RSS

Daun-daun Tebu Kembali Menderai

10 Jul

daun-daun tebu kembali menderai
di siang lengang di tengah ladang
sejuta cahaya resah menikam

daun-daun tebu kembali menderai
di siang yang muram oleh risau
kau tiupkan nafas kering
dan suara serak yang mengasingkan dengar
ke benua jauh

di antara daun-daun tebu yang menderai
kutahu
sepi itu sepi kita
dari dulu

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2008 in Puisi

 

Tag: ,

15 responses to “Daun-daun Tebu Kembali Menderai

  1. reza

    10 Juli 2008 at 09:42

    Assalamu’alaikum da…

    yo mantap sajak nan babuek..

    bolehkan linknya saya buat diblog saya da?

    …> Waalaikum salam…
    mau ngelink? silakan dengan senang hati…

     
  2. artja

    10 Juli 2008 at 11:00

    tapi bukankah diantara daun-daun tebu
    yang menderai, terbawa selalu mimpi manis
    yang mengalir deras tak pernah kering.
    maka sepi tak semestinya tumbuh
    diantara daun-daun tebu menderai

     
  3. Musafak

    10 Juli 2008 at 12:16

    Salam kenal…

     
  4. realylife

    10 Juli 2008 at 17:20

    semoga sepi ini tak selamanya , seperti daun tebu yang kembali segar

     
  5. Faradina

    10 Juli 2008 at 18:19

    Terasa banget ada kesunyian dalam puisi ini. Mungkin mirip suasana senja di gunung. Koq pak Zul senang menggambarkan kesunyian ya.

     
  6. ubadbmarko

    10 Juli 2008 at 18:44

    ada hubungannya dengan ratutebu ga ?

     
  7. jiwakelana

    11 Juli 2008 at 12:19

    akh pak guru neh.., suka kalilah nyepi-nyepi di kebun tebu. hati-hati pak…, heheheheeeee

     
  8. ridu

    12 Juli 2008 at 02:07

    wew.. di kebun tebu menyepi?? hoho..

    ooh.. ridu ngerti.. tebu kan manis.. jadi sepi atas kenangan manis gitu yah?? hihii.. ngasal

     
  9. kishandono

    12 Juli 2008 at 06:18

    daun tebu yang mulai layu tanda batangnya siap dipanen.

     
  10. Catra

    12 Juli 2008 at 20:55

    pak zul lagi puitis banget akhir2 ini

     
  11. cinker

    13 Juli 2008 at 00:27

    wah bagus tuch….kalo di kumpulin semua sudah bisa di bukukan tuch……..

    …> boleh juga. mau jadi atau cariin sponsor?

     
  12. oRiDo™

    13 Juli 2008 at 14:57

    gambar header nya diambil dari mana bang?
    kok kayak di sungaipuar..🙂

     
  13. l5155st

    13 Juli 2008 at 16:27

    Assalamu’alaikum pak Zul…

     
  14. yellashakti

    14 Juli 2008 at 20:31

    membayangkan puisi di atas saya seperti dibawa jauh ke pedalaman desa yang asri dengan masyarakat yang masih ramah, hidup bergotong royong, tak perlu mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan
    rasanya saya ketemu oase yang menyegarkan mata dan tenggorokan yang terasa kering oleh debu kehidupan🙂

    …> he he
    setiap kali berangkat kerja, saya melewati daerah yang di kiri kanannya hanya ada tanaman tebu. saat siang terik dan angin bertiup, bunyinya begitu khas. bunyi-bunyi yang seolah datang dari jauh. sepi sekali

     
  15. suhadinet

    15 Juli 2008 at 17:17

    Nambahin jiwakelana: awas, hati-hati pak zul, di kebun tebu biasanya banyak tawon. He.he.he..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: