RSS

Puisi Perjalanan

16 Mar

Hal yang paling menyenangkan dalam kegiatan saya sejak dulu adalah melakukan perjalanan yang melelahkan. Biasanya begitu mendapat honor tulisan dari surat kabar/majalah, atau ketika kejenuhan datang melanda, saya pun melakukan kegiatan avonturisme. Walau tidak seekstrim yang dilakukan Gola Gong dengan ‘Perjalanan Asia’-nya, namun pada saat-saat tertentu, saya rindu ingin kembali melakukannya.

Daerah yang sering saya kunjungi adalah pantai. Pantai dengan ombak dan riaknya selalu menumbuhkan inspirasi dalam menulis. Selain itu melakukan perjalanan dengan menumpang kendaraan (bus), akan melahirkan tulisan-tulisan yang kadang tidak terduga.

Kebanyakan tulisan yang saya tulis berbentuk puisi. Beberapa di antaranya berbentuk cerpen atau laporan. Namun suasana hati yang teramat kental lahir saat saya tulis dalam baris-baris puisi.

Di samping menyenangi kegiatan avonturisme, membaca cerita-cerita berbau petualangan adalah kesenangan saya. Saya bersyukur, saat di SD dulu pihak perpustakaan telah menyediakan buku-buku Karl May dalam serial yang banyak. Sangat menyenangkan membaca sambil membayangkan aktivitas tokohnya dalam berpetualang.

Di sisi lain, saya kadang dilanda rasa iri yang mungkin lebih bersifat positif. Saya kadang membayangkan seperti Gola Gong yang sukses dengan serial ‘Balada Si Roy’. Namun saat tersadar, ternyata saya masih di kamar, di depan mesin ketik. Itu sekitar tahun 80-an hingga 90-an.

Mengenang kembali perjalanan-perjalanan tersebut, kali ini saya poskan kembali puisi-puisi tersebut di blog ini. Semoga yang lain terinspirasi.

……………………….

Avonturir

mengukur-ukur jarak, kemanakah langkah kan berpijak?

ini adalah pengembaraan kesekian kali, nyanyian yang

menyekat kuat. menyusuri lorong asing

suara-suara sederhana dan wajah tanpa dosa

senantiasa meluruhkan gelisah dan penasaran

di kepergian yang tak menyelesaikan

 

mengukur-ukur jarak, melodi avonturir menyusup di hati

jadi cerita purba. perjalanan melelahkan

selalu saja mengubur masa lalu dituanya usia

“masihkah akan menemukan mawar yang lain

saat aromanya mengigilkan segenap kenangan?”

ujar suara yang mendera

 

mengukur-ukur jarak, menghitung-hitung umur

“masih jauhkah?”

entah tanya siapa. avonturir memanggil, tubuh

menggigil. keberangkatan berperang kesia-siaan

“kita berangkat di kelamnya malam

dan gulitanya perhentian?”

 

Padang, Agustus 1996

dsc00838.jpg

Perjalanan (1)

ketidakmengertian itulah yang sering membawa

kita kembali menafsir ruang dan curiga kata

ketika dalam perjalanan, detik jam tak lagi

sama kita jadikan pedoman

hari berlalu begitu saja, cuaca tak pernah bisa dipercaya

dan di simpangan itu, kau masih saja menggerutu

tentang darah yang menyerang segenap pembuluh dan aorta

tentang denyut nadi yang hilang seirama dendang

dan tentang kita

warna-warna telah mengaburkan arah dan lintasan peristiwa

–meski kita tahu, ada yang berubah

 

tiada lagi

mendung dan gelap telah sama kita pelihara

dan dendam; kita telah terjebak oleh permainan

yang kita ciptakan sendiri

“apa yang harus kita lakukan?” tanyamu

sementara gerimis telah membuat kita

menggigil dalam ketakutan yang panjang

 

:pantaskah itu kita dustakan?

 

Padang, November 1993

silenzio.jpg

Perjalanan (2)

sepertinya ada yang berubah; barangkali fatamorgana

ini adalah untuk kesekian kalinya kita bersapa dengan rasa asing

dan di hati, kita kembali bertanya perjalanan

entah kali keberapa, matahari tak lagi menerangi kamar-kamar

sementara mendung dan gerimis mengakukan dan membuat hati kian beku

senja yang menua, dan bunga yang tak sempat mengembang

telah membawa kita ke tahun-tahun sulit tanpa pergantian

“kapan kita memulai perjalanan baru?” sapamu

dalam udara bergetar

sementara harum rambutmu tak lagi membuatku rindu

–perjalanan yang menyebalkan

 

kita sama tahu, ada yang berubah

seperti ini negeri, kita tak lagi menemukan wajah dulu

kelembutan cahaya hanya tinggal bayang muram

di batas malam dan senjanya cakrawala

 

Padang, November 1993

 

 dsc00020.jpg

Perjalanan (3)

pernahkah kujanjikan senja kedua padamu?

padahal yang kutahu, mendung masih bergayut di kelopak langit

dan pada siang yang muram, sepanjang perjalanan hanya gerimis

sementara kita masih terdiam di kereta

mungkinkah ada mantel yang kau janjikan di binar matamu?

 

hari masih siang, kita mesti bersiap

travel bag sudah penuh, sementara kau masih membuihkan kata

dan dalam impian-impian semusim, mestinya kita bisa bahagia

namun selalu saja berulang, kita terasing dan tak tahu

harus berbuat apa

tapi kemana kan kau bawa

travel bag dengan muatan sayang yang sarat di dalamnya?

 

barangkali kita perlu berhenti, sejenak saja

kita telah melewati perjalanan sia-sia

tapi selalu saja, kekerasan-kekerasan hati membelenggu

:akankah mungkin masa lalu menjelma sebagai masa depan

yang menyenangkan?

 

meski kutahu, itu (selalu) menjadi anganan panjang

di antara derap dan harap yang mengendap

 

Padang, Desember 1994

Jakarta, Maret 1995

dsc00368.jpg

Perjalanan Lelaki

perjalanan lelaki adalah kesenyapan dalam kekerasan

mencari dan menanti makna yang tak kunjung tiba

“apa yang kau harap dari warna pelangi?” tanyamu

entah untuk keberapa. “mengapa pergi?”

entah tanya siapa; yang kembali mengenangkan

perjalanan sunyi pengembara

di antara sapa dan tatap lemah orang-orang

yang tak mampu menjawab: hidup? untuk apa!

 

perjalanan lelaki adalah kerinduan yang terempas

di jalan-jalan lengang tanpa nada cinta

mengalun dalam embun, membara di antara langkah

adakah hujan menggemuruh bila matahari

membakar beton pencakar langit?

adakah sungai mengalir tenang, bila batu-batu

selalu membenturkan tembok di antara harapan-harapan?

adakah laut tak bergelora, bila badai membidai

dalam gemuruh penggusuran dan proyek real estate?

 

perjalanan lelaki memang kesetiaan yang diruntuhkan

mencari dan memaknai di batas harapan dan teka-teki

Bekasi, Jul 1995

Pondok Gede, Agt 1995

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2008 in Puisi

 

Tag: ,

4 responses to “Puisi Perjalanan

  1. widari

    19 Maret 2008 at 14:08

    wah…suka jalan2 ya…
    Puisinya tentang perjalanan terus…

    salam kenal juga ya….

    😮 Paling senang jalan-jalan, Mbak. Tambah pengalaman, tambah pengetahuan.

     
  2. artja

    19 Maret 2008 at 14:58

    puisi-puisinya inspiratif. senang membacanya.
    salam kenal…

    …》:-o Syukurlah, bisa terinspirasi. Puisi uda Artja juga luar biasa.

     
  3. innaa

    29 Mei 2008 at 10:39

    klo d talun suka jalan jalan juga g..?
    kemana aja..?kangen nie ma talun….?
    klo boleh tau,bapak menetap di talun g?…klo ya dimana?
    bapak orang padang?,,,,padangnay mana?

    …> saya ngajar di talun persisnya smp 2 yg letaknya di pebukitan sengare.

    sementara ini saya tinggal di perum pisma kedungwuni. merantau dari padang sejak 1997 lalu

     
  4. Anonim

    7 Maret 2012 at 00:36

    gue salut dengan abang perjalan anda sangat lah seru

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: