RSS

Libur nan Sepi

03 Okt

Lebaran sudah tiba. Itu artinya liburan juga membayang di depan mata. Pada saat sebelum, ketika, dan sesudah lebaran, liburan bagi saya tetap hari-hari membosankan.

Barangkali banyak yg senang dg hari libur. Tapi bagi saya, libur lama hanya bikin hati sepi. Saya senang kerja. Libur sehari atau 2 hari dalam seminggu cukuplah sudah.

Makanya, bila musim libur tiba saya sering bingung sendiri. Mau ngapain ya? Bermain-main dg anak istri lama-lama ya kepengen variasi yg lain. Mau pergi sendiri, nggak tega. Mau ngajak anak, kayaknya masih kecil, baru 4 bulan. Jadilah di rumah, ngobrol dg tetangga, menunggu senja. Ah, hari-hari membosankan.

Lalu mau apa? Ngeblog? Inspirasi sering pergi bila sepi dari kegiatan. Jadi? Mumet juga.

Nonton cd/dvd? Bosan. Paling tahan 2 film. Mau tidur? Mau makan?

Dalam masyarakat modern, rasa sepi & bosan seringkali menyergap individunya manakala kebiasaan-kebiasaan menjadi kewajiban. Bìla hal itu tidak dilaksanakan, yg muncul adalah rasa sepi, bosan, & adanya sesuatu yg hilang. Lalu?
***

Semilir angin masih ada. Berembus di sela ventilasi. Angin kemarau. Kering dan panas.

Di Utara, Laut Jawa, mendung. Tapi seperti kemarin, juga kemarin-kemarinnya, tak ada hujan yg curah.

Diterawangkan pandangannya lebih jauh. Di Utara pantai pulau
Jawa, sebuah perkampungan nelayan Batang. Ia membayangkan seorang anak kecil terlahir. Anak yg bermain-main dg anak-anak pantai lainnya tahun 1940-an. Anak yg cerdas, punya pikiran liar, gak mau kalah dengan sang kakak, hobi membaca yg luar biasa. Dialah Goenawan Mohamad.

Lelaki itu tercenung. Di Utara pantai pulau Jawa, di perkampungan nelayan Batang, di wilayah tempat bermain sastrawan dan wartawan Goenawan waktu kecilnya, ia terhenyak. Adakah bekas waktu mengembalikan seseorang menikmati sensasi hidup seseorang?

Lelaki itu kemudian menaiki motornya. Diarahkan motornya itu menuju Pekalongan. Dilewatinya daerah Poncol, lapangan Sorogenen, dan singgah di Jalan Bandung kota Pekalongan. Di sini pun lelaki itu terbayang seorang lelaki seperti halnya Goenawan Mohamad. Muda, pintar, dan suka membaca. Dialah Taufik Ismail.

Lelaki itu beberapa kali ketemu Taufik. Tapi tentu saja pertemuannya bukan dg Taufik muda lagi. Terakhir ia saksikan lelehan air mata sang penyair saat membaca puisi kisah ‘Seorang Tukang Rambutan kepada Istrinya’ di SMA 1 Pekalongan.
***

Lelaki itu kemudian tersadar. Ia ingat banyak hal yg mestinya bisa dikerjakannya.

Lelaki itu,… saya.

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2008 in Diari

 

Tag: , ,

13 responses to “Libur nan Sepi

  1. Daniel Mahendra

    3 Oktober 2008 at 18:15

    Aha! Rupanya di sini kesamaan kita. Libur lama hanya bikin hati sepi. Aku rindu keadaan cepat kembali normal.

    Tapi bedanya, atmosfir sepi justru membuatku produktif menulis.

     
  2. Myryani

    3 Oktober 2008 at 22:50

    kerumah saya aja biar rame…
    huehue

     
  3. potter

    3 Oktober 2008 at 23:03

    lebaran emang enggak mudik pak Zul???

    hujan emang ga pernah turun yach, yg ada justru panas yg menyengat, tp itu jg Anugrah Tuhan, mudah2an kita bisa menikmatinya

     
  4. marshmallow

    4 Oktober 2008 at 18:15

    nah, nah, pak zul.
    duduklah di depan komputer, pikirkan sesuatu, kemudian tuliskan.
    tuh, merenung singkat aja jadi tulisan bagus gitu kok.
    atau datang deh ke acara ngumpul-ngumpul lebaran kampung blagu, supaya gak merasa kesepian lagi.
    udah ditunggu yang lain loh di sana!

    psst… pak zul hebat loh bisa bikin seorang taufik ismail terharu saat membacakan puisinya di acara sma. salut!

    …> bukan uni. bukan saya yg baca puisi taufik, tapi taufik sendiri.

     
  5. Rindu

    4 Oktober 2008 at 22:13

    Kenapa gak main kerumah saya aja mas … ada ketupat dan opor ayam dan ada saya tentunya🙂

     
  6. ariefdj™

    5 Oktober 2008 at 11:55

    Ya, ada sesuatu yang hilang saat liburan..

     
  7. imoe

    5 Oktober 2008 at 19:31

    hahahaha jangan bingung pak zul…dengar musik aja….MINANG MAIMBAU hahahahaha

     
  8. yulism

    7 Oktober 2008 at 03:41

    Bagaimana dengan saya Mas, tiap hari libur selama setahun. Bisa bayangin nga? stress nya saya.. 🙂 thanks

     
  9. edratna

    7 Oktober 2008 at 10:23

    Saya ternyata bisa menyenangi segala situasi…kesibukan yang menantang, bekerja sampai tengah malam, bahkan tidur di kantor. Hari libur panjangpun tak ada masalah, dari beres-beres rumah, membaca, menjahit, mengganti tanaman, dan bergurau bersama keluarga….hdup menyenangkan dan saya bersyukur atas karunia itu.

     
  10. fisha17

    7 Oktober 2008 at 13:13

    yah.. bagi orang2 yang kreatif (seperti aku salah satunya.. hahahaha najis), emang bengong di rumah bisa membunuh kratifitas. Kerjaannya kebanyakan tidur dan nonton TV. Bosenan juga. Kalo dah gitu, langsung ae nongkrong di luar. Yah sekedar nongkrong ajah di warteg walau seringkali sendiri, siap tau ada “inspirasi”.

     
  11. gajahkurus

    8 Oktober 2008 at 16:13

    Libur tiba, nggak ada aktifitas di siang hari saya gunakan untuk tidur. Soalnya di hari2 kerja mana mungkin bisa nyempetin tidur siang hehe

     
  12. Oemar Bakrie

    9 Oktober 2008 at 23:08

    Lho bukannya penyair suka dapat inspirasi saat sepi? … mudah-mudahan ide-ide kembali mengalir dengan kembali beraktivitas setelah liburan Pak. Maaf lahir-batin (meski terlambat) …

     
  13. kusdiyono

    13 Oktober 2008 at 08:52

    Muter-muter kota Pekalongan aja, alun-alun kalo perlu sampai ke Sragi..Mas

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: