RSS

Tempat yang Sejuk dan Tenang

12 Feb

TEMPAT YANG SEJUK DAN TENANG

Cerita Pendek: Zulmasri

____________________________________________________________________

LAKI-LAKI itu pulang dalam keadaan mabuk. Ia sempoyongan berjalan. Dari mulutnya terdengar nyanyian kacau. Bau minuman keras menyengat di sepanjang jalan yang ia lalui.

Hari telah larut malam. Tidak banyak yang lalu lalang di jalanan. Yang melintasi jalanan itu pada umumnya membawa persoalan sendiri-sendiri, di samping tingkah laku yang tersendiri pula. Ada yang juga mabuk, seperti lelaki itu. Ada yang normal, berjalan pelan atau tergesa-gesa. Ada pula yang jalan tidak tentu tujuan, sekadar menghabiskan malam. Memang, kota itu tak pernah sepi, walau malam telah merambat jauh.

Laki-laki yang pulang dengan keaadaan mabuk itu akhirnya terkapar di pinggir parit, setelah terlebih dahulu terperosok jatuh. Tubuhnya menggelinding sebentar, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Tidak ada yang memperhatikannya. Mereka yang kebetulan lewat dan melihat pun berlagak acuh tak acuh.

Masih hidupkah ia ?

Tak ada yang mempersoalkannya. Namun ketika tubuhnya benar-benar kaku dan tidak bernyawa keesokan harinya, barulah seluruh penghuni kota itu gempar.

“Ada orang mati di selokan,” kata sebuah suara.

“Ya, ada orang mati. Kabarnya penduduk kota ini,” ujar suara yang lain.

“Ia laki-laki yang suka mabuk,” timpal yang lainnya.

“Tapi kabarnya ia seorang yang amat berjasa terhadap kota ini,” balas suara yang lainnya lagi.

Pagi itu seluruh kota memang gempar. Kesedihan terpancar dari setiap wajah. Warna kota yang biasanya cerah berubah muram. Angin bertiup lembut. Cahaya matahari memancar aneh dan redup. Awan hitam berarak bergumpal-gumpal di atas langit.

Di bar, tempat lelaki itu biasa minum, juga dipenuhi warga. Mereka ingin tahu bagaimana kisah laki-laki itu pada malam terakhir ia mabuk hingga meninggalnya. Pemilik bar – seorang laki-laki setengah tua – terlihat letih dan agak gusar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datangnya bertubi-tubi. Entah sudah berapa kali ia mengulang cerita yang sama kepada pengunjung yang datang silih berganti.

Selain letih dan gusar dengan pertanyaan-pertanyaan para pengunjung, pemilik bar itu juga teringat dengan hutang laki-laki pemabuk itu. Ia tahu persis, berapa jumlah hutangnya, lantaran lelaki pemilik bar itu sendirilah yang biasanya melayani laki-laki tersebut.

Akan tetapi, laki-laki pemabuk itu telah meninggal sekarang.

Dan sepertinya pula, lelaki pemilik bar itu merelakan hutang dari laki-laki pemabuk tersebut.

Walikota sendiri yang memimpin upacara kematian pada siang itu. Ia menyatakan bahwa hari itu adalah hari berkabung bagi seluruh kawasan kota yang ia pimpin. Kepada para penduduk diperintahkan untuk menaikkan bendera setengah tiang.

Jalan-jalan yang biasanya bising oleh arus kendaraan lalu lintas, pada hari itu tidak terlihat satu pun. Seluruh warga kota tumpah ruah menuju rumah almarhum. Karangan bunga dan ucapan belasungkawa berdatangan dari berbagai penjuru. Dengan kesedihan luar biasa, akhirnya almarhum dibawa ke rumah kediaman walikota, yang halamannya cukup luas dan bisa menampung banyak orang.

Warga kota yang tadinya tumpah ruah ke rumah almarhum, bergerak mengerumuni ruangan dan halaman kediaman walikota. Suara tahlilan terdengar di sana-sini. Suara bisik-bisik pun bercampur aduk dengan pembicaraan sekitar almarhum semasa dia hidup. Mereka kembali mengenang almarhum dengan segala sepak terjangnya terhadap kota. Mereka kembali membicarakan jasa-jasa almarhum terhadap kota yang sekarang berdiri megah.

Semua warga kota memang larut dengan kesedihan itu. Seorang hero telah berpulang. Seorang yang dengan gagah beraninya berhasil menghalau musuh dengan ketelatenannya memimpin pasukan. Seorang yang kemudian menjadi konsepsioner dalam menata dan membangun kota hingga semegah sekarang.

Hanya ada dua orang saja yang tak ikut larut dengan suasana duka itu. Seorang kakek dan seorang nenek yang rumahnya persis berada di samping rumah almarhum. Mereka hanya tinggal di rumah, tidak ikut-ikutan bergabung, sambil mengintip suasana yang sedang berlangsung.

“Akhirnya ia pergi juga,” kata si kakek.

“Ya,” ujar si nenek pula. “Akhirnya ia meninggalkan kita.”

“Itu sangat baik bagi ketentraman kita, karena mulai hari ini tak akan ada lagi suara gaduh antara kita dan dia.”

“Juga tak akan ada lagi suara-suara kacau yang keluar dari mulutnya.”

“Termasuk nyanyian-nyanyian yang tak teratur ketika ia mabuk.”

“Ya. Juga bantingan pintu di tengah malam buta.”

“Dan jangan lupa hutang-hutangnya pada kita.”

“Benar. Hutang-hutangnya sangat banyak pada kita.”

“Kita harus menuntutnya.”

“Ya. Kita harus menuntutnya.”

Sekelompok orang melintasi jalan di depan rumah kakek nenek itu sambil membawa keranda. Keduanya mengintip dari lubang angin. Pintu dan jendela rumah mereka memang tidak terbuka.

“Aku jadi iri,” kata si kakek.

“Mengapa iri ? Bukankah harus disyukuri, bahwa tak akan ada lagi yang mengganggu kita….”

“ Itu benar. Tapi melihat upacara kematiannya yang meriah….”

“Ah, ia memang pantas untuk itu.”

“Karena jasa-jasanya ?”

“Betul. Karena jasa-jasanya. Tidak tertutup kemungkinan, ia akan diangkat menjadi pahlawan.”

“Mungkin juga. Ia memang seorang yang gagah berani, komandan yang tak takut sedikit pun pada musuh yang ada di depannya, seorang konseptor dalam tata letak kota. Pokoknya, ia benar-benar seorang yang ahli. Arsitek.”

“Hanya sayang, ia seorang pemabuk.”

“Walau pemabuk, tak akan mampu menutupi dirinya menjadi seorang pahlawan.”

“Barangkali. Tapi aneh juga….”

“Aneh ? Apanya yang aneh ?”

“Ia itu. Laki-laki itu baru dihargai justru ketika ia telah meninggal. Padahal semasa hidup, ia tidak diacuhkan orang.”

“Ya. Mungkin itu sudah sifat kita, manusia.”

“Tapi menurutku, ia lebih baik daripada dirimu….”

Si kakek memandang ke arah si nenek yang kelepasan omongan. Tiba-tiba si nenek tersadar, tapi tak berusaha minta maaf.

“Kau masih ingin mengajakku bertengkar ?” ujar si kakek tajam.

“Aku hanya bicara kenyataan. Bayangkan saja, ia begitu jagonya di medan perang. Setelah negeri kita merdeka, dari kepalanya mengalir ide-ide cemerlang. Bukankah itu namanya hebat ? Jelas sekali berbeda jauh dengan dirimu bukan ?”

“Cukup ! Rupanya kau benar-benar mengajakku untuk bertengkar. Dasar perempuan sial !”

“Kau jangan mengejekku seperti itu ! Aku bicara kenyataan. Aku bicara sesuai dengan fakta. Lihat, ketika keluarganya dibantai habis, ia balik membantai. Bukankah itu jantan ? Bukankah berbeda denganmu yang justru lari terbirit-birit melihat musuh ?”

“Cukup !” teriak si kakek sambil menampar mulut si nenek. Emosinya benar-benar tak dapat tertahankan lagi. Keduanya bertengkar hebat. Bergumul habis-habisan. Hingga akhirnya si kakek berhasil mencekik si nenek hingga mati.

Si nenek benar-benar mati. Meninggal.

Sosok mayat yang mengenaskan. Penuh luka dan darah. Tubuh yang penuh bilur-bilur biru.

Sesaat kemudian, si kakek baru tersadar. Emosinya perlahan mereda. Si nenek, perempuan yang telah mendampinginya selama ini tak bernapas lagi. Si kakek pun menangis. Meratap secara tertahan.

Di rumah walikota, upacara terus berlangsung. Tak ada yang memperhatikan suara ratapan si kakek yang telah mencekik sendiri istrinya.

Hanya saja, seminggu kemudian orang-orang kembali gempar. Bau busuk yang teramat sangat menjadikan perhatian warga tertuju pada rumah tersebut. Beberapa warga kota menerobos masuk dengan menggunakan masker. Kota menjadi amat gempar dengan dua sosok mayat yang ditemukan dalam rumah.

Seorang perempuan tua terkapar di lantai dengan tubuh membusuk, dan seorang laki-laki tua tergantung pada seutas tali.

****

TIDAK lama kemudian, di sekitar rumah tempat tinggal pemabuk dan rumah kakek nenek yang cukup luas itu dibangun sebuah taman. Rumah yang ada dirobohkan, diganti berbagai tanaman dan bunga yang indah-indah. Ramai tempat itu pada sore hari-hari libur.

Dan memang demikian adanya. Karena tempat itu sejuk dan tenang.

Pekalongan, 2007

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Cerpen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: