PADANG KOTAKU

rinai menggigilkan keluh, duhai kotaku
saat tangis pecah usai gelegar gempa
terpaku aku di layar kaca
padang kotaku, luluh dalam tangis dan air mata
masih terkenang masa-masa indah itu
menikmati sunset di damar plasa
meresapi udara taman budaya
mencicipi kripik balado di kampung cina
naik turun bus kota yang lelah pulang kuliah
padang kotaku
hari ini jelitamu
hari ini indahmu
berganti tangis lirih saluang dan bansi
dimana kudapat [...]

Pertemuan

tak hanya seperti masa lampau, kita kembali mengulang
cerita lama yang selalu saja terbengkalai
lewat pertemuan yang tak pernah direncanakan
kita kembali mengulang tahun-tahun pergantian
sementara binar matamu masih memenjara
dan berkisah tentang bunga-bunga di taman
pertemuan; selalu kukenang dan kujelang
cerita yang belum selesai, lembaran-lembaran hari
berjatuhan seirama dendang
dan kau bertanya tentang perjalanan sebuah sajak
yang kau baca dan simpan di batas [...]

Saatnya Meluahkan Kata-kata

saatnya meluahkan kata-kata
penuh busa
dalam lautan asa
saatnya meluahkan kata-kata
pikatan janji
dalam gapaian awan
saatnya meluahkan kata-kata
jadikan pesona
di bingkai pemilu

di ujung dan pojokan sana
siapa yang peduli
langkah-langkah memberati pundak
dengan kemiskinan yang digombali?
Sumber gambar: www.inilah.com

PRITA

ingin kuungkai kata di kertas beraroma mawar
di antara fajar yang berpijar
ingin kusapa pagi dengan harapan
tatkala mentari menatap enggan
surat yang kau tulis
menggetarkan darah
mendeburkan air mata
lewat haru yang mendera
dan bila esok mentari masih berpijar
kuingin kabarkan pada dunia
tentang kesewenangan
tentang ketidakadilan
tentang kata yang dibungkam
masihkah kita temukan nurani lugu
berlagu dengan harapan-harapan?
kata orang, ini negeri hukum
kata orang, ini negeri penuh peradaban
tapi [...]

Puisi Saat SMA

Puisi ini saya tulis saat masih duduk di bangku SMA Sungai Limau. Sebuah SMA yang terletak di pinggir laut di Kabupaten Padang Pariaman. Saat istirahat bersama teman-teman penulis lebih sering memanfaatkannya duduk di bawah pohon pantai, menikmati angin, ombak, dan nelayan.
Puisi lama yang sempat terdokumentasi, tahun 1989 saat saya kelas 2 SMA, sekitar 20 tahun [...]

Ini Kota Milik Siapa untuk Siapa (Di Antara Laju Bus Kota)

ini kota milik siapa untuk siapa
ribuan kendaraan meluncur dalam jutaan pasang mata
ini kota riuh siapa punya
berderap langkah di antara rumah mewah
yang tak habis-habisnya

ini kota milik siapa untuk siapa
bus kota yang berangkat selalu sarat
dan copet ada di mana-mana. orang-orang
berdesakan dan berimpitan. gadis-gadis
berteriak histeris (entah senang, entah kaget
entah ngeri) dalam laju bus kota yang
menyebabkan mereka berimpitan dada [...]

KEMATIAN ITU

maut itu, katamu
jalinan bisu dalam riuh suasana
nyanyian paling pilu di bingkai cerita
:apa kabar malaikat izrail?
maut yang kau antarkan di senja ini
meredupkan cahaya di mendung cuaca
apa kabar negeri impian?
kuingin ruhku merindu dalam geliat musim
dan bila kumati esok hari
di gerbang janji tetap kunanti
dirimu dalam sendiri

KESAKSIAN

I
akhirnya begitulah
waktu bermain dalam tipakan sumbang
matahari telah lelehkan pertarungan demi pertarungan
suara dibeli dengan harga yang teramat murah
“ini lima ribu,
jangan lupa contengan saya ya…”
demikianlah
langkah membekas di alunan subuh
tebaran rupiah pesonakan harga
untuk sebuah kursi, pertaruhan adalah hal pasti
“sudah conteng saya cak?”
II
kesaksian ini kutulis dalam ketakberdaya
serangan gerilya di pagi yang tak bermata
alunan lantunan Ilahi telah butakan hati
“hayya ‘alal [...]

SURAT CINTA

:inspirasi tulisan mbak rindu
surat cinta itulah yang mengingatkan kembali
perjalanan sepasang pipit bermain ombak
di senja yang mendung dan amis
surat cinta itulah
nyanyian rindu berbantun-bantun
menelusup dalam aroma menggelora
menyisakan senandung lirih
di perjalanan pengarifan
surat cinta yang kau terima
gelora senja di antara permainan ombak
dalam impian semusim
yang lena oleh buaian kata-kata

Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela

:Goenawan Mohamad
pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela
angin pergi. malam kian mengalahkan cahaya
rembulan tak muncul. wajahnya hilang ditelan awan
dan kau menatap. sejenak, sebelum akhirnya berlalu
pohon-pohon pun berbagi sepi di luar jendela
sungai-sungai mendesir. kabut turun. secebis-secebis
bintang tak bercahaya. angin menusuk dari belakang
dan di tikung itu, sejenak, masih ada pandang
tak lama, bayangmu pun menghilang
pohon-pohon pun berbagi sepi [...]