RSS

Senja yang Melelahkan

30 Mar

dan kau lihatlah dermaga itu; puluhan kapal
berlabuh dan menjauh, merapat dan membuang sauh
sepanjang pelabuhan. kau dengarlah bunyi-bunyi
dari jauh. geletar tali dan layar yang diempaskan
angin yang memiuh

dan pinggiran pantai; kita ingat musim-musim menanti
ombak yang berkejar, berkabar akan nasib
pasir yang terik, bercahaya, memantulkan
bayang-bayang kita. dan sepanjang pesisir, jejak membekas
dalam palutan senja. sunset, wajah siapakah yang membias
pada warna-warna cuaca?

penyeberangan; senja menerima segala tiba
riak selat dan pulau-pulau, kita kembali mengenang
perjalanan yang sia-sia. dan kelap-kelip dari jauh
:apa yang kau tangisì?

senja yang melelahkan; berjuta kenangan kita
pahatkan di batas keinginan dan harapan
yang tak terjelang dalam keberangkatan
atau pun di ambang kedatangan

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2008 in Puisi

 

Tag:

5 responses to “Senja yang Melelahkan

  1. Hanna

    30 Maret 2008 at 13:38

    seperti senja yang kukenal
    ia menyelinap di balik pepohonan dan bebukitan
    memantulkan warna-warna jingga
    mungkin juga cahaya…

    seperti senja yang kukenal
    mungkin kabut menutup sejauh mata memandang
    tapi senja tak pernah lelah
    memberikan cahaya terindahnya…

    maaf, aku hanya iseng nulis beberapa kata. tak ada maksud lain selain menyampaikan salam kenal karena aku selalu menyukai puisi yang mengikat kata senja.

    -salam-

    …> Salam kenal dan trims telah berkunjung.

    Senang rasanya punya teman yg senang objek tertentu. Sebelumnya ada yg begitu senang dg hujan, dan kali ini senja

     
  2. Sawali Tuhusetya

    31 Maret 2008 at 01:21

    puisi ini mengingatkan saya pada puisinya Chairil, “Senja di Pelabuhan Kecil”. Wah, Pak Zul ternyata piawai juga bikin puisi, yak!

    …> Saat selesai menulis puisinya, saya tersadar, ada puisi Chairil yg juga bicara senja dan pelabuhan. Untunglah, puisi saya beda dg yg dibuat Chairil.

     
  3. artja

    31 Maret 2008 at 08:34

    jingga yang mengiris senja
    memberi batas pada kenyataan dan mimpi kita

    apakah mimpi harus selalu tak terbaca
    di keriangan hari-hari sibuk di pelabuhan
    seperti menelan kata-kata sendiri
    tanpa pernah ada yang ingin menyimak
    dan memberi percakapana panjang seperti biasa.

    …>Untuk urusan
    kata-kata indah, saya mesti kalah. Nyerah deh

     
  4. Oemar Bakrie

    1 April 2008 at 05:31

    Senja, memang indah …

    …> Apalagi ada unsur rasa dalam diri mendukung keindahan itu ya Pak.

     
  5. putirenobaiak

    3 April 2008 at 13:57

    ah senja
    kulihat wajahNya di jingga matahari
    aku terpana
    Dia cahaya
    aku maya
    hanya bemimpi

    eh gak nyambung ya da?

    ayo da bikin antologi bersama. baa caronyo?

    …> Lho, kirain sdh dirancang sebelumnya. Belum ya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: