RSS

Ujian Nasional, Milik Siapakah?

22 Feb

Kalau tidak ada aral, bulan April dan Mei 2008 ini siswa SMA/MA, SMK, dan SMP/MTs akan melaksanakan kegiatan Ujian Nasional (UN). Perhelatan akbar tingkat nasional itu tidak hanya memakan biaya yang besar, tapi juga mengakibatkan beberapa perangkat yang mengurusi sekolah memutar otak, bagaimana caranya agar siswanya lulus dengan hasil terbaik. Tidak mengherankan, siswa yang berada di kelas XII atau kelas IX menjadi anak-anak istimewa. Mereka sangat diperhatikan, jam belajar pun ditambah, pekerjaan/kegiatan bermain di rumah dikurangi. Intinya, semua komponen sekolah (guru dan kepala sekolah) ingin anak didik mereka lulus …. 100%….

dsc00358.jpg

Akan tetapi bagaimana dengan siswa sendiri? Perasaan dag-dig-dug, stres, tertekan, was-was, dan yang pasti lelah yang panjang mereka rasakan sehari-hari. Semakin dekat tanggal ujian, semakin berat perasaan itu mereka rasakan.

Sampai saat ini, UN tetap menjadi sesuatu yang kontradiktif. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Namun pemerintah tetap saja jalan. Berbagai demonstrasi terutama dari siswa yang tidak lulus, dianggap angin lalu. Malah dari tahun ke tahun terlihat upaya pemerintah untuk menaikkan kriteria kelulusan dan mata pelajaran yang diujikan. Yang parah tentu saja SMA, dari 3 mata pelajaran tahun lalu menjadi 6 mata pelajaran tahun ini.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya UN milik siapakah?

Pemerintah boleh saja berdalih, bahwa UN sangat perlu guna meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan ditingkatkannya rata-rata kelulusan dari 5,00 tahun lalu menjadi 5,25 tahun ini diharapkan siswa dan pihak sekolah lebih serius dalam menangani dunia pendidikan. Sesuatu yang ideal, tapi apakah sudah berjalan sesuai harapan?

Adanya UN membuat pihak sekolah mengeluarkan berbagai kebijakan. Siswa kelas terakhir harus mengikuti jam tambahan. Pihak sekolah melalui komite sekolah memanggil orang tua, rapat. Hasilnya orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra guna mengelesi anaknya pada sekolah. Pihak guru yang seharusnya sudah beristirahat di rumah harus mempertajam kemampuan siswa lewat latihan-latihan soal. Di pojok sana, mbok Nem boleh tersenyum senang, karena anak-anak banyak yang jajan di warungnya. Tempat foto kopi kerja keras mencetak lembar-lembar soal latihan. Penerbit tersenyum girang saat bukunya dipakai untuk kegiatan tambahan jam pelajaran. Di luar sana, beberapa lembaga kursus juga meraup keuntungan dari kegiatan yang jelas sangat erat kaitannya dengan UN?

Lalu UN milik siapa?

Saat UN berlangsung, kita tetap saja mendengar kecurangan-kecurangan terjadi. Kebijakan sekolah yang mungkin jauh dari bijak terjadi di mana-mana. Tim sukses atau apa pun namanya, melakukan berbagai tips dan trik. Walau sudah ada tim independen, semua bisa diatur. Pengawas ujian? Ah, soal gampanglah….

Jadi dengan tetap berlangsungnya UN hingga kini, kita tidak pernah bisa memahami, terutama kebijakan yang diambil pemerintah dan sekolah: sudahkah berjalan sesuai harapan? Kalaulah gambaran seperti di atas, UN milik siapa?

Seharusnya UN milik siswa. Tapi dari realitas yang ada saya tidak terlalu yakin kalau UN sudah menjadi milik siswa. Yang pasti, mungkin 80% atau lebih kalau siswa ditanyakan akan menjawab, bahwa UN bukan milik mereka tapi menjadi beban yang membuat pusing kepala.

Benar kan?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Februari 2008 in Diari

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: