RSS

Anak-anak Itu….

18 Apr

Dua hari lalu dua siswa saya bolos. Guru mata pelajaran melaporkan hal itu kepada saya. Sebagai wali kelas, saya menindaklanjuti laporan itu.

Mereka bolos pada jam ke-3 dan 4. Mata pelajarannya Matematika.

Sebelumnya, saya sudah wanti-wanti, kalau ada keperluan pada jam sekolah dan ingin keluar, harus laporan dulu. Kalau ada masalah, jangan sungkan-sungkan membicarakannya. Namun hari itu saya merasa dibohongi oleh kenekadan mereka.

Mungkin ini masalah sepele. Tapi sebagai wali kelas IX (kelas III SMP), saya berusaha menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Kenakalan-kenakalan kecil termasuk bolos, tidak lepas dari pantauan saya.

Mereka — para siswa — adalah anak-anak yang baik. Sama seperti anak-anak lainnya yang bersekolah di desa. Ketemu di jalan mereka selalu menyapa ramah. Namun disiplin tetaplah disiplin. Mereka harus diperkenalkan, diajarkan, dan dibiasakan sejak dini. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Terhadap anak yang bolos tadi, mereka saya nasihati dan ingatkan akan aturan sekolah. Terakhir saya minta mereka belajar bertanggung jawab: menemui sang guru Matematika, jujur dan minta maaf atas kelalaian mereka.

Keduanya patuh dan menemui sang guru Matematika. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Terus terang, kadang saya tidak bisa marah, terutama dengan kelas yang saya pimpin. Ternyata imbasnya juga baik. Mereka merasa hormat. Di samping merasa hormat, mereka kadang juga kreatif.

Ketika hal ini saya terapkan pada kelas lain, ternyata efeknya sama. Dari sana saya kemudian mencoba mengubah cara mendidik. Model yang saya lakukan adalah model kasih sayang. Pada saat mereka diperhatikan dengan kelembutan bicara, dengan pemahaman akan masa depan, dan sentuhan-sentuhan yang manusiawi, hasilnya jauh lebih bermakna dibandingkan harus marah-marah, teriak, dengan ancaman, dan sejenisnya. Alhamdulillah, saya merasa puas dan bahagia.

Tentu kebahagiaan itu akan lebih lengkap saat mereka sukses tentunya.

Dengan pancaran keramahan, pengertian, motivasi ke arah kemajuan, semua pasti bisa lebih baik. Tidak ada pekerjaan yang sulit kalau dalam diri kita sudah tidak lagi menganggap sesuatu itu sebagai sesuatu yang sulit. Kepada anak-anak pun saya mengatakan hal itu, terutama saat mereka merasa khawatir dengan persiapan ujian nasional yang akan mereka hadapi.

Anak-anak itu, sungguh begitu berartinya…

Iklan
 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 18 April 2008 in Diari

 

Tag: ,

7 responses to “Anak-anak Itu….

  1. gama

    18 April 2008 at 13:13

    salam kenal pak zul. saya setuju sekali dengan pendekatan berbasih kasih sayang dan kelembutan yang bapak lakukan.

    saya juga seorang guru, walau lebih senang disebut motivator, dan saya juga bergaul dengan berbagai tingkah siswa.

    pak, sekarang, tantangan saya adalah bagaimanan membuat mereka menjadi realistis, bahwa pilihan mereka akan menentukan ‘hasil’ yang mereka peroleh, salah satunya pilihan bersikap, dan setiap mereka harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

    kadang banyak anak yang secara spontan selalu ingin memperoleh hasilyang sama dengan anak lain, sementara mereka melakukan usaha yang berbeda. dan menganggap bahwa perbdaaan hasil itu karena kurang toleransi atau ketidak adilan….

    well… senang bisa membaca blog pak zul.

    ….> Salam kenal juga Pak Gama.
    Apa yang Bapak utarakan benar adanya. Untuk bisa membuat mereka realistis, adalah hal yang sulit, namun bukan tidak bisa. Persoalan utamanya, mereka belum terbiasa dalam menentukan pilihan-pilihan (atau belum dibiasakan dalam memilih sesuatu?). Sebagai contoh, mereka masih ragu dan bingung saat ditanyakan cita-cita. Kalau pun ada yang sudah punya cita-cita, mereka juga kadang tidak bisa menjawab secara pasti, mengapa mereka memilih cita-cita tersebut. Belum yang lainnya.

    Ok Pak Gama. Saya paling senang ketemu dengan motivator, karena sering diingatkan ada hal di depan yang harus digapai. Dan motivasi bagaimana pun adalah bagian dari roh kesuksesan dalam hidup dan kehidupan.

     
  2. myviolet

    18 April 2008 at 14:00

    nah guru seperti pak zul ini yang jd idola
    saya ketika di SMA
    maklum…
    dulu yang namanya sekolah jarang masuk
    dengan alasan
    kegiatan dan rapat osis
    padahal cuma pengen melarikan diri…
    heheh
    brarti pak zul pernah jadi anak SMA tuh makanya bisa memaklumi

    …> Kalau saya dulu ada kegiatan mesti laporan (wali kelas, guru mapel, atau guru BK. Biasanya disertai secarik kertas izin. Mungkin saya termasuk banyak izinnya, apalagi dengan kesibukan di OSIS

     
  3. Oemar Bakrie

    19 April 2008 at 22:39

    Jadi inget jaman masih SMA, sering bolos …

    …> wah zaman pak oemar bolos sudah mulai nge trend ya…

     
  4. imoe

    19 April 2008 at 23:01

    Senang baca tulisan pak Zul…

    Dulu saya terobsesi jadi guru, saya sempat kulaih akta IV, saya akhirnya gak masuk-masuk kuliah lagi (boleh dikatakan hampir berhenti) walaupun dengan IPK 3,6 lebihh (bukan nyombong lhoo)…saya hampir frustasi ngelihat setiap saat banyak anak-anak sekolah teman-teman muda saya mengadu kalau sekolah bukan lagi tempat yang aman, banyak guru yang ,melakukan kekerasan, main pukul, dan segala macamnya. Saya menemukan bukti-bukti itu. Tak banyak lagi guru baik. Semula saya berfikir, kalau ingin merubah sistem, masuk langsung ke sistem itu. Tapi akhirnya saya menyerah….mungkin saya harus memikirkan cara lain untuk itu….

    Bulan lalu saya mendampingi kasus anak SD di Padang yang di hukum fisik secara tak manusiawi. Kami berhadapan dengan KEPSEK AROGAN dan KEPALA DINAS PENDIDIKAN YANG AROGAN….. hingga kini masih berlanjut tuhhh …entah sampai kapan bisa di selesaikan……

    Salut pak zulll…….kalo saja semua seperti pak zullllllllllll

     
  5. Sawali Tuhusetya

    20 April 2008 at 00:52

    metode yang digunakan pak zul dalam melakukan pendekatan dg anak2 sudah sangat tepat, pak. mudah2an rekan2 sejawat kita banyak yang menggunakan pendekatan humanis seperti itu. pendekatan model behaviour yang memperlakukan anak bak botol kosong harus secepatnya diubah dengan pendekatan konstruktivistik yang lebih terbuka dan demokratis.

    …> Betul Pak. Hasilnya juga mencengangkan. Cuma harus lebih sabar dan kreatif

     
  6. meiy

    24 April 2008 at 09:42

    bahasa kasih sayang tak pernah salah ya pak guru ūüôā

    …> dg bhs kasih sayang, semua jadi indah meiy

     
  7. wannofri

    27 April 2008 at 14:25

    Mantap Zul. Teru…teruuus.teruslah , perjalanan itu masih jauh

    …>mo kasih da wan alah bakunjuang.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: