RSS

Perangkap BLT

14 Mei

“Tahun 2005 lalu saat BLT dikucurkan, saya juga dapat. Tapi saya tidak mau menerimanya. Saya merasa tidak berhak. Hanya saja, pihak dari kantor desa mengharuskan saya tetap tanda tangan.”

Demikian cerita teman saya. Dia seorang guru, golongan III/b. Entah mengapa, di kantor desa ia tercatat sebagai penduduk miskin. Tercatat sebagai salah seorang penerima bantuan langsung tunai (BLT).

“Semua kepala keluarga di desa ini dapat,” ungkap teman saya itu kembali.

Saya terhenyak. Bagaimana bisa, semua KK dapat jatah BLT? Padahal melihat keadaan mereka, beberapa di antaranya berasal dari keluarga berkecukupan atau pegawai negeri. Tapi begitulah, aneh tapi nyata.

Dari pantauan saya tahun 2005 lalu, penyimpangan BLT terjadi dimana-mana. Ada kepala desa yang memalsukan data, ada perangkat desa yang menginstruksikan mereka yang menerima untuk mengeluarkan seperlima atau seperempatnya dengan alasan untuk biaya administrasi, dsb. Begitulah, dana yang Rp100 ribu yang diterima lewat kantor pos, sudah dipungli dengan berbagai cara dan berbagai alasan.

Tahun ini kembali pemerintah bagi-bagi duit sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Namun dari proses awalnya saja sudah memunculkan masalah. Mereka yang berhak menerima didasarkan pada data penerima tahun 2005. Dengan kata lain sasarannya jauh dari data seharusnya. Selama 3 tahun apa pun bisa terjadi. Mereka yang meninggal pun juga bakal dapat BLT. Dan teman saya yang tahun ini sudah golongan III/c bakal menerima lagi. Sedangkan bagi mereka yang tahun ini kurang beruntung dalam mengarungi kehidupan (yg seharusnya berhak menerima) bakal gigit jari.

Demikianlah….

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2008 in Lain-lain

 

Tag: , ,

17 responses to “Perangkap BLT

  1. natazya

    15 Mei 2008 at 02:59

    sama kaya pembagian kompor gas dulu yang juga semua orang dapat cuma dengan bayar 10 ribu…

    tetap heran sama yang mau ambil padahal tergolong orang mampu!

    baliknya ke kesadaran…

    atau mungkin BLT ini memang bukan pemecahan!

    …> betul. blt harus lebih selektif dan tepat sasaran. dengan demikian pemerintah tdk mengajari rakyatnya untuk menjadi pengemis atau peminta-minta.

     
  2. babeh

    15 Mei 2008 at 10:11

    halah, data ituh ga valid, pastiiiii….., iya kan pak zul?, saya tahu persis soal ituh (*tauk dari mana??*), loh? ya, dari tulisan pa zul inih…….

    …> betul beh. banyak yg gak valid. dan pemerintah dg pede akan meneruskan kesalahan serta ketidakvalidan itu.

     
  3. afraafifah

    15 Mei 2008 at 11:45

    aneh..knp pemerintah tidak belajar dr yg sblm2nya kalau pembagian BLT itu tidak efektif… eh malah…

    makin susah hidup di indonnesia ini..

    …> iya fra. bgm, mau migrasi ke luar negeri?

     
  4. ridu

    15 Mei 2008 at 15:15

    iya penyimpangan BLT itu ada di depan mata kita, baik dari pungli yg dilakukan dengan dalih biaya administrasi dan sebagainya, sampai pada penyimpangan penerima fiktif, biasanya oknum RT atau kelurahan gitu..

    kasihan donk yah yg gak kebagian yg seharusnya itu adalah hak dia..ūüė•

    …> betul mas ridu. gelombang penolakan bbm dan bayang-bayang masalah blt, tak menyurutkan rencana pemerintah.

     
  5. ika

    15 Mei 2008 at 16:07

    blt gak tepat sasaran..kasian yang miskin makin menderitaūüė¶

    …> betul mbak ika, kita bisanya mengurut dada melihatnya

     
  6. Catra

    15 Mei 2008 at 17:12

    seharusnya pemerintah tidak memberikan bantuan langsung tunai, hal ini dapat membuat rakyat jadi malas berusaha dan bekerja karena menunggu bantuan langsung saja.
    seharusnya pemerintah mengalihkan dana itu ke perbaikan fasilitas pendidikan. akses kesehatan gratis beserta obat-obatannya dan pengalihan dana ke kampung/desa untuk irigasi persawahan. hal ini dapat mengakibatkan manfaat jangka panjang. bukan hanya kenikmatan sesaat ketika menerima BLT yang rawan salah sasaran.

    tapi dengan syarat pengalohan tidak dibumbui oleh korupsi2 yang mroyek dengan menggelembungkan dana yang tidak jelas.

    http://sutanmudo.co.cc

    …> satuju sutan. sesuatu yg sangat jarang disentuh oleh pemerintah, bagaimana rakyat kecil bisa lebih layak kehidupannya

     
  7. SQ

    15 Mei 2008 at 17:21

    itulah salah satu kelemahan sistem negara kita yang sebagian bsrnya msh manual.

    coba seandainya dbkin on-line atau terkompterisasi menyeluruh, pasti luar biasa dan akan lebih efektif..

    namun membahasnya pasti akan berkait-kait dgan SDM atau dana-dana mem”back up”nya

    capeeee deeeh:mrgreen:

    …> ide yg menarik mas syam. sesuatu yg perlu dipikirkan oleh badan pusat statistik (bps)

     
  8. zoel chaniago

    15 Mei 2008 at 21:02

    kriteria miskin itu gimana sich???? BLT kayanya g’ efektif de

    …> kriterianya? apa ya? ada yg bisa menjawab?

     
  9. Zul ...

    15 Mei 2008 at 22:21

    Aku yakin pemerintah punya tujuan baik dan perencanaan kerja yang matang dalam kelancaran program BLT. Yang sering merusak sistem adalah lapis antara pemenrintah dan rakyat. Akibatnya begitulah, BLT tak semuanya mencapai sasaran. Apa yang bisa kita bantu untuk melancarkan BLT? Minimal tidak memberikan statemen yang memperkeruh suasana.

    Tabik!

    …> kalau demikian baiknya bgm?

     
  10. afraafifah

    16 Mei 2008 at 06:51

    iya pak..mmg cita-cita sy ingin tinggal dluar negri dan mencari rezeki disana untuk membantu kluarga diindonesia..doakan saja ya pak ..

    …> semoga tercapai dan sukses ya fra?

     
  11. putirenobaiak

    16 Mei 2008 at 09:46

    demikiallah negeri ini masih carut marut
    mengenaskan

    mulai saja berbenah diri kali ya pak zul.

    …> iya meiy. kita berbenah dan memulai dari diri sendiri.

     
  12. imcw

    17 Mei 2008 at 06:53

    Biaya pendidikan dinaikan, rakyat menjadi tidak terpelajar sehingga mudah dibodoh bodohi oleh program dungu pemerintah seperti BLT.

    …> perhitungan matematis paling gampangnya Rp100 rb dibagi 30 hari. itu berarti sekitar Rp3.300,00 per hari. apa yg bisa didapat dg uang Rp3.300 itu? kasihan rakyat kecil.

     
  13. Dilla

    17 Mei 2008 at 07:25

    Aaaargghh! Jadi sebel bacanya. Benar2 penyimpangan.

    …> boleh sebal mbak dilla, tapi jangan pada penulisnya ya. he he

     
  14. petak

    18 Mei 2008 at 13:37

    Jadi ingat pesan mantan presiden amerika, Saya lupa namanya.
    kita tidak bisa menguatkan yang lemah dengan melemahkan yang kuat
    Pemerintah seharusnya lebih memilih untuk memberdayakan masyarakat miskin dengan membuka lapangan pekerjaan baru pake padat karya dibanding yang beginian.

    …> suatu ungkapan yg sangat bijak. saya sangat setuju dg apa yg mas tulis

     
  15. Zee

    20 Mei 2008 at 14:41

    Susah memang berantas korupsi, klo mulainya jg dari yg paling bawah.

    …> betul sekali. blt memang penuh dengan masalah

     
  16. yellashakti

    22 Mei 2008 at 13:13

    jangankan BLT, data pilkada aja banyak yg palsu,,masa orang meninggal punya hak suara, itu kan lucu,,,lebih lucu lagi,,ini terjadi dimana-mana di hampir semua sektor,,,
    kalau kita sulit merubah lingkungan, baiknya kita mulai merubah diri sendiri saja,,siapa tau yang lain jadi ikutan

    …> betul mbak yella. pemerintah kita gak punya sense of crisis ya

     
  17. Bri

    23 Mei 2008 at 16:00

    BLT?? saya rasa ini konyol, kayak tukang obat yang nyebarin penyakit, lalu ngejual obat penawarnya (eh bukan ngejual ding, memberi… biar dikira pahlawan, oh kacau!!!).

    …> agaknya sebuah perumpamaan yg pas mas bri. setuju…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: