RSS

Pembunuhan di Pagi Buta

12 Feb

PEMBUNUHAN DI PAGI BUTA

Cerpen: Zulmasri

“AKU bunuh Kau!” teriaknya lantang. “Dengar! Sekali lagi dengar! Kau akan kubunuh!”

Suaranya bergema ke segenap arah di kamarku yang tak terlalu lebar. Ancamannya disertai pedang panjang yang mirip samurai, telah meluruhkan keinginanku untuk melabraknya dengan kata-kata. Bahkan sekarang justru sebaliknya yang terjadi. Nyaliku ciut dan ada rasa gentar yang muncul tiba-tiba.

Tetap saja aku berada di tempat tidur. Memandang tanpa kedip pada pedang dan dirinya yang tegak menantang dalam remang lampu lima watt. Masih terlalu pagi, karena kalau seperti hari biasanya, aku masih ngorok dan bercanda lewat mimpi-mimpi.

Tapi tendangannya tadi pada pintu benar-benar telah mencampakkan jauh-jauh rasa pulasku. Sebagai gantinya, mataku membelalak lebar dan mulutku menganga kaget bercampur heran dan takut. Apalagi mendengar kata-katanya yang benar-benar mengancam. Aku mengejat ketakutan. Keinginan untuk melabraknya – karena telah mengganggu tidur sekaligus hak asasiku – pupus seketika, karena justru ia-lah yang datang dengan berondongan labrakan sekaligus ancaman.

“Kau masih tetap berdiam di situ? Kau tak berusaha lari? Bagus! Bagus! Dengan begitu, aku lebih mudah membunuhmu! Membunuhmu!”

Suaranya kembali bergema. Apalagi setelah itu ia tertawa. Tawa yang tentu saja jelek bila situasinya normal. Tapi mana mungkin aku balik tertawa mendengar suaranya dalam keadaan tegang begini. Andai saja yang menginap di rumah ini ada orang lain selain aku, tentu akan lain suasananya. Andai saja ada rumah tetangga yang begitu rapat dengan tempat tinggalku, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Setidaknya aku aku tak perlu setakut ini, karena sebagaimana biasa aku selalu tenang dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan.

Tapi sekarang, mengapa aku begitu ketakutan? Apakah karena kilatan pedangnya yang datang dari pantulan cahaya lampu lima watt itu? Ataukah karena kesunyian yang amat mendera di sekelilingku? Tiba-tiba kusadari apa yang telah terjadi selama ini. Ketabahan dan ketenangan yang ada padaku dalam menghadapi setiap persoalan – dengan tanpa gentar sedikit pun – tak lain lantaran aku berada di antara orang banyak. Aku berani dan menggebu-gebu mempertaruhkan nyawa. Entah kenapa, sekali pun ada yang mengancamku dengan pisau terhunus di leher, aku tak pernah takut. Selalu kupatahkan keinginan hati orang yang mengancamku itu dengan kata-kata lembut namun menusuk. Dan biasanya, orang yang mengancamku itu selalu mundur dan mohon dimaafkan.

Tapi sekarang, sanggupkah aku mengatasinya dalam kesendirian begini? Dalam kesendirian dan sunyi yang sebentar-sebentar bergaung, mampukah aku seperti biasa menundukkannya?

Rasanya sulit. Menghentikan debaran gentar saja aku tak berani. Apalagi mesti membuka mulutku yang sepertinya terkunci dengan sangat rapat.Benar-benar aku dibuat kalut.

Ia melangkah kemudian ke arahku. Dua langkah saja. Tawanya yang jelek itu sudah lama berhenti. Sebagai gantinya, ia mempelototiku habis-habisan. Sorotan matanya yang merah terlihat samar. Kerut mukanya yang keras mengingatkanku pada seorang bintang film yang sering memerankan adegan-adegan sadis. Ditambah lagi dengan rambutnya yang awut-awutan dan pakaiannya yang dikenakan serampangan. Semua itu meninggalkan kesan padaku: angker!

Akankah aku dibunuhnya? Dari kata-katanya yang bernada ancaman, jelas itu bukan gombalan belaka. Dan bila itu benar-benar terjadi, apa yang mesti kuperbuat?

Dalam kalut dan sendiri begini, aku teringat segalanya. Keluarga, teman-teman, pacarku, pekerjaan, tingkah laku dan segala tindakan yang telah aku lakukan. Semua membayang dan membaur. Semuanya pun seakan ikut memojokkan. Dan itu kian menambah kekalutan yang ada di dada.

Sejenak kemudian, ruangan kamarku kembali bergalau oleh tawanya. Tawa yang jelek, tapi menakutkan. Dan tawanya itu kian meninggi dan meninggi. Sampai akhirnya ia diam kembali.

“Nikmatilah hidupmu yang hanya tinggal sesaat,” ujarnya pelan, namun tegas. “Karena sebentar lagi, pedang ini akan menghirup darah segarmu.”

Ia diam lagi. Namun hanya sesaat.

“Dan sebelum pedang ini menghirup darahmu, ada baiknya kujelaskan lebih dulu, kenapa pedang ini menginginkan dirimu.”

Ia berhenti lagi bicara. Kemudian melangkah satu langkah.

Pedangku ini menginginkan darahmu disebabkan tindakan yang telah kamu lakukan. Nah, sebelumnya Kau kuberi waktu untuk mengingat apa saja yang telah Kau perbuat, sehingga aku terpaksa membangunkanmu di pagi buta begini, hanya sekedar menjemput nyawamu….”

Ia kembali tertawa.

Dan aku sibuk mengingat apa yang telah aku perbuat, terutama tingkah laku dan tindakan yang telah aku lakukan. Rasanya wajar-wajar saja. Tak ada yang istimewa.

Memang harus kuakui, bahwa pekerjaanku sebagai wartawan senantiasa bergulat dengan berbagai permasalahan. Mulai dari dunia politik, pemerintahan, persoalan kemasyarakatan, persoalan korupsi, dan sebagainya. Bahkan pernah beberapa kali aku menulis tentang penyunatan uang yang datang dari pemerintah pusat ke daerah-daerah, di tengah jalan dipotong-potong dulu. Juga tentang bantuan kemalangan akibat longsor yang terjadi di sebuah daerah, tak sampai di tangan yang seharusnya menerima. Atau tentang kongkolikong para pejabat dalam menetapkan siapa pimpinan pemerintahan suatu daerah, yakni dengan sistem rekayasa. Pokoknya segala yang aku anggap tak wajar dan menyimpang. Itu kutulis dengan bahasa khas, dan sedikit berbau feature. Dan ternyata pimpinan redaksi memuji hasil kerjaku.

Lalu di antara sekian banyak liputanku, adakah salah satunya? Adakah berita yang kutulis berakibat pada ancaman pembunuhan terhadapku?

“Sudah bisakah Kau ingat apa tindakanmu yang merugikan dirimu sendiri?”

Suaranya bergema kembali di ruang kamarku. Suara yang dingin dan menusuk. Dengan segala keberanian yang aku punya, kugelengkan kepala.

“Goblok! Kau benar-benar goblok! Pantas…. Pantas Kau bisa berbuat seperti itu, bila mengingat kesalahan sendiri saja tidak becus!” makinya.

Aku tak menjawab.

“Ingatkah tulisan jelekmu tentang Pak RC? Kau ingatkah fitnah yang Kau sebarkan tentang perbuatannya? Kau ingat?”

Aku mengangguk-angguk kecil. Baru jelas apa tindakanku yang menurutnya salah. Dengan cepat aku melakukan analisis. Sudah tentu, ya, orang yang mengancamku ini anak buah Pak RC. Atau mungkin pembunuh bayaran yang disuruh Pak RC untuk menghabisi nyawaku.

Aku jadi membayangkan Pak RC, seorang direktur sebuah bank terkenal di kota ini. Kesalahan yang dibuatnya sungguh tak dapat kumaafkan. Naluri jurnalisku segera bekerja. Bahan-bahan yang kubutuhkan atas korupsi yang dilakukannya dengan mudah dapat kukumpulkan. Apalagi banyak kawan-kawanku yang membantu. Dalam hal ini termasuk teman dekatku, Karin, yang menjadi sekretarisnya. Selama hampir satu minggu beritanya menjadi headline pada surat kabar tempat aku bekerja. Untuk itu, pimpinan redaksi pun mempercayakan aku sebagai ketua tim peliputnya.

Tentu aku tak akan sebegitu gencarnya, bahkan boleh dikatakan sangat kejam menginformasikan kejelekan-kejelekan yang telah diperbuat Pak RC, seandainya Karin, gadis yang telah lama kutaksir, tak ikut dilibatkannya lebih jauh. Namun kenyataan saat Pak RC yang telah beristri itu mencoba menggoda Karin, telah mengubahku menjadi banteng liar. Kutelanjangi diri Pak RC sampai pada hal sekecil-kecilnya. Dalam hal ini, memang nama Karin termasuk kulindungi. Biarlah. Karena bagaimana pun aku tetap menyayanginya. Walau sejak kejadian memalukan itu aku dan Karin seolah ada jarak. Biarlah. Kupikir Karin sendiri telah menerima beban mental akibat perbuatannya yang tak semestinya dilakukan, berduaan di kamar hotel dengan Pak RC saat ada penggerebekan petugas kepolisian.

Suara deheman membuyarkan lamunanku. Kupandangi orang suruhan Pak RC yang berniat membunuhku itu.

“Rasanya sudah cukup aku memberi waktu!” katanya dingin. “Sekarang, bersiaplah untuk mati!”

Perlahan ia melangkah mendekati tempat tidurku. Aku mencoba bangkit, tapi lututku terasa goyah. Akhirnya aku hanya bisa beringsut mundur, sampai di sudut tempat tidur.

Tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Keadaan benar-benar tak menguntungkan. Menyesal aku, mengapa dulu tak belajar ilmu bela diri. Kini, ya , pembunuh itu kian mendekat dan mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Di luar masih gelap. Ada angin melintas di pintu yang tadi didobrak. Dari jauh terdengar kokok ayam jantan.

Dengan teriakan panjang, pembunuh itu menyabetkan pedangnya. Sebisanya aku usahakan mengelak dalam gigil ketakutan. Tapi pembunuh itu benar-benar buas. Mungkin hanya sampai di sini ajalku. Malaikat pencabut nyawa seperti menari-nari dalam pejaman mataku.

Dan sesaat aku merasakan cairan. Darah. Darah mengalir di tempat tidur, membasahi wajah dan pakaianku. Rasanya, aku seperti berhenti bernapas.

Tapi aku masih bisa menginat, ada suara tembakan kecil sebelumnya. Juga suara tubuh jatuh dan gemerincing suara pedang.

Dan kemudian ada suara memanggil namaku. Suara malaikatkah? Tapi, itu suara perempuan. Seperti suara Karin. Hah? Ilusikah ini?

Tapi aku sendiri, masih hidupkah? Lalu darah itu….

(Sesaat bau amis itu membuatku muntah dan menggelapkan pandangan).

Pekalongan, 2007

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2008 in Cerpen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: