RSS

PEKALONGAN (catatan lelah di suatu kota, 1)

21 Mei

dan kita ciptakan sepasang keresahan
saat jendela jumpa membuka di antara kembara
kemarau di kota ini membara lewat napas
yang kau alirkan di sapa tersisa
tiada kata pasti, tak pernah kita urai masa lalu
sementara cerita kita terus menggemuruh
mengingatkan hari yang tak pernah berlari

kau tahu hidup ini apa, nie
saat kugamang berpijak, pijarmu pun menyelinap
: apa arti tatap, saat kurenangi laut wajahmu?
(barangkali ini ekstase yang tak selesai
atau pun renjana yang tak pernah usai)

dan jalan yang selalu kita tempuh masih saja
kulalui. melangkah di antara deru kota
yang berdebu. matahari membakar dalam
getar riuh udara yang menguap
:kapan gerimis kita usung di sejuknya cuaca?

Iklan
 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2008 in Puisi

 

Tag: ,

19 responses to “PEKALONGAN (catatan lelah di suatu kota, 1)

  1. Menik

    21 Mei 2008 at 15:08

    pak zul… aku pertamaxxxxxxxxxxxxxx 😆

    …> selamat deh. hadiahnya makanan khas pekalongan: nasi megono. mau?

     
  2. Menik

    21 Mei 2008 at 15:09

    setiap orang punya keresahan… itu juga sedang saya rasakan saat ini 😦

    …> resah kenapa bu. ada yg bisa dibantu ngobati rasa resahnya?

     
  3. gajahkurus

    21 Mei 2008 at 15:48

    Puisi yang mantap pak. Untuk siapa itu? 🙂

    …> trims. puisinya untuk siapa saja yg punya rasa yg sama

     
  4. ven

    21 Mei 2008 at 15:58

    ckckck…bisa bgt siy pak zul bikin beginian…

    aah..dmn2 skrng kota makin berdebu ya

    …> ah mbak ventin, biasa sajalah.
    bgm kairo, penuh debu jugakah?

     
  5. Sawali Tuhusetya

    21 Mei 2008 at 16:14

    Pak Zul, semoga kelelahan itu menjadi awal terbitnya matahari di hari esok yang penuh mimpi dan harapan.

    …> trims pak sawali. matahari sdh memancar pada diri pak sawali. semoga sinarnya tetap terang dalam semangat kreativitas diri

     
  6. fisha17

    21 Mei 2008 at 16:33

    Wah, abis jalan2 dari pekalongan ya pak?

    …> iya mas fisha. jalan-jalan salah satu cara memunculkan ide kan…?

     
  7. ridu

    21 Mei 2008 at 17:38

    di pekalongan panas juga yah?? wah kaya jakarta donk..

    …> iya mas ridu, kan dekat ke pantai

     
  8. Landy

    21 Mei 2008 at 20:56

    “Kapan gerimis kita usung di sejuknya cuaca? ”

    Aku suka kata-kata ini 🙂

    …> ops, trims mas landy

     
  9. Rindu

    22 Mei 2008 at 07:58

    Yang ada dikepala saya pekalongan=batik …. kirimkan satu yah 🙂

    …> pekalongan memang identik dg batik. mbak rindu pengen batik apa? baju, celana, topi, selendang….

     
  10. SQ

    22 Mei 2008 at 08:02

    🙂 nggak tahu, kenapa, saya malah ingat kampung halaman saya di BJM…

    …> kangen kampung halaman ya mas syam

     
  11. Zul ...

    22 Mei 2008 at 08:48

    Mas, ceritain dong asal usul Pekalongan.
    Apa benar asalnya dari kata dasar ‘kalong’?

    Hi hi hi …
    Jadi keluarga batman, dong, orang Pekalongan.

    Tabik!

    …> wah bisa aja ni bapak. kata pekalongan konon kabarnya memang ada kaitannya dg kalong, tapi bukan kalong hewan, melainkan seseorang yg bertapa di atas pohon dg posisi kaki di bagian atas dan kepala menjuntai ke bawah mirip kalong.

     
  12. ika

    22 Mei 2008 at 09:28

    PEKALONGAN? aaah sop buntut na enak banget tuh,,hehe ,,,

    …> sop buntut? ehm. enak… eh mbak ika sdh pernah coba ya

     
  13. Chic

    22 Mei 2008 at 09:56

    mau batik nya aja deeeeh.. heeeee :mrgreen:

    …> boleh. grosir batik banyak di sini. harganya batiknya murah-murah. kapan mbak chichi ke pekalongan?

     
  14. unai

    22 Mei 2008 at 13:04

    coba ke Jogja..masih ada sisa gerimis tadi malam…sejuk, menguarkan wangi tanah basah

    …> suasana sejuk? adem? ah, kurindu selalu

     
  15. putirenobaiak

    22 Mei 2008 at 15:20

    kalau renjana itu selesai
    kita mati hehe
    komen ku ngaco ya?

    tunggu part 2 nya

    …> he he. tunggu aja, lagi disiapin meiy

     
  16. realylife

    22 Mei 2008 at 16:34

    Insya Allah , kalo ada niat semuanya akan bisa terwujud
    amin

    …> niat dan kesungguhan tentunya

     
  17. yasmin

    23 Mei 2008 at 20:41

    Pekalongan??? tetanggaan ama kota Batang tuh??
    jadi pengin pulang nih..kangen semuanya…hiks..
    Lho kok jd curhat ya???

    …> wah, mbak yasmin orang batang? wah enak ketemu tetangga sebelah. kapan-kapan kopdar mbak ah bersama blogger lainnya

     
  18. tahta

    24 Juni 2009 at 02:47

    mana crita tentang legenda pekl?
    ak pengen tau,mosok wong kalongane dewe koq ra ngerti sejarahe.

     
  19. eko sakti saputra

    26 September 2009 at 21:35

    asslamu`alaikum bunda salam kenal…. oya…. ku mau tanya gmn kabarnya pkalongan skrg…. masih kayak dulu apa udh berubah……?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: