RSS

Abad yang Terluka

09 Mei

begitu banyak suara begitu bising berita
ketika era informasi diglobalkan
dan komunikasi, dunia tanpa baju dan celana
telanjang, orang-orang menikmatinya

mestinya kita memelihara sedikit yang kita punya
dan menempatkannya di muka, tanpa harus melewati jalan panjang, berliku, dan berbelitnya birokrasi
sebab kita maukan kejujuran, kita sama agungkan
keterbukaan dan kebebasan sebagai cita-cita
tanpa muka masam atau manis berduri
yang hanya mendatangkan parasit dan gulma

kita kian mengerti, begitu banyak atmosfir beracun
asap berwarna, dan lautan tempat bertumpuknya sampah
kita semakin tahu, betapa bumi kian sempit
dan lahan hijau kian hilang
hingga begitu banyak hal yang hanya diproyekkan
kita akan dapat memahami akhirnya
mengapa ada penggusuran dan protes dari rakyat kecil
yang sungguh telah menjadikannya
sebagai santapan kedua sepanjang abad yang terluka

Iklan
 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2008 in Puisi

 

Tag: ,

16 responses to “Abad yang Terluka

  1. langitjiwa

    9 Mei 2008 at 15:41

    bumi semakin hai semakin dia berduka,bang.
    siapa lagi kalau bukan dari manusia itu sendiri utk memelihara alam semesta ini.

    ” bagaimana khbr keluarga disana ?”
    salamku,
    langitjiwa

    …> iya. mas jiwa benar. semua berasal dari ulah manusia.

    keluarga aman. masih menjalani kehidupan seperti biasa.

     
  2. yanti

    9 Mei 2008 at 15:51

    Cari “obat merahnya” yuk….

    …>obat merahnya harus asli lho. awas barang tiruan!

     
  3. natazya

    9 Mei 2008 at 16:43

    perlahan menuju kehancuran…
    yang sisa tinggal yang pilihan,
    atau justru yang pada akhirnya akan dirugikan…

    ah…

    take a good care of ourself please ūüėÄ

     
  4. wennyaulia

    10 Mei 2008 at 09:51

    benar…kita mau kejujuran
    tapi kita dapat..pendustaan :mrgreen:

    …> akibatnya… hilangnya kepercayaan

     
  5. ika

    10 Mei 2008 at 11:27

    bumi makin kotor dari hari ke hari…

    …> iya. di jakarta, tidak ada ramalan bmg bakal hujan. tapi keseharian langit jakarta terlihat mendung. gumpalan mendung polusi udara yg amat tdk sehat.

     
  6. frisna

    10 Mei 2008 at 12:10

    Alow uda……
    Salam kenal ambo urang Pasisia pulo, tapek nya di Pasa Tarusan. Jaan lupa singgah di lapau ambo yo uda.

    …> onde batamu jo urang kampuang. alah ambo liek nan mauni lapau. kamek jo manih. kalau baitu ambo tawik blog frisna, palapeh taragak jo rang kampuang

     
  7. gama

    10 Mei 2008 at 13:04

    setuju, komitmen, itu yang kita mau. membuat kontrak politik, sepertinya bisa dicoba.

    …> kontrak politik? untuk yg satu ini saya gak ikut ah. trauma.

     
  8. ridu

    10 Mei 2008 at 13:06

    wah ngena banget, emang yang namanya pembangunan itu lebih memihak kepada pengusaha aja, rakyat kecil justru jadi korban pembangunan

    …> betul mas ridu. mas ridu betul. ridu betul mas. eh…

     
  9. Sawali Tuhusetya

    10 Mei 2008 at 20:17

    membaca puisi pak zul kali ini, saya jadi teringat dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Rangga Warsita dalam Serat Kalatidha, bahwa kita ini memang hidup di Zaman Edan. Dalam serat itu, Ranggawarsita bilang bahwa hidup di zaman “edan” semua berupaya untuk ngedan, sebab kalau tidak ngedan tidak dapat jatah (bagian). meski demikian, Ranggawarsita juga mengingatkan bahwa “seuntung-untungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan selalu waspada!” makasih pak zul puisinya!

    …> waduh pak sawali, saya nggak tahu apa-apa kalau bicara ronggo warsito. pernah sih mendengarnya. menjelang 100 tahun kebangkitan nasional, agaknya pas ya pak gambarannya dg puisi di atas (waduh jadi besar nih kepala). tapi pak sawali berlebihan, karena tulisan pak sawali lebih pas dg apa yg diutarakan ronggo warsito itu.

    trims pak sawali.

     
  10. yuko

    11 Mei 2008 at 14:46

    Aku
    Kumau tak seorang kan merayu….
    …………………………
    …………………………

    Kalau udah puisi saya teringat Chairil Anwar di pelajaran SMP dulu.
    Salam kenal

    …> suka chairil ya… salam kenal dan trims telah berkunjung ya

     
  11. Kang Sadi

    11 Mei 2008 at 14:48

    Apalagi sekarang harga harga naik ya Mas….
    Yang turun malah harga diri….hehe…
    Salam

    …> iya kang. bukti nyatanya negara lain sering mengobrak-abrik keberadaan negara kita.

     
  12. Menik

    11 Mei 2008 at 20:05

    siapa lagi yang akan terluka setelah ABAD ??? ūüė¶

    …> gak tahu tuh, tanya rimba aja.

     
  13. Faradina

    11 Mei 2008 at 22:17

    Begitulah pak, kejujuran dan fikiran jernih itu memang makin mahal harganya. Banyak orang gak sanggup utk membelinya.
    Tapi kita gak boleh diam aja. Seperti Aa’ Gym bilang, kalo mau memperbaiki keadaan, mulailah dari yg kecil2 dulu, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang juga.
    Yuk mulai berbenah. Sebelum semuanya menjadi lebih amburadul.

    …> fara benar. kita harus mulai dari diri sendiri. berani berbeda, meski dg risiko d√¨kucilkan. tapi eksistensi diri sesuatu yg penting, dan itu harus diperjuangkan.

     
  14. unai

    12 Mei 2008 at 09:21

    Lalu pada akhirnya, yang tersisa adalah siksa

    …> iya bu, dan itu oleh ulah manusia itu sendiri

     
  15. azaxs

    12 Mei 2008 at 15:49

    Yup kita harus waspada mas.. dizaman yang serba edan ini apapun bisa di halalkan…

    …> betul. tinggal kitanya, mau ikut-ikutan atau membentengi diri

     
  16. putirenobaiak

    13 Mei 2008 at 16:02

    wah tadi aku komen proyek,
    rakyat hanyalah proyek?

    …> sepertinya begitu ya meiy…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: