RSS

Tobat

16 Apr

rindu telah pulang ke muaraMu
coba pahami asinnya laut
yang membasahi karang di antara lumut
lewat sapuan ombak dan pasang yang kusut

seperti ombak, rindu kutebar lewat jalaMu
di malam gelap, ketika hening mencatat desir laut
hingga meneteskan embun dan memercik
membasahi tikarMu dalam tahajud

seperti hujan, rindu kupulangkan ke lahan ilalang
yang menderaikan daun di saat kemarau
pintuMu kuketuk lewat keraguan
mengharap air sejuk memercik kuduk

tuhan,
mawar telah tidur dan mengatupkan aroma
daun telah diam dijangkau malam
kuingin dendam pulang pada kelamMu

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 16 April 2008 in Puisi

 

Tag:

7 responses to “Tobat

  1. Rizki on benbego

    16 April 2008 at 20:22

    puisinya ok punya nih. membuat diri ini introspeksi. tengkiu bro atas puisiya.

    …> Terima kasih atas apresiasi dan komentarnya

     
  2. Sawali Tuhusetya

    16 April 2008 at 20:31

    puisi pak zul kalau ini sarat dengan sentuhan religius. yang saya tangkap, pak zul tdk bermaksud menggurui. dengan membaca puisi ini, secara tdk langsung pembaca *halah sok tahu* akan melakukan introspeksi diri betapa banyaknya dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan.. namun, betapa tidak mudahnya untuk bisa menggapai ampunannya, tanpa melakukan tibat yang sebenarnya. saya terkesan bait ini, pak zul:

    seperti hujan, rindu kupulangkan ke lahan ilalang
    yang menderaikan daun di saat kemarau
    pintuMu kuketuk lewat keraguan
    mengharap air sejuk memercik kuduk

    inspiratif dan mencerahkan. saya tdk mungkin bisa mengkritik pak zul, saya hanya sebatas menikmati dan berupaya memahami karena saya sendiri tdk pernah bisa membuat puisi, hehehehe:mrgreen:

    …> Pengennya ya introspeksi diri Pak, menyadari (selama ini pingsan, gak nyadar, he he). Tapi saya gak yakin orang seperti bapak gak bisa bikin puisi. Cerpen dan esainya bagus dan cerdas kok.

     
  3. komariyah

    16 April 2008 at 21:49

    ass. wr.wb.
    apa kabar Pak Zul ?
    semoga Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan yang ada dan tobat kita di terima dengan kesungguhan . Amiin
    Salam takzim

    …> Waalaikum salam wr wb.
    Amin…, kabar baik bu. semoga sama-sama tercerahkan ya bu

     
  4. Jack sasda 93

    17 April 2008 at 02:01

    Bung Zulmasri…anda sepertinya tidak berkutik di hadapan anak muda. anda terlihat seperti pengecut ya… saya baru saja baca komentar di http://www.rumahteduh.wordpress.com.

    oya, puisi anda bagus, tapi kunjungilah blog junior-junior anda itu. mereka itu orang-orang yang menarik sepertinya. oya, saya tamatan sasda, sekrang di jakarta.

    saya kutip ya…
    12 Zulmasri

    Rumah teduh yg saya bayangkan adalah suasana adem, asri, sejuk, dan sejenisnya. Namun yang saya dapatkan bukan keteduhan, kedamaian, atau suasana alami, melainkan sebaliknya pada tulisan-tulisannya. Ayo, bagaimana ini?

    https://zulmasri.wordpress.com

    di/pada April 6, 2008 pada 6:03 am
    13 deddy arsya

    pak Zulmasri yang baik, rumah mana pun jua yang dihunyi bukan oleh jihin, antu, cindaku, atau malaikat bersayap banyak sekali pun, tetapi oleh makhluk yang bernama manusia, maka Zalmasri yang baik tak akan pernah menemukan apa yang diharapkan itu. bahkan di syorga sekali pun ternyata “tak”. bukitnya, adam dan hawa, sekali pun di syorga, terus saja diteror iblis, bukan? heheheh.

    salam

    …> bung jack, tidak semua persoalan harus diperdebatkan. sikap memahami dan mengarifi sebuah persoalan itu lebih baik.

    saya hanya mempertanyakan tentang keteduhan yg saya cari dari rumah teduh, dan saya sudah mendapat jawaban dan coba memahaminya. Alhamdulillah, saya bisa menangkap maksudnya, sebagaimana yg bung copy paste di komentar ini. apalagi, kemudian ada penjelasan lebih lanjut kepada saya oleh bung deddy arsya.

    trims bung jack. semoga tercerahkan.
    blog bung bagus, saya juga pecinta foto.

     
  5. meiy

    17 April 2008 at 14:09

    nyaman membacanya uda..

    aku suka sekali yg ini:

    “tuhan,
    mawar telah tidur dan mengatupkan aroma
    daun telah diam dijangkau malam
    kuingin dendam pulang pada kelamMu”

    versi ambo:
    kelamMu, diam yang misteri,
    cahaya yg tak tertangkanp mataku

    …> Pencarian Meiy. Pencarian dikeheningan malam, suatu ekstase alam yg teramat tenang di pedesaan dalam sujud pada-Nya.

     
  6. gama

    17 April 2008 at 23:18

    puisinya teduh sekali, tidak seperti tobat yang banyak saya baca di mana-mana, ini tobat yang halus, pergulatan batin yang ‘tinggi’ mengulik koneksi spiritual yang metafisik antara hamba dan sang Khalik. salam kenal uda!

    …>Suatu pengalaman batin memang, saat keriuhan pikiran bikin segalanya buntu, tak ada yg lain kecuali pencerahan dg kembali pada-Nya.

    salam kenal juga dan terima kasih komentarnya.

     
  7. myviolet

    18 April 2008 at 04:32

    Tobat ya…………..
    kata yang mudah disebut tetapi sulit untuk benar2 mewujudkan taubat yang sebenarnya…
    ngomong2 udah pada tau taubat yang sebenar2 nya belum?
    roy juga blum tau..
    kalo ada yang tau dipostingya..
    ato tulis dikomentar di myviolet…
    hehehe sekalian promosi n undangan tuh…
    pada mampir y…

    …> Benar sekali. Mungkin karena sifat kita yang sering terlupa dan terlalai. Tapi ya untungnya itu: Allah tetap sangat sayang pada kita.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: