RSS

TRAGEDI TENGAH RAMADAN (catatan pasuruan)

16 Sep

khusukku terbentur derak
ketika jarum jam memecah kesahduan ramadan
berita itu berulang dalam derai air mata
dua satu nyawa melayang di antara nestapa

tragedi nyata
dalam kecamuk harga-harga
siapakah yang mau nyawa menjadi sesuatu
yang pelik dan sia-sia?

negeri kaya nan papa
betapa kemiskinan menjadi data dan agenda
yang tak mampu jadi berita gembira

jadi begitulah
para penguasa berbuka puasa di karpet mewah
para wakil rakyat bermain angka rupiah
menenteng uang pulang ke rumah
ketemu pijatan istri muda

Iklan
 
9 Komentar

Ditulis oleh pada 16 September 2008 in Puisi

 

Tag: ,

9 responses to “TRAGEDI TENGAH RAMADAN (catatan pasuruan)

  1. Daniel Mahendra

    17 September 2008 at 08:56

    Catatannya menohok!
    Menghujam telak pada sasaran!

     
  2. SQ

    17 September 2008 at 09:16

    Pertanyaannya sekarang, sampai kapan negara “kaya nan papa” tersebut bisa bertahan?

    Mampukah bangkit dari keterpurukan, atau tergilas dan menghilang ditelan waktu.

     
  3. cinker

    17 September 2008 at 15:51

    itulah nasib bangsa ini, bagai mana ya cara mau bangkit kalo seperti itu………..!

     
  4. suhadinet

    18 September 2008 at 03:37

    Ironi yang sangat nyata ada..
Akankah mereka terus pura-pura buta?
Dan bertuli telinga?

     
  5. Catra

    18 September 2008 at 08:26

    kenapa orang sudah tidak percaya lagi dengan badan zakat? ada apa dengan badan zakat?

     
  6. artja

    18 September 2008 at 11:17

    kit anggak boleh putus asa. kesejahteraan bersama harus terus kita perjuangkan. kalau nggak mampu dengan kekuatan, bisa dengan lisan (dan tulisan) seperti pak zul ini, kalau tidak bisa juga, maka kita masih bisa berdoa agar keadaan berubah

     
  7. putirenobaiak

    18 September 2008 at 15:13

    walo ttp optimis kek artja,
    tp ini bener2 bikin sedih ya pak zul. harusnya kita malu, msh byk sdr yg miskin,
    sebel bgt ngeliat wakil rakyatnya kayaraya gak tau diri

     
  8. marshmallow

    19 September 2008 at 15:32

    inilah kenyataan negeri kita yang kaya-raya ini.
    mudah-mudahan segera berubah.
    pak zul, menyentuh sekali puisinya.

     
  9. potter

    20 September 2008 at 22:04

    Demi uang Rp. 30 ribu, harus rela melepas nyawa.
    sementara para wakil rakyat yang telah mereka pilih lg senang2nya berkorupsi ria.

    masihkah kita melihat bahwa tanah kita adalah tanah surga,
    yach mungkin surganya hanya bagi para penguasa negeri ini saja.
    semuanya serba mahal, warnet juga,

    TuRunkAn HaRga W@rnet, jd 1000/jam !!!
    loh…*ga’ nyambung*

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: