RSS

Puisi

12 Feb

 

Pagi di Sarga (1)

 

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po semalam mengalun dalam embun

berbaur bansi dan setangkai mawar

yang dititipkan di gemericik air kaki gunung

menambah mimpi resah dan gelisah

 

 

pada usia yang kian menua

kuterhenti di sarga

harum rambutnya membingkai hari-hari

dalam igauan dan rutinitas sunyi

:adakah yang tersisa dari hujan dan gerimis

selain amis dan tangis ?

 

 

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po berbaur hujan di petak-petak sawah

membawa tiga anak kecil – eka, veni, ica

berpantun akan kota yang berubah

menyandang tas, berangkat ke sekolah

 

 

pagi itu kutiba di sarga

:kubakar li-po dan membayangkan syair berdarah di cina

 

 

Pekalongan, 2003

 

*) li-po: penyair Cina klasik

 

 

 

Pagi di Sarga (2)

menyusun kata, menyerap makna menguap

kita bingkai cerita dan kisah menyebalkan

di ujung mimpi dan sepi. kubangun kembali

istana diri pada rasa percaya yang pernah raib

 

 

dan pagi ini

kukenang perjalanan dari sarga ke padang panjang

kubayangkan persinggahan hamka sejak dari sungai batang

kuingat lagi dirimu: gadis baju kurung dan selendang

bertutur cerita warisan perantau

yang enggan berbagi lahan garapan

 

 

pagi di sarga dengan perjalanan lelah

kujelang usia di diri yang kerap gelisah

 

 

Pekalongan, 2003

 

 

 

Pagi di Sarga (3)

melepas penat di kelelahan memberat

subuh menyapa lewat tetesan embun di lengang fajar

ada dedaunan gugur – berserakan; ada genangan air

di halaman. sisa hujan semalam meluruhkan dendam

di wanginya pagi

 

 

masih remang; cahaya enggan memintal duka

di keriuhan burung-burung. pesta semalam

hanya meninggalkan lelah panjang

di mabuk pikiran. sementara hidup menjadi permainan

yang berakhir di ujung belati

 

 

di sarga masih teramat pagi

kubunuh dendam di belantara masa lalu

dengan langkah lelah mengaji

ke kota santri

 

Pekalongan, 2003

 

*) Sarga = Sarang Gagak (sebuah kampung di kawasan kelurahan Andalas Padang)

 

 

 

Kurindukan Sarga di Pagi Hari

mengenangmu lagi di gerimis musim ini

adalah keindahan yang lena di ruang sunyi

ketika lelap kita tanpa jaga

ketika mimpi berbuah kenangan

kucumbui angan di riangnya suasana

 

 

kalau saja kau tuliskan cerita

dan berkisah sarang burung tempua

tentulah kurindu kepulangan

ke sarga di pagi hari

melenakan diri di lelahnya pelangi

 

 

kurindukan sarga di pagi hari

saat eka dan ica berangkat sekolah

saat veni bernyanyi rerumputan padi

akankah sunyi bercerita lagi

ketika kau tahu kisah yang lain

dari diri yang terjepit beton dan tiang yang tinggi?

 

 

kurindukan sarga di pagi hari

saat kupulang kerja dan jam memalu lima kali

cerita semalam telah menjadi headline

dan membangunkanmu dari kekacauan yang terjadi

 

 

di hari ini kurindukan lagi

ke sarga di pagi subuh

ketika kota yang kusinggah dilanda rusuh

 

Jakarta, Des 1996-Feb 1997

 

 

 

Kemarau Musim Ini

:dh

 

ada yang berubah saat tatapmu hinggap

di tingkap mata. kenangan masa lalu

mengambang di perjalanan harap

tentang kemarau musim ini. masih mungkinkah

kumiliki sepasang pipit di cerah senyummnu ?

 

 

kadang kubermimpi persinggahan kota-kota

dalam kelatnya kenyataan. harapan yang

hilang dan cita-cita yang lenyap

berlalu di palutan senja

namun selalu saja wajahmu menyapa

di riuhnya suasana

 

 

november yang kering, wajah kota hilang

di antara debu dan asap. teramat panas

bumi yang kujalani di kesendirian harap

meluruhkan daun-daun sepanjang senja

sementara rangkaian peristiwa

telah kehilangan makna aslinya

 

:adakah mungkin tersisa satu ruang

tuk kuselami di iring langkahmu ?

 

Pekalongan, Nov 1997

 

 

 

Catatan yang Tak Pernah Selesai

dan akhirnya adalah kejenuhan

rutinitas kerja yang itu ke itu saja

(sementara kau masih bertanya tentang tangis

tentang hujan, embun, dan cahaya bulan di riak danau)

meski kau tahu

hari-hari begitu banyak berubah

 

 

tak pernah kubermimpi dan berharap darimu

meski kumengerti, kau bukan yang dulu

polusi membuatmu mabuk, dan jam hanyalah

detakan waktu yang tak pernah selesai

(masihkah kau setia menyimpan surat-surat

yang pernah kukirimkan?)

walau kutahu, kau tak pernah butuh itu

 

 

menjalani hari-hari panjang, tak pernah

kuingin damba yang muluk

tentang cinta atau rumah tangga yang

kelak kita bangun

sebab kita percaya cuaca

yang senantiasa berubah

dan di antara kenyataan yang kita temukan

tiada satu pun yang dapat mengobati luka

di sepanjang rasa jenuh dari rutinitas kerja

 

 

Sungai Limau, Feb 1994

 

 

Dalam Malam Cahaya Lampu Kota

kaca-kaca buram etalase yang menampar penglihatan

kembali merawankan hati ke ujung mimpi, ika

di swalayan yang kukunjungi

barang-barang tak lebih dari permainan harga-harga

label-label dan merk-merk di atas pajangan

dan pencatatan discount di kassa

 

 

kau tahu hidup ini apa, ika

ketika kutahu kemerahan bibirmu

menggumpal dalam sapuan lipstick

mengimpikan setiap lelaki petualang

mengembara dalam cumbuan daun-daun

dan tiupan angin senja di sebuah kota

 

 

pada perjumpaan di swalayan tanpa rencana

harga-harga bermain dengan senyum, ika

bibirmu memerahi kerawanan hati

di pajangan barang-barang dan kassa

:masihkah peluk dan ciuman itu berarti

ketika kerinduan mesti berbagi

dengan rutinitas yang membuahkan sepi?

masihkah kita bicara kafe dan plasa

di antara rasa lelah di kepulangan kerja

pada larut yang mengintip segala gelisah?

entahlah, ika. di ketersisaan cahaya lampu kota

selalu kujadi penyair tersia

 

 

Sungai Limau, 1995

 

 

Di Suatu Pagi

pertama kudatang, tanah ini masih

menyisakan keharuman tubuh perempuan

di tempat-tempat pemandian

di sungai kecil

yang masih saja mengalirkan bening

air sepanjang peradaban

 

 

pertama kudatang dan menetap

simpang ini masih sepi

masih bias menghitungh dua tiga teriakan

dan deru lalu lalang

di bebatuan berserakan sepanjang perjalanan

 

 

dan ini pagi, tiada lagi sepi

kecuali tebaran asap dari kota mati

meninggalkan kesunyian seorang pengembara

pada beton dan tiang-tiang sepanjang jalan

serta tak lagi menyisakan nyanyian pagi

dan wanginya tubuh perempuan

sebab sungai di belakng telah kering

bercampur amis dan tubuh-tubuh

tanpa nyawa

 

 

Padang, 1991-1994

 

 

 

Izinkan Kuistirah di Hatimu

izinkan kuistirah di hatimu

ketika lelahku bermain angan

perjalanan semestinya tak lagi impian

kota-kota telah meninggalkan catatan asing

di cuaca yang muram

masa berlalu seiring desau angin yang menderu

 

 

izinkan kuistirah di hatimu

dalam relung sunyinya kamar

sebab kebeningan selalu menyertai

setiap denyut nafas yang merindui

 

 

izinkan kuistirah di hatimu

mencari damai yang tak bermakna ganda

di guguran daun dan patahan ranting

kucumbui angan yang lama terpisah

 

 

izinkan kuistirah di hatimu

merajut merahnya benang hati

 

 

Pekalongan, Juli 1997

Padang, Agustus 1997

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Puisi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: