RSS

Lebaran Seorang Guru Bantu

28 Sep

maafkan anakmu tercinta

lebaran ini tak pulang sujud di pangkuan bunda

kepala serasa pecah, tarif angkutan melambungnya luar biasa

sementara honor tidak berubah

segala harapan dan doa

telah memenuhi semesta raya

tapi tetap saja, kehidupan di sini tak pernah berubah

walau telah enam puluh tahun lebih kita merdeka

maafkan anakmu bunda

lantunan takbir idul fitri tak mampu menggema

di antara tenggorokan kering kemarau melanda

lafadz doa dan senyum menghampa

wajah-wajah suci tak lagi mampu tercipta

teror bom dan kecelakaan jalan raya seolah berita biasa

yang tak pernah habis-habisnya

dan hari ini anakmu tercinta

hanya bisa pasrah di depan sekolah

jadi guru bantu

dengan honor yang tak melebihi gaji tukang batu

tetangga rumah yang ada di kampung kita

Puisi di atas saya tulis 3 tahun lalu, saat masih menjadi guru bantu. Semoga yang menjadi guru bantu benar-benar sudah berubah nasibnya, tak lagi ‘menangis’ saat lebaran tiba.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 28 September 2008 in Puisi

 

Tag:

14 responses to “Lebaran Seorang Guru Bantu

  1. sawali tuhusetya

    28 September 2008 at 00:43

    wah, memang kita perlu berempati kepada rekan2 sejawat yang hingga kini belum jelas nasibnya. syukur alhamdulillah, masa2 semacam itu sudah pak zul lewati. selamat menyambut hari kemenangan pada hari yang fitri, pak, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah berkenan mengembalikan kita pada fitrah-Nya, amiin. btw, kok di atas postingan banyak kode2 html dan css yang sulit saya pahami, pak, hehehe … salam buat keluarga. mudik ke padang, nggak, pak?

     
  2. yudhi14

    28 September 2008 at 07:19

    selamat menyambut hari yang fitri
    mari perjuang kan nasib guru
    semangat
    ayo

     
  3. marshmallow

    28 September 2008 at 07:56

    padiah puisinyo, pak zul.

    mudah-mudahan lebaran kali ini, tiga tahun setelah puisi itu dirawi, tak ada lagi tangis yang mencekat tenggorokan, tak ada lagi kemarau yang mengeringkan, dan sang bunda pun ikut berbahagia menanti kepulangan ananda tercinta.

    mohon maaf lahir batin, pak zul.
    salam ambo buek uni dan paja nan tampan.

     
  4. mantan kyai

    29 September 2008 at 07:08

    tukang batu bisa menuliskan puisi yang sama… bahkan lebih perih.
    selamat idul fitri dan berbahagia pakūüėÄ

     
  5. Nin

    29 September 2008 at 13:10

    Sekarang sudah bukan guru bantu kan…
    Berarti bisa pulang ya…
    Hati-hati di jalan…
    Mohon maaf lahir dan bathin…

     
  6. Rindu

    29 September 2008 at 18:16

    Teringat ibu guru muslimah di film laskar pelangi … ah ingin seperti beliauūüôā

     
  7. Rafki RS

    29 September 2008 at 20:28

    Mudah-mudahan dengan naiknya anggaran pendidikan, kejadian-kejadian memilukan yang menimpa para guru di masa lalu tidak terjadi lagi di masa depan. Minal Aidin Wal Faizin, Pak. Salam urang awak dari rantau.ūüėÄ

     
  8. imoe

    29 September 2008 at 21:12

    ahhhh sekali guru tetap guru pak…ngak boleh ada embel-embel guru bantu, guru honor, guru bla bla bala….tetap GURU

     
  9. cinker

    30 September 2008 at 01:21

    wah semoga tahun depan bisa pulang ya….! tak doakan

     
  10. wennyaulia

    30 September 2008 at 02:58

    yang penting tetep selalu kontak dengan bundaūüėÄ

     
  11. tren di bandung

    30 September 2008 at 11:42

    guru adalah semangat berkhidmat, atas puncak kemuliaan yang berkilauan. ketika kemilau itu pupus oleh kesementaraan, maka semua menjadi rebutan disempitnya kehidupan. kembali luas bentangkan dan tinggikan menara kesempurnaan itu…
    maka ramadhan ini saya tidak akan mengatakan

    MENYAMBUT KEMENANGAN…

    tapi saya hanya ucapkan semoga amal ibadah kita tetap diterima ALLAH SWT. maaf kalau saya bernada pesimis, kita tidak layak menyambut akhir Ramadhan ini dengan menyambut kemenangan.
    kata-kata itu sungguh sudah melenakan kita dari kondisi sesungguhnya…
    mudah2an ini Ramadhan terakhir kita menderita kekalahan

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/26/menyambut-kekalahan-0-3/

     
  12. langitjiwa

    30 September 2008 at 22:21

    MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

    SALAMKU,
    LANGITJIWA

     
  13. suhadinet

    2 Oktober 2008 at 09:24

    Dan hingga hari ini, lebaran ini, masih banyak guru-guru yang bergaji sangat minim…

     
  14. Daniel Mahendra

    3 Oktober 2008 at 18:13

    Wajah nyata bangsa Indonesia!
    Dipotret dengan sangat realis dan jujur.
    Mau bagaimana? Ini kita!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: