RSS

WARISAN

23 Agu

lewat taburan musim-musim lampau kita catat kembali kenangan
lalu kita susun tanya dengan kepala tengadah
:siapa pewaris sah negeri ini?

padahal (kita tahu) detak jam telah lama berganti
menghitung ruang dan waktu di batas mimpi
:kemana kita sembunyikan corengan wajah?

lonceng jam selalu bertanya tentang angka
yang tak sekali pun berubah
:mengapa kita bangun rumah ibadah
dan kemudian kembali merubuhkannya?

dengung quran kian samar, tanpa kita bisa
berbuat apa-apa
“mengapa?” tanyamu sepi

kita agungkan sriwijaya, majapahit, mataram
tuangku imam bonjol, diponegoro, patimura
budi utomo, syahrir, sukarno, dan hatta
tanpa kita sadar, mereka telah menjadi tumbal bagi hidup kita
:mengapa kita hanya bisa ikut, tanpa berhak menentukan?

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Agustus 2008 in Puisi

 

Tag: ,

8 responses to “WARISAN

  1. marshmallow

    23 Agustus 2008 at 19:30

    saya yang gak ngerti puisi aja trenyuh bacanya.
    apalagi bagian pahlawan yang jadi tumbal.
    semoga pengorbanan mereka gak sia-sia ya, pak?

    …> semoga ya uni. kesadaran dalam hidup berbangsa harus tetap tertanam di hati dan diaplikasikan dlm tindakan

     
  2. suhadinet

    24 Agustus 2008 at 08:01

    Yang kami, anak-anak bangsa, warisi hanyalah episode-episode cerita tentang kebesaran bangsa ini di masa lampau.

    …> bgm pun tetap Alhamdulillah pak. tidak ikut “ngadu” nyawa melawan penjajah.

     
  3. Zul ...

    24 Agustus 2008 at 17:37

    Puisi prismatismu boleh juga!
    Kumpulan aja, Bang!
    Ntar dibukukan.
    Biar anak keturunan kita bisa menikmati keindahan dan rekaman kehidupan yang terdapat di dalamnya.

    Tabik!

    …> mau mendonaturi?

     
  4. zoel chaniago

    24 Agustus 2008 at 21:17

    masih aja terpesona ama warisan ūüėÄ

    …> mau tidak mau, sejarah…

     
  5. Rafki RS

    24 Agustus 2008 at 21:35

    Saatnya berbuat dan ikut serta dalam setiap detak dan langkah pembangunan di negeri ini.

    …> setuju pak…

     
  6. Sawali Tuhusetya

    25 Agustus 2008 at 02:39

    lirik historis yang bagus banget, pak, mengingatkan kita kepada para pendahulu negeri yang telah menumpahkan darahnya utk “tumbal” ibu pertiwi. sayangnya, makin lama negeri ini makin melupakan semangat para pendahulu negeri akibat makin banyaknya “petualang” yang mencari kesempatan.

    …> iya pak. petualang yg sungguh mencengangkan lagi mengerikan

     
  7. putirenobaiak

    27 Agustus 2008 at 09:54

    kita berhak menentukan, walau merangkak
    puisi yg dalam pak zul, selalu keren ūüėČ

    mari hapus corengan wajah, walau susah nyari cairannya hehe, kidding pak ūüėÄ

    …> terima kasih meiy. catatan kecil di hari ultah kemerdekaan

     
  8. fahrizalmochrin

    30 Agustus 2008 at 05:56

    iya menjaga warisan itu susah yah..ampe sikut dan sikat sesama anak bangsa

    …> iya pak. kira-kira solusi terbaiknya bagaimana ya….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: