RSS

edi irawan

25 Jun

Namanya Edi Irawan.

Tidak ada ciri khas secara fisik padanya. Ia tidak beda jauh dg anak desa kebanyakan. Siswa kelas 9 SMP. Tidak terlalu pintar, tapi yg pasti bukan tipe siswa yg terbelakang.

Tapi sesungguhnya ada yg luar biasa padanya. Ada sesuatu yg menyebabkan saya ingin menulis tentang ia.

Pengumuman UN SMP sudah dilakukan 21 Juni lalu, dan Edi termasuk jajaran siswa yg tidak lulus.

Saya wali kelasnya. Saya berduka.

Kedukaan itu terlebih dirasakan Edi tentunya saat menerima amplop yg berisi pengumuman kelulusan tersebut.

Awal semester 1 lalu, Edi sempat tak masuk 3 minggu. Ketika kunjungan rumah, orang tuanya mengatakan Edi keluar alias tidak melanjutkan lagi.

Namun suatu ketika, saya bertemu dengannya di jalan raya. Laju kendaraan saya hentikan, dan saya pun mengajaknya ngobrol.

“Saya ingin kembali ke sekolah, Pak,”ujarnya.

“Kata orang tuamu, kamu sudah keluar. Lha kok ingin kembali?”tanya saya.

Dari mulutnya keluar pengakuan. Ia tidak masuk sekolah karena dilarang orang tuanya. Bagi orang tuanya, membantu cari nafkah lebih berarti daripada sekolah. Tiga minggu tidak masuk sekolah, Edi berusaha meyakinkan orang tuanya akan pentingnya arti pendidikan. Usaha Edi meyakinkan ortunya berhasil.

Saya lalu menasihatinya. Edi berjanji akan belajar sungguh-sungguh. Saya suruh agar besoknya berangkat.

Esoknya saya melobi kepala sekolah dan guru-guru. Semua respek. Alhamdulillah.

Edi pun bisa belajar seperti biasanya.

Namun 21 Juni ketika pengumuman hasil UN dilaksanakan, Edi ternyata gak lulus.

Betapa sedih terasa….

 
27 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2008 in Diari

 

Tag:

27 responses to “edi irawan

  1. achoey sang khilaf

    25 Juni 2008 at 09:22

    itulah
    kadang siswa yang baik dan jujur seperti mereka
    harus menerima kenyataan yang berbeda
    tapi tentunya mereka takkan larut dalam kesedihan
    apalagi memiliki guru seperti bapak🙂

    …> ujian nasional adalah model salah kaprahnya sistem pendidikan kita: hasil lebih utama daripada proses. padahal proses lebih penting. dg proseslah hasil yg didapat akan lebih berkualitas.

     
  2. yanti

    25 Juni 2008 at 15:57

    I am crying…. masih banyak anak-anak Indonesia, harapan bangsa, yang harus mengalah demi keluarga… mudah-mudahan dia tidak putus semangat, mau mengulang kelas. Dan diijinkan orang tuanya. Amin

    …> betul sekali mbak yanti. rencananya, edi ikut ujian penyetaraan paket b.

     
  3. cinker

    26 Juni 2008 at 00:12

    itulah ketidak adilan di dunia ini…..yang ingin malah ngak dapat……tapi ngak ogah2an malah senang2

    …> un memang senantiasa makan korban. korban akibat kebijakan yg kurang bijak

     
  4. Catra

    26 Juni 2008 at 09:19

    upaya si edy untuk memperoleh pendidikan tidak di dukung sepenuhnya oleh keluarganya, Indonesia bisa keluar dari ketertinggalan bila mindset masyarakat diubah bahwa pendidikan itu penting

    …> benar. tapi mengubah image masyarakat kadang jauh lebih sulit, apalagi yg tinggal di pelosok

     
  5. arifrahmanlubis

    26 Juni 2008 at 11:14

    salam kenal pag guru..

    guru-guru seperti pak zul diperlukan dunia pendidikan kita. mendidik bukan orientasi nilai, tapi membuat anak didik “bernilai”.

    semoga edi sukses. salam buat edi pak.

    *salam hormat untuk bapak dan semua guru di Indonesia

    …> salam dan terima kasih. bagi saya, kerja adalah ibadah

     
  6. ven

    26 Juni 2008 at 13:00

    waaah hormat takzim saya untuk guru spt om zul…moga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk om Zul…

    duuuh sedih bgt kisah edi ini ya om….moga dia dan ortunya ga patah semangat utk tetep nglanjutin sekolah sekalipun gag lulus..

    “Selamat Berjuang untuk pendidikan anak2 indo Om..”

    …> trims mbak. di balik gemuruh dan sorak riang siswa yg lulus, ada tangis tertahan dari anak-anak yg tdk lulus. meski sdh belajar serius, fasilitas yg tdk mendukung juga penyebabnya. pemerintah kadang lebih suka bantu sekolah mapan spt ssn dibanding sekolah pinggiran yg serba kekurangan

     
  7. meiy

    26 Juni 2008 at 13:09

    semalam aku juga ngomongin soal ujian ini dg abang, negatifnya lebih byk dari positifnya, ambo setuju pak zul , proses lebih penting, bagaimana mengukur anak dg satu kali ujian seperti itu? pemerintah emang gebleg, sebel aku, udah protes disana sini tetep aja cuek.

     
  8. meiy

    26 Juni 2008 at 13:11

    semoga pak zul tak lelah menyemangati edi, kok rasanya ikut sedih, mungkin krn anakku hampir seusianya..ya. tar dua tahun lagi juga tamat smp, yakinlah itu hanya batu sandungan kecil dalam hidup.

    …> trims meiy. salam buat keluarga ya.

     
  9. artja

    26 Juni 2008 at 13:54

    semoga edi tidak patah semangat, dan semoga orangtuanya tidak marah hingga putus asa. saya juga termasuk yang tidak setuju dengan UN. bagaimana mungkin nilai disamaratakan sementara standar fasilitas belum merata? mdah-mudahan di masa yang akan datang ada sistem yang lebih baik lagi.

    …> trims dg dorongannya

     
  10. marshmallow

    26 Juni 2008 at 19:58

    @artja: iya, yang penting si edi gak frustasi ya? sayang banget kalau si anak gak ulang lagi, padahal semangat dan perjuangannya sangat keras.

    ironis ya, saat sebagian orang ingin bersekolah namun tidak mampu, sebagian yang mampu malah tidak ingin bersekolah.

    …> anaknya ikut ujian penyetaraan paket b.

     
  11. imoe

    26 Juni 2008 at 21:51

    ikut prihatin pak, tetap semangati edi, karena menurut saya yang namnay belajar itu tidak perlu IJASAH…..kata orang minang ALAM TAKAMBANG JADI GURU….

     
  12. Dilla

    27 Juni 2008 at 10:09

    Ga ada yang sia-sia atas usaha Pak Zul dan kemauan Edi
    Insya Allah

    Moga Edi masih bersemangat untuk ikut paket C

     
  13. Riny Yunita

    27 Juni 2008 at 12:57

    Jangan patah semangat Edi.., teruslah berjuang!!

     
  14. ubadbmarko

    27 Juni 2008 at 15:07

    Beri dia semangat pak, Bill Gates juga sama ga lulus tapi bisa sukses.

     
  15. BanNyu

    27 Juni 2008 at 15:55

    Masih ada ujian HER ga sih?

    Semoga semua gutu seperti pak Zul.

     
  16. Sawali Tuhusetya

    27 Juni 2008 at 19:54

    ada banyak siswa yang senasib dng edi irawan, pak. pada era sekarang ini, ternyata masih banyak orang tua yang berpandangan seperti itu, memandang bahwa pendidikan hanya menghabiskan biasa, toh setelah lulus sulit juga cari kerja, haks. smp cari kerja? waduh, kayaknya ini butuh “revolusi” ttg paradigma masyarakat kita dalam memandang hakikat pendidikan, pak zul. ikutkan saja edi irawan pada ujian kesetaraan paket B, pak. mudah2a saja dia berhasil.

     
  17. okta sihotang

    27 Juni 2008 at 21:07

    i`m sori to hear that..
    semangat edi….

     
  18. ika

    28 Juni 2008 at 18:12

    berjuanglah kembali edi!!! kamu bisa!! semangat ya!!!

     
  19. myviolet

    29 Juni 2008 at 11:15

    Ikuti Kompetisi Matematika Nasional 2008 antar SLTA tingkat Nasional. Sebuah ajang yang membudayakan kompetisi antar siswa SLTA pada tingkat nasional bidang ilmu matematika, dan mengenalkan peran IT pada guru dan siswa SLTA.

    Jadwal Kegiatan
    Pendaftaran: 1 Juli – 5 Agustus 2008 Pelaksanaan 12 – 14 Agustus 2008

    Tempat Kegiatan
    Grha STMIK AMIKOM Yogyakarta,
    Jl. Ringroad Utara Condong Catur, Yogyakarta.

    Pendaftaran
    Biaya Pendaftaran: Rp. 50.000,- / tim
    Tempat Pendaftaran: via Online http://kmn.amikom.ac.id
    Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer Bank Mandiri cab. Gejayan Yogyakarta
    No. Rek. 137-00-0540110-0 a.n. Armadyah Amborowati

    Penghargaan (Award)

    * Juara 1 : 10 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 2 : 8 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 3 : 6 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 1 : 4 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 2 : 2 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta

     
  20. langitjiwa

    29 Juni 2008 at 20:07

    Oh..
    semoga edy,tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. yg dimana salah satu dari rintangan itu adlh edy tak lulus dalam ujian.

    iya,saya setuju dgn pak.sawali ikutkan saja edy ujian paket B itu,pak Zul.

     
  21. Menik

    1 Juli 2008 at 10:18

    Saya juga ikut merasakan kesedihan itu Pak😦

    Semoga Edi ga patah semangat, orangtuanya juga !😦

     
  22. Empi MUSLION JB'lOç

    7 Juli 2008 at 03:18

    Edi
    Piluuuuu Pak Zul saya baca postingan ini

    antara semangat, pencarian ilmu, tantangan hidup dan realita
    Edi
    kamu tetap lulus
    kamu tetap berhasil
    kamu tetap sukses
    kamu tetap pejuang
    Edi
    jangan asamu putus karena tidak melewati angka kelulusan secara kuantitas
    Edi
    kamu telah lulus dan sukes melewati salah satu babak pencarian ilmu secara maknawi
    Edi
    teruslah mecari ilmu sepanjang hidup
    jangan berhenti karena stempel kelulusan>>>>

    Salam Jabek Arek

     
  23. avartara

    8 Juli 2008 at 08:48

    Itulah Pak,..Di negeri kita ijazah itu sangat penting, bukan isi dari pemilik ijazah itu,….seperti mercusuar,..diluarnya kelihatan sangat gagah dan mentereng,..tapi klu kita masuk kedalamnya hanya “kosong” melompong

     
  24. Faradina

    10 Juli 2008 at 18:34

    Ini memang kenyataan yg menyedihkan. Hidup memang gak mudah dijalani bagi banyak orang.
    Apa boleh buat pak Zul, belakangan ini orang lebih suka mengagungkan angka2 dari pada moral dan kebaikan tingkah laku.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: