RSS

Harus Naik Kelas

18 Jun

Pada awalnya, rapat kenaikan kelas berlangsung biasa-biasa saja. Namun ketika harus memutuskan naik atau tidaknya seorang siswa (sebut saja namanya Doni), terjadilah perdebatan yang panjang. Beberapa guru dengan berbagai argumennya berusaha mempertahankan agar Doni tidak naik kelas. Di sisi lain, wali kelas dan beberapa guru lainnya mendukung agar sang anak yang sedang diperdebatkan itu naik.

Alasan dari guru-guru yang mempertahankan agar Doni tinggal kelas sangat jelas. Dalam kesehariannya, sang anak terkenal nakal, suka mengusili teman, dan beberapa kali bolos sekolah. Rata-rata nilai akhlak dan kepribadiannya pun tidak mencapai B sebagai salah satu persyaratan kenaikan.

Di sisi lain, dengan alasan wajib belajar 9 tahun, guru-guru yang merasa kasihan dengan nasib Doni berusaha semaksimal mungkin agar Doni tetap bisa naik. Di samping itu, diharapkan saat pengambilan rapor oleh orang tuanya, wali kelas bisa menyampaikan pesan-pesan agar Doni bisa lebih baik nantinya.

Bagian Kurikulum yang memimpin rapat kenaikan kelas itu pun tidak bisa memutuskan, karena dua kubu sama-sama kerasnya. Pada akhirnya, ia pun menyerahkan persoalan itu pada kebijakan Sang Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah pun tersenyum dan setelah itu barulah angkat bicara. “Saya minta guru BK menyampaikan latar belakang Doni sebelum anak itu kita putuskan naik atau tinggal kelas.”

Guru BK terkesiap. Ia pun kemudian membuka lembaran data Doni dan mulai membacakannya. Doni anak desa yang rumahnya cukup jauh dari sekolah. Berangkat ke sekolah berjalan kaki, terkadang menumpang dengan temannya yang membawa kendaraan. Ia beberapa kali dipanggil ke ruang BK terkait beberapa pelanggaran, antara lain berkelahi dengan temannya, pakaian tidak rapi, dan beberapa kali bolos sekolah.

“Anda sudah melakukan home visit?” tanya Kepala Sekolah.

“Sudah, Pak. Dua kali dalam semester ini.”

“Lalu bertemu orang tuanya?”

“Tidak Pak. Saya hanya bisa bertemu dengan neneknya.”

Sang Kepala Sekolah kemudian menganggukkan kepala. Suasana menjadi sunyi. Para guru menunggu fatwa yang akan keluar dari mulut kepala sekolah.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, ada hal yang belum saya dengar dari tadi perihal anak kita, Doni. Ketahuilah, saya juga sudah berkunjung ke orang tuanya. Kalau guru BK sudah melakukan kunjungan rumah dua kali, Alhamdulillah saya sudah tiga kali ke sana.

Di samping itu, saya sudah mengetahui seperti apa anak ini. Dia sudah ditinggalkan bapaknya sejak usia 6 tahun. Anak yatim. Dibesarkan oleh neneknya. Bila kemudian ia menjadi anak yang nakal, suka bolos, dan sebagainya, ini bukan salah dia. Ini tugas kita, karena kitalah sekarang orang tuanya. Bapak-bapak dan Ibu-ibulah sekarang sebagai orang tuanya, di sekolah dan luar sekolah. Alangkah berdosanya kita bila kita menyia-nyiakannya.

Nah, bila anak itu selama ini dianggap nakal, sudahkah Bapak-bapak dan Ibu-ibu maksimal dalam mendidiknya.?”

Suasana menjadi diam. Tak ada yang berani angkat bicara.

“Baik. Saya putuskan, untuk anak yang bernama Doni naik kelas. Bila ada yang tidak setuju, silakan disampaikan.”

Sesaat diam. Sejurus pun diam. Tak lama, rapat pun selesai.

About these ads
 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2011 in Esai, Jurnalistik, Lain-lain, Pendidkan

 

Tag: ,

16 responses to “Harus Naik Kelas

  1. edratna

    19 Juni 2011 at 06:38

    Saya terharu membaca ini….

    Saya ingat cerita adik saya, dosen UNDIP..
    Ada anak yang setiap kali datang terlambat, usut punya usut, dia harus membantu ayahnya dulu, kemudian naik sepeda ke UNDIP, karena keuangannya terbatas padahal jarak rumah dan Kampus lebih dari 20 km…..
    Dosen akhirnya mengusahakan mahasiswa tersebut mendapat beasiswa, dan sejak itu dia menjadi mahasiswa teladan…kita memang tak bisa hanya memutus berdasarkan apa yang kita lihat saja.

     
    • Zulmasri

      19 Juni 2011 at 10:28

      terus terang, cerita ini saya tulis berdasarkan kenyataan di sebuah sekolah. Seorang anak, yang ternyata sudah menjadi yatim hampir saja tidak dinaikkan lantaran tidak memenuhi kriteria kenaikan kelas. Namun dengan pertimbangan yang bijak, akhirnya sang anak bisa naik.

       
  2. Ihfazhillah

    19 Juni 2011 at 09:08

    Kenakalan anak kadang tidak berasal asli dari diri anak itu sendiri ya pak? Kadang malah lebih di dominasi oleh lingkungan atau faktor keluarga

     
    • Zulmasri

      19 Juni 2011 at 10:30

      Ya, benar. Malah faktor keluarga berperan besar dalam tumbuh kembangnya seorang anak

       
  3. nh18

    19 Juni 2011 at 12:10

    Uda Mas Zul …
    Saya rasa banyak Doni-Doni yang lain bertebaran di Indonesia ini …
    Adalah tantangan kita semua agar menjadikan Doni-Doni tersebut lebih bisa madiri di masa yang akan datang

    sungguh sangat dilematis jika membandingkan prestasi dan kelakuan di sekolah dengan kondisi keluarga yang melatar belakanginya

    Jika saya jadi Guru atau Bahkan Kepala Sekolah itu …
    Niscaya … saya akan menghadapi pilihan yang sulit …
    Dan saya salut pada Kepala Sekolah … yang sungguh concern dengan salah satu peserta didiknya …

    salam saya Uda Mas Zul

    (aaahhh rasa-rasanya sudah lama saya tidak memanggil seseorang dengan sebutan seperti ini )
    hahahaha …

     
    • Zulmasri

      19 Juni 2011 at 14:37

      Ya, sebenarnya dibutuhkan kebijakan dalam kasus seperti Doni di atas Pak NH. Ketidakberhasilan Doni sama saja dengan ketidakberhasilan para guru, kenakalan Doni sama artinya dengan ketidakberhasilan para guru dalam mendidiknya. Mestinya filosofi dengan mengetahui latar belakang murid dimiliki para guru. Jelas sekali, perhatian kepada anak yatim harus melebihi yang lain. Para guru adalah orang tuanya secara langsung, suka atau tidak suka.

      Kangen dengan panggilan Pak NH: Uda Mas Zul. Ok, Pak trainer, terima kasih

       
  4. Deni Kurniawan As'ari

    19 Juni 2011 at 12:42

    kasus demikian sering terjadi hampir di sebagian sekolah pak zul…
    tugas guru sesungguhnya begitu berat ya…

    Ternyata pak kasek oke…hehe

     
    • Zulmasri

      19 Juni 2011 at 15:15

      Iya Pak Deni. Menjadi guru yang baik itu jelas sangat berat, tetapi menjadi kepala sekolah yang bijak, jauh lebih berat

       
  5. marshmallowsays

    19 Juni 2011 at 17:27

    benar sekali bahwa urusan guru sekolah tak sebatas mengajar, namun juga mendidik, uda. dan untuk kasus murid badung, berkaca dari pengalaman pribadi, rasanya perlakuan lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh bagi kemajuan si anak. bila lingkungan mendorong untuk maju dengan memberikan penghargaan yang tepat, saya pikir akan lebih mendidik ketimbang dengan memberikan hukuman. kondisi demikian menurut hemat saya akan membantu untuk menciptakan positive attitude. kisah yang bagus, uda.

     
    • Zulmasri

      19 Juni 2011 at 18:57

      Terima kasih uni hemma. Apa yang uni katakan benar sekali. Sama seperti tulisan uni di blog uda Vizon itu.

       
  6. Ikkyu_san

    23 Juni 2011 at 16:16

    ah…aku kagum pada pak Kepsek yang bahkan lebih mengerti kondisi Doni drpd guru BK nya :)
    Beliau memang pantas menjadi Kepsek.

    EM

     
    • Zulmasri

      23 Juni 2011 at 21:50

      benar mbak imel. setahu saya kepseknya benar-benar memberi teladan. datang ke sekolah pukul 06.30 dan pulangnya pukul 16.00. Para guru dan TU lebih dianggap sebagai saudara dibanding bawahan

       
  7. gantenks

    12 Januari 2012 at 04:54

    Subhanallah,, sungguh bijak keputusanmu pak. Acungkan semua jempol kita buat bapak kepala sekolah yang bijak itu.

     
  8. Anonymous

    23 Mei 2012 at 06:52

    Subhanallah, hari gini masih ada Kepsek yang berhati mulia semoga jadi teladan buat yang lain .Izin pak sy berbagi ceritanya….

     
  9. Anonymous

    6 Januari 2013 at 08:47

    ASS..,mbo acuangan jempol ntuk pak kepsek nco itu….,BIJAKSANA

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: