RSS

Arsip Kategori: Puisi

Ketika Kata-kata Kehilangan Makna

masihkah kau dengar lirih nyanyian burung di pagi hari?
saat kita kehilangan makna dalam menangkap pesan
kicau yang kita dengar, suara-suara menggelepar dalam tarikan napas
tak jelas dan tanpa memiliki isyarat

masihkah kau resapi tetesan embun di pagi buta?
saat subuh membangunkan kantuk
cerita semalam, pidato-pidato melenakan
hilang tanpa roh dan kenyataan

ketika kata-kata kehilangan makna
alangkah ngerinya suasana yang tercipta
pada saat kampanye, pada saat pilkada
semua kata berbumbu bunga
namun kini, entah dimana aromanya berada

masihkah engkau akan setia membangunkanku di setiap subuh?
kita banting segala mimpi, kita hantam semua janji yang pernah kita dengar
lalu kita lafazkan ayat-ayat rahmah
kita alunkan kicau damai ke seluruh dunia
dan kita sujud dan zikir di keheningan semesta

 
16 Comments

Posted by pada 17 November 2011 in Puisi

 

Kaitkata:

Di Ruang Sujud-Mu

di ruang sujud-Mu, debu-debu berkisar dalam seteru
pikiran menyatu dalam harap, titik noktah mengambang
dalam terawang
adakah titik cahaya bersanding
dengan rindu dan urai air mata?

kembali ke ruang sujud-Mu, suara-suara menghilang dan luruh
kesombongan telah menghancurkan segala harap nan pengap
kukembali dalam kesendirian dan ketersiaan
masihkah pintu-Mu membuka, saat kutergeragap dalam luka?

di ruang sujud-Mu, dingin subuh tak lagi mampu menyejukkan
bara api begitu berlumut di hati
tak ada yang salah, tak ada sesal diperhamba
kecuali diri yang rapuh dalam setiap langkah

ya Rabb-ku
pongah dan sembongku sudah menggerogoti diri
masihkah pintu tobat-Mu membuka
saat kurapuh dalam pinta nan renta?

 

 

 
12 Comments

Posted by pada 13 September 2011 in Puisi

 

Kaitkata: , ,

Dalam Kilau Cahaya Senja

dalam kilau cahaya senja
pandang mengabur seiring noktah
ada kepak elang di antara peluit kereta
mengabarkan geliat kota nan gelisah

dalam kilau cahaya senja
kabut turun melingkup dedaunan teh
langkah kecil tertatih mendaki
pulang merindu di antara letihnya kaki

dalam kilau cahaya senja
masih tersisa catatan duka
di antara mendung dan pijar memerah
menebarkan bau tanah dan pupur murah

dalam kilau cahaya senja
kupulang di hujan yang bersela

 
13 Comments

Posted by pada 12 Agustus 2011 in Puisi

 

Kaitkata: ,

Sungei Wang

sudah kau hapalkan nama itu baik-baik?
juga jangan lupa: jalan-jalan, gedung-gedung, etalase
dengan aneka barang, restoran, dan bank-bank pasar sungei wang
jangan pernah lupa, karena kita pernah singgah di sana
berbelanja dan mabuk dalam pesona
yang tak pernah kita mengerti, apa maknanya

sebentar, tunggu dulu
kita belum selesai bicara
aku tahu, wajahmu telah beku
di atas taksi yang membelah kualalumpur, ada nyanyi minang
bukankah kau selalu memintaku lagukan itu?
tapi sayang, kau malah menangis

kita pulang setelah mengitari pasar sungei wang
tanpa bicara. mungkin kau benar-benar sedih
perpisahan mengambang di matamu
“jangan pernah lupa pasar sungei wang
dan kualalumpur,” bisikmu
sesaat sebelum lambai terakhir

di pasar sungei wang dengan beribu kenangan
dan kerlip lampu; aku tahu, sayang itu merangkak tumbuh
(seseorang yang selalu bercerita tentang sedih
dan air mata. seseorang yang berharap
dalam bibir basah)

:x , maafkan aku!

Foto-foto: dari berbagai sumber

 
10 Comments

Posted by pada 3 Juli 2011 in Puisi

 

Kaitkata: ,

Jalan ke Rumah-Mu

jalan ke rumah-Mu ya Rabb
sungguh berliku dalam anyaman waktu
kerikil-kerikil dan bebatu cadas
mengintai dalam segala tipu

kuingin pulang dalam keriangan warna
dan dalam tobat ampunku di malam buta
empaskan beban dalam kelatnya napas
yang mencengkeram dalam nafsu yang sesat

:ya Rabb, adakah pintu-Mu membuka
saat kurindu akan warta makna?

 

bila suatu kali kuharus lalui
jalan terjal ke rumah-Mu abadi
permudahlah setiap ayun langkah
dalam kepenatan yang menyiksa

 
4 Comments

Posted by pada 28 Juni 2011 in Puisi

 

Kaitkata: ,

Pembicaraan 1

aku telah katakan
tentang kupu-kupu
di barisan alismu

dalam malam-malam sunyi
di sudut kamar
beterbangan kupu-kupu
kembali
di kerjap rindumu

firdaus yang bernyanyi riang
memanggilmu pulang

 
Leave a comment

Posted by pada 14 Maret 2011 in Puisi

 

Ketika Kata-kata Kehilangan Makna

masihkah kau dengar lirih nyanyian burung di pagi hari?

saat kita kehilangan makna dalam menangkap pesan

kicau yang kita dengar, suara-suara menggelepar dalam tarikan napas

tak jelas dan tanpa memiliki isyarat

 

masihkah kau resapi tetesan embun di pagi buta?

saat subuh membangunkan kantuk

cerita semalam, pidato-pidato melenakan

hilang tanpa roh dan kenyataan

 

ketika kata-kata kehilangan makna

alangkah ngerinya suasana yang tercipta

pada saat kampanye, pada saat pilkada

semua kata berbumbu bunga

namun kini, entah dimana aromanya berada

 

masihkah engkau akan setia membangunkanku di setiap subuh?

kita banting segala mimpi, kita hantam semua janji yang pernah kita dengar

lalu kita lafazkan ayat-ayat rahmah

kita alunkan kicau damai ke seluruh dunia

dan kita sujud dan zikir di keheningan semesta

 

gambar di ambil di sini

 
6 Comments

Posted by pada 5 Desember 2010 in Puisi

 

Merapi

memandang lereng merahmu

menyala membelah gelap malam

bagai permadani terang

duduk diam terkesima

dibelai angin

jiwa lirih tergetar

 

masih terus membayang

gemuruh bersahutan

lembah hijau terusik

ribu doa terpanjat

makna menghambur tinggi

 

kuterbawa dalam alun legenda

betapa kau dipuja insan sebagai pertanda

saksi dunia kita makin menua

dalam harap hidup damai kan tetap terjaga

oh, engkau merapi

 

hadirmu memberi

kesuburan sekitar

dari masa ke masa

tetap tegar berdiri

dingin penuh wibawa

 

(Dari Lagu Katon Bagaskara)

 
1 Comment

Posted by pada 5 November 2010 in Puisi

 

Kaitkata:

Amsal Sebelum Akhir

menyemai benih di ruang gaibMu
satu tumbuh
lainnya jatuh
demikianlah, semua mengalir di muara takdir
hanya satu benih, penyunting permaisuri
:akukah benih sempurna itu?

jutaan saingan berlepasan di lain rahim
hanya satu pilihan: benarkah aku tersempurna?
persaingan abadi, benarkah tercipta saat lontaran pertama?
persaingan antarsaudara, benarkah kita memilikinya?
persaingan dunia: antara darah dan nanah
maka bertumbuhlah tunas-tunas itu

menyemai benih di ruang gaibMu
aku amsal sebelum akhir

 
1 Comment

Posted by pada 2 November 2010 in Puisi

 

Kaitkata:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.