RSS

Di Suatu Pagi

05 Mei

pertama kudatang, tanah ini masih
menyisakan keharuman tubuh perempuan
di tempat-tempat pemandian
di sungai kecil
yang masih saja mengalirkan bening air
sepanjang peradaban

pertama kudatang dan menetap
simpang ini masih sepi
masih bisa menghitung dua tiga teriakan
dan deru lalu lalang
di bebatuan berserakan
sepanjang perjalanan

dan ini pagi, tiada lagi sepi
kecuali tebaran asap dari kota mati
meninggalkan kesunyian seorang pengembara
pada beton dan tiang-tiang sepanjang jalan
serta tak lagi menyisakan nyanyian pagi
dan wanginya tubuh perempuan
sebab sungai di belakang telah kering
bercampur amis dan tubuh-tubuh
tanpa nyawa

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Mei 2008 in Puisi

 

Tag: ,

15 responses to “Di Suatu Pagi

  1. Sawali Tuhusetya

    5 Mei 2008 at 18:43

    tragis banget liriknya, pak zul. puisi ini mengingatkan saya akan hilangnya panorama dan keindahan alam yang masih murni dan sudah tersulap oleh banyaknya asap dan cerobong pabrik. saya merindukan suasana kampung yang sunyi dan damai, tetapi agaknya sekarang sudah langka ditemukan. di negeri ini agaknya makin sulit ditemukan ruang yang tersisa untuk menikmati keindahan.

    …>puisi ini memang terlahir saat sebuah kampung pinggiran kota padang berubah dg cepat dan drastis saat unand dibangun (di kampung bukit limau manis).

     
  2. realylife

    5 Mei 2008 at 19:05

    semoga sesuatu yang indah di temukan di suatu pagi yang kan di jelang nanti
    amin

    …> semoga, walau perubahan itu selalu membuat kita kadang sering merasa sangat terusik

     
  3. langitjiwa

    5 Mei 2008 at 19:59

    begitu tercemar sdh alam semesta ini oleh limbah2 tak bertuan.
    salamku.

    …> betul mas. bening air sungai kian susah ditemukan sekarang.

     
  4. Rindu

    5 Mei 2008 at 20:40

    Saya sering sekali merasa bak raga tanpa jiwa …. sering sekali tapi saya tidak mau menjadi mayat, ampun jiwa !!

    …> sebuah perumpamaan yang sangat pas mbak. raga tanpa jiwa, apa yang kita bisa lakukan?

     
  5. lovesomatic

    5 Mei 2008 at 23:06

    menyedihkan, sbuah penggambaran keadaan yg sungguh menyesakkan dada… 😦

    …> iya, ini bukan sekedar tulisan berupa puisi begitu saja. puisi ini lahir dari kenyataan yang benar-benar saya alami.

     
  6. wennyaulia

    6 Mei 2008 at 01:13

    beuh…jogja banget niy
    dan tentunya banyak kota di endonesa juga
    hehehe

    ….> merasa seperti di Yogya? Saya ingat pengarang Joni Ariadinata, pengarang girli yang sering mengangkat tema-tema kehidupan warga pinggir kali. Salah satu cerpen terbaiknya yang lahir dari kehidupan liar girli adalah Lampor (Cerpen terbaik Kompas, kalau nggak salah tahun 1994).
    Tapi cerpen ini berlatarkan pinggiran Padang yang begitu alami sontak berubah drastis saat dibangun kampus Universitas Andalas (UNAND) Padang.

     
  7. ridu

    6 Mei 2008 at 05:36

    puisinya bagus, pas banget dibaca pas pagi2..

    ….> pas bagaimana mas? pas dibarengi gorengan dan segelas kopi?

     
  8. Menik

    6 Mei 2008 at 05:55

    jadi inget abis perang Pak😦

    …> habis perang? perang dengan siapa bu? wah saya belum pernah ikut peranmg tuh. he he…

     
  9. syahrizal pulungan

    6 Mei 2008 at 08:33

    puisinya sangat menyentuh bagi yang tau

    …> Alamdulillah. Terima kasih Bang.

     
  10. ika

    6 Mei 2008 at 09:19

    menyedihkan,,mungkinkah masih ada kesempatan anak cucu kita menikmati indahnya alam ini,,,alam sudah rusak,,dimana2 hanya jadi hutan beton.. *sigh*

    ….> betul sekali mbak ika. kerisauan kita seperti kerisauan yang dialami burung-burung yang kehilangan tempat untuk hinggap dan bercengkrama.

     
  11. waterbomm

    6 Mei 2008 at 09:51

    serasa di….
    serasa dijakarta!!!!!!
    bedanya dijakarta ga ada mayat😀

    …> ah masa gak ada mayat. coba baca komentar dari mas langit jiwa dan mbak rindu.

     
  12. marsini

    6 Mei 2008 at 14:00

    tubuh-tubuh tanpa nyawa?
    mungkinkah telah terjadi pertumpahan darah disini?😦

    …> iya, pertumpahan darah dalam arti yang lebih parah daripada sekedar pembunuhan biasa.

     
  13. natazya

    7 Mei 2008 at 00:27

    agak ngeri…

    but still…

    kenyataan hidup, yes!?

    …> Ya, begitulah Mbak.

     
  14. meiy

    9 Mei 2008 at 11:17

    menyisakan nyeri da…

    …>obatnya apa ya meiy?

     
  15. yellashakti

    13 Mei 2008 at 11:25

    jadi ingat waktu KKN nih

    …> postingin dong…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: