RSS

Di Batas Ambang Pencarian

08 Sep

Tentang Maut

mungkin kita tak harus bicara tentang maut
atau merenggutnya dari kaca
tapi mengapa selalu saja kau berdalih
akan sesuatu yang tiada?

dan seandainya langit tetap terang
tanpa awan, angin, dan bintang
tentulah hadir bulan di kaca rias itu
tempat kita bercermin
dan bertanya kejujuran

tapi begitulah
segenggam janji diikat di pelabuhan sua
tempat kita membual
dan mendustai diri sendiri

:padahal maut bicara apa adanya!

Labirin (1)

jelanglah kerinduan dalam pesona
yang dibisikkan angin
karena di kota ini
malam telah menyembunyikan surga
di tabir cuaca

apabila kumati esok hari
tak perlu ada tangis mengiris
karena makam sudut rumah
telah membisikkan kita
akan tidur yang panjang

maka bergegaslah
ambil sajadah di lipatan sejarah

Labirin (2)

kalau kau inginkan mawar itu mekar
sucikanlah di udara sejarah
karena beku selama ini
telah jadikan malam hantui kita

teriak merdeka kembali menggema
saat gelisah membenturkan diri di tembok prihatin
kota-kota berubah, dunia tanpa agenda
cahaya kian redup tanpa kerlip lilin

revolusi menjadikan dusun-dusun berubah kota
reformasi melandaskan penguasa dan pengusaha baru
penyair yang menulis puisi hari ini
terpinggirkan sepanjang jalan demonstrasi

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 8 September 2008 in Puisi

 

Tag:

15 responses to “Di Batas Ambang Pencarian

  1. Catra

    8 September 2008 at 18:09

    saya sangat takut maut pak……..ūüė¶

    …> tapi gak bisa ditolak kalau sdh datang kan sutan?

     
  2. Ersis Warmansyah Abbas

    8 September 2008 at 23:18

    Wuaw .. jago puisi nich ye. Salam.

    …> ya biasalah pak. nyalurin hobi

     
  3. Royyan

    9 September 2008 at 02:58

    berkaca diri mencari kejujuran akan perbuatan yg telah dilakukan, suatu ajakan simpatik pak, meski kaca pun sering ngapusi. tapi membohongi maut yg datang menjenguk, tentu susah dihindari (puisi 1).

    kejujuran pada bangsa ini parah ya pak… korupsi merajalela, penipuan menjadi-jadi, termasuk hal yg disembunyiin dlm sejarah bangsa. supersemar aja contohnya masih misteri.
    labirin, judul tepat pak, menggambarkan semrawut dan ketidakpastian bangsa ini (puisi 2 dan 3).

    tiga puisi mempertanyakan kejujuran diri. nice…

    …> wah analisis yg tajam mas. trims

     
  4. Nin

    9 September 2008 at 04:06

    Maut… meski kita enggan mengupasnya…
    Ia akan tetap datang…

    …> benar sekali. datang tanpa ketuk pintu atau jendela

     
  5. suhadinet

    9 September 2008 at 08:19

    Kematian.
    Ngeri rasanya bila membayangkannya. Saya belum siap untuk itu.

    ….> sama pak. tapi yang pasti kita tak bisa menolaknya

     
  6. artja

    9 September 2008 at 08:34

    dahsyat. saya sampe merinding bacanya. saya sudah lama ingin bisa menulis puisi seperti ini, pak Zul.

    ….> aduh, tambah gede nih kepala….
    yang dahsyat itu kalau maut datang menjemput. dan itu saat kita tak punya persiapan apa-apa. setuju….

     
  7. unai

    9 September 2008 at 13:03

    so touchy, Pak…suka saya bacanya..

    …> trims bu…

     
  8. yellashakti

    9 September 2008 at 22:17

    fotonya bagus Pak, boleh ngopi gak?:mrgreen:
    puisinya bikin adem

    ….> tentu saja boleh mbak. silakan.

     
  9. SQ

    10 September 2008 at 06:28

    Ya. Maut bicara apa adanya. Tak peduli apapun yang ia hadapi. Tak berdusta dan bermain-main. Cukup melakukan dan selesai. Jangan2, maut lebih jujur dari kebanyakan manusia.

    …> ah, bisa aja pak…

     
  10. dino

    10 September 2008 at 08:47

    setidaknya ketenangan itu dapat kurasakan
    walau hanya sesaat
    dikala hatiku begitu takut
    untuk mengenal kematian

    sambunganya dari saya, matur nuhun

    …> terima kasih. semoga yang lain tercerahkan.

     
  11. pengendara

    10 September 2008 at 10:34

    bagaimana rasanya berada di batas ambang pencarian ?

    akankah kita temui pancarian itu ?

    apa yang akan terjadi setelah itu ?

    …> lha bagaimana? ketemu nggak jawabannya?

     
  12. marshmallow

    10 September 2008 at 11:15

    ya, manusia seringkali mengingkari mati ya, pak zul?
    padahal mati adalah niscaya bagi semua yang hidup.
    puisinya bagus sekali.
    maknanya dalam dan menggugah.
    terima kasih sudah berbagi.

    ….> terima kasih uni. ini untuk pencerahan aja….

     
  13. Daniel Mahendra

    11 September 2008 at 02:56

    Dunia bukanlah pasas malam…

    Di pasar malam kita datang berbondong-bondong, beramai-ramai. Begitu pun pulangnya.

    Di dunita kita datang sendiri-sendiri, seorang diri. Begitu pun pulangnya.

    …> meski banyak yang menyambut dan mengantar ya….

     
  14. marshmallow

    11 September 2008 at 21:05

    @daniel mahendra:
    gimana dengan orang yang lahir bersama empat saudara kembar lainnya, trus meninggalnya saat kecelakaan pesawat?

    eh, bukan itu ya maksud bung DM datang sendiri dan pulang sendiri?
    apa sama dengan datang tak dijemput pulang tak diantar?
    hihihi…
    *hilang fokus*
    *limbung*
    *pegangan*

    (pak zul, sori OOT)

     
  15. Afra Afifah

    21 September 2008 at 04:40

    wow..rangkaian kata2 dalam puisi bapak “tingkat tinggi” jg yah..hehe..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: