di nilai 😉

     
  17. zoel chaniago

    18 Oktober 2008 at 10:27

    saya kurang mengerti masalah sastra

     
  18. ILYAS ASIA

    19 Oktober 2008 at 15:27

    siapa yang menilai
    dan siapa yang meneliti

    bagaimana kedua hal itu dilakukan

    butuh waktu berapa lama

    dimana dilaksanakan dua hal tadi?

    saya pecinta sastra (karya Pram)

     
  19. sutimbang

    2 Desember 2008 at 00:11

    antara penelitian dan penilaian?

    saya rasa ini adalah lingkupan yang berbeda. Pembaca bisa saja menilai struktur suatu karya sastra hanya melalui teks saja tanpa memandang unsur linguistik.

    walaupun bapak mengatakan pemaknaan hanyalah kerja peneliti ataupun kritikus sastra, tapi pembaca sangat berpengaruh besar terhadap penilaian suatu karya sastra.

    penilaian pembaca memang terkadang mengawang-awang, oleh sebab itu diperlukan suatu penelitian yanjg menerangkan konsep-konsep dan teori-teori.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: